Erdogan adalah salah satu tokoh di luar sana yang sering membuat kalangan titik-titik seperti kehilangan kewarasannya. Oleh mereka, apa pun yang dilakukan oleh Erdogan, baik di dalam negeri maupun tindakan luar negerinya, selalu dipuji dan dibela, dengan “cita rasa tertentu” pula. Parahnya, bahkan mereka membanding-bandingkan sosok ini dengan Jokowi secara nyinyir.

Ketika Erdogan pernah berkunjung ke Indonesia beberapa bulan lalu, di antara mereka ada yang sampai bilang seperti ini, “Kalau saja Turki mau meminjamkan Erdogan untuk memimpin Indonesia.” Maksudnya, saking titik-titiknya mereka kepada Erdogan sampai-sampai mereka seperti ingin dipresideni oleh Erdogan.

Tentu saja ini aneh. Terlalu, kata Bang Haji Rhoma. Memangnya, dibandingkan dengan Presiden Jokowi, Erdogan itu siapa?

Di kalangan titik-titik, memang ada yang terpapar ilusi dengan membayangkan seolah-olah Erdogan adalah seorang khalifah yang memerintah dari Turki. Mereka membayangkan, bahwa dengan tampilnya Erdogan menjadi pemimpin Turki dalam dekade ini, kekhilafahan Utsmaniyah seakan hidup kembali, dan mereka siap serta bangga menjadi rakyat Erdogan. Mengapa saya sebut ini ilusi? Ya coba saja periksa KTP mereka. Mereka masih sebagai WN Indonesia, tetapi kekaguman hatinya untuk Erdogan plus rasa kagum atas mitos-mitos mengenainya.

Sebenarnya, rasa kagum kepada seseorang itu wajar saja. Setiap orang, termasuk saya dan Anda, pasti memiliki kekaguman kepada orang per orang, baik tokoh domestik maupun luar negeri. Hanya saja, kagumlah secara proporsional. Dan lihat dengan seksama di bumi mana kakimu sekarang berpijak. Kagum boleh, dan itu wajar. Tapi jangan sampai terpapar ilusi dan mitos-mitos.

Dulu, sekitar 10 tahunan lalu, saya pernah menulis sosok Erdogan sekilas dalam buku saya yang berjudul BER.BEDA, diterbitkan oleh penerbit OASE. Sedikit tulisan apresiatif rentang Erdogan dan partainya, AKP, saat ia baru saja menjadi Perdana Menteri Turki. Saat itu presidennya adalah Abdullah Gul. Saya sempat menilai sosok Erdogan secara positif dan apresiatif. Namun, makin ke sini, saya makin paham, bahwa penilaian saya saat itu terkoreksi banyak sekarang.

Erdogan memang pintar. Dulu, ketika ia menjadi Perdana Menteri, peran PM sangat besar dan sentral. Kekuasaan Turki ada di tangannya. Bagaimana dengan Presiden Abdullah Gul? Sekalipun sebagai presiden, Gul tidak banyak berperan. Kemudian, ketika jabatan sebagai PM tidak bisa ia perpanjang lagi, Erdogan pun menjadi presiden.

Dan, inilah kepintaran Erdogan, saat ia menjadi Presiden, justru Presidenlah yang memegang kendali kekuasaan di Turki. Tidak terdengar lagi peran Perdana Menteri –entah masih ada atau tidak posisi itu sekarang. Artinya, penguasa Turki tetap dia sendiri. Saat menjadi Perdana Menteri, ia yang berkuasa atas Turki, bukan Presiden. Dan saat menjadi Presiden, ia pula yang berkuasa, bukan Perdana Menteri.

Sejak dipimpin oleh Kamal Attaturk, Turki adalah negara sekuler. Sekarang pun, di bawah Erdogan, Turki terus dikukuhkan sebagai negara sekuler. Sekularisme adalah jalan hidup Turki hingga saat ini, dan itulah yang dinyatakan oleh Erdogan.

Lagi-lagi anehnya, sekalipun Turki sekuler, kalangan titik-titik di sini justru mengilusikan Erdogan sebagai pemimpin Turki Islam. Mereka seperti tidak mau tahu kenyataan bahwa Turki itu sekuler. Lebih dari itu pula, dalam ilusi mereka, Erdogan adalah representasi Islam. Ilusi mereka makin terbuai salah satunya karena isteri Erdogan berjilbab. Biasa, hal simbolik seringkali lebih membuai ketimbang kenyataan.

Saya belum mau menulis banyak tentang Turki aktual sekarang-sekarang ini, negeri yang sempat diterpa isu “kudeta militer” yang sangat singkat, malam Sabtu 16 Juli 2016 yang lalu… Kudeta yang memperlihatkan betapa “lugunya” militer sebuah negara yang konon mileternya kuat dan hebat di Asia-Eropa itu. Negara yang –bersama Saudi pimpinan Salman, Qatar dan negara-negara Barat dan AS– telah turut terlibat menghancurkan sebuah negara merdeka dan berdaulat, yakni Suriah pimpinan Bashar Assad yang masih konsisten mendukung Palestina, mempersenjatainya dan memberi Hammas kantor di Damaskus dan membiayainya. Dan Suriah yang dulu damai dan makmur di bawah Bashar, kini hancur dan berkubang prahara.

Erdogan jelas sangat berbeda dengan Bashar Assad. Ini pula yang kian memperlihatkan ketidakwarasan orang titik-titik itu. Sekalipun bekerjasama dengan Israel, Erdogan dianggap oleh mereka sebagai pembela Palestina dan representasi Islam. Sebaliknya, sekalipun berkonfrontasi dengan Israel dan konsisten membantu Hammas secara konkrit, namun Assad justru mereka anggap sebagai pembela Israel, disyiahkan, lalu atas nama jihad, orang-orang asing yang dipersenjatai berbondong-bondong memasuki Suriah dan menghancurkannya. Parahnya lagi, sesudah itu, mereka lalu melemparkan tuduhan penghancuran itu kepada Assad.

Ya, begitulah Erdogan dan Turki. Inilah negeri yang awal tahun 2000 an harum karena sosok Harun Yahya yang CD-CD ilmu pengetahuannya sangat bermanfaat dan fenomenal di negeri ini. Saat itu, Harun Yahya booming dan fenomenal di negeri ini. Ingat CD tentang ilmu pengetahuan, yang terbayang adalah CD produksi Harun Yahya yang bernama asli Adnan Oktar itu.

Inilah negara yang kini sinetronnya banyak tayang di TV di sini, yang ceritanya sama saja dengan sinetron-sinetron lainnya (Indonesia, India, Korea) tentang percintaan, perselingkuhan, kemunafikan, kedengkian, paha dan dada wanita. Tetapi bagi kalangan titik-titik, menonton sinetron ini seperti ada cita rasa ibadahnya.

Inilah negara yang sudah lama memiliki hubungan diplomatik dan bisnis dengan Israel sejak lama hingga sekarang. Kedubes dan konjen Israel ada di Turki (Istanbul dan Ankara), dan kedubes-konjen Turki pun ada di Israel (Tel Aviv dan Yerussalem).

Bahkan belum lama ini Erdogan telah menegaskan normalisasi kembali hubungan Turki dengan Israel karena pentingnya Israel bagi Turki, dan Turki bagi Israel. Lagi-lagi, dengan fakta ini pun ketidakwarasan belum juga bergeser. Mereka tetap mengilusikan Erdogan sebagai pembela Palestina dan musuh Israel.

Sekarang ini, di mata kalangan titik-titik di Indonesia, Turki diihat berbeda dengan Indonesia. Turki di bawah Erdogan dilihat dengan kekaguman, sementara Indonesia di bawah Jokowi dilihat dengan nyinyir dan serba salah.

Menjelang dua tahun masa pemerintahannya, belum lama ini, Jokowi ini resmi membuka Konjen (Konsulat Jenderal) Indonesia di Palestina. Ia juga tetap konsisten tidak berjabat tangan dengan Israel. Pembukaan Konjen Indonesia di Palestina adalah wujud riil dan kongkret dukungan Indonesia kepada Palestina, yang belum pernah dilakukan oleh presiden-presiden sebelumnya. Jokowi adalah pioneer tentang Palestina. Bahkan saat menjadi walikota Solo, ia mengundang timnas Palestina bermain di Solo.

Bagaimana dengan Turki? Di bawah Erdogan, justru Turki menegaskan bahwa Israel membutuhkan Turki dan Turki membutuhkan Israel. Turki juga menormalisasi hubungan setelah adanya ketegangan. Dan itu dinyatakan langsung oleh Erdogan dalam sebuah pernyataan di atas podium. Coba juga sebutkan apa yang sudah dilakukan oleh Erdogan terhadap Palestina? Bandingkan dengan dukungannya kepada para pemberontak dan ISIS di Suriah.

Nah, dalam kaitannya dengan Palestina dan Israel saja, apakah Erdogan sebanding dengan Jokowi? Jelas tidak setara. Tidak apple to apple. Tidak jengkol to jengkol. Tidak onta to onta. Tidak selevel. Seharusnya mereka itu bangga dengan Jokowi yang jelas dan kongkrit mendukung dan memperhatikan Palestina. Tetapi ternyata tidak. Mereka tetap nyinyir pada Pakde.

Dan, untung bagi Erdogan. Karena, sekalipun begitu ia tetap dianggap oleh kalangan titik-titik di sini sebagai pembela Palestina dan pembela Islam. Sebaliknya, malang bagi Jokowi. Karena, sekalipun begitu ia tetap dianggap oleh kalangan titik-titik itu sebagai antek asing dan aseng. Untungnya Pakde cuek dengan kenyinyiran mereka, dan fokus kerja kerja kerja.

Begitulah Turki, negara yang membuka pangkalan militer AS di wilayahnya sejak lama hingga sekarang. Sesuatu yang tidak (tidak akan) dilakukan oleh Indonesia tercinta ini. Sekalipun begitu, oleh kalangan titik-titik, Turki tetap dianggap sebagai negara yang ditakuti AS dan Barat.

Sebenarnya banyak yang bisa diulas tentang negeri seribu menara ini, Turki. Tentang kudeta Juli lalu yang kata orang-orang disebut sebagai kudeta-kudetaan. Tentang penembakan jatuh pesawat Rusia di zona udara Suriah. Tentang kepanikan Erdogan akibat kekalahan para pemberontak Suriah dan ISIS yang ia dukung dan sekarang kehilangan banyak wilayah di Suriah dan Irak. Dan, yang terbaru, tentang pembunuhan Dubes Rusia untuk Turki di sebuah acara pameran di Turki, oleh orang Turki.

Juga tentang isteri Erdogan yang menggendong anak kecil pengungsi Rohingya yang oleh kalangan titik-titik dijadikan hoax sebagai kunjungan isteri Erdogan ke Indonesia dan ia sengaja menemui para pengungsi Rohingya di Indonesia. Padahal, saat itu, Erdogan dan isterinya belum berkunjung ke Indonesia. Tetapi oleh mereka, penggendongan anak itu diilusikan terjadi saat kunjungan Erdogan ke Indonesia.

Apa yang mereka inginkan dengan ilusi ini? Biasa. Mereka sedang nyinyir kepada pemerintah yang dianggap tidak membantu pengungsi Rohingnya, sambil nebeng iklan untuk memuji Erdogan dan isterinya. Bagi mereka, menyebut Erdogan dengan kekaguman sepertinya dianggap sebagai sebuah ciri keislaman dan kecintaan kepada Islam.

Ya, begitulah ilusi. Ilusi itu bebas. Dan namanya juga ilusi, tentu saja tidak faktual. Bagaimana pun, silakan saja kalau masih ingin menikmati ilusi indah penghibur diri. Yang jelas, Jokowi memang bukan tandingannya Erdogan. Erdogan sudah lama memimpin Turki. Sedangkan Jokowi baru dua tahun saja.

Kaum titik-titik boleh saja mengagumi Erdogan sampai sebegitunya. Tetapi di luar sana, masyarakat dunia sudah mengagumi Jokowi sebegitu rupa. Bahkan di Hongkong, Jokowi dibuatkan patung lilin bersama Obama dan lainnya, dan tanpa Erdogan. Di negeri orang, foto Jokowi juga terpampang sebagai gambar di bis.

Masih dibuai mimpi dan ilusi tentang Erdogan? Silakan saja. Tetapi, sampai kapan ilusi mengendalikan pikiran dan kewarasan?

25 Desember2016

Ashoff Murtadha

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.