Jokowi dan Cara Mudah Memahami Suriah

Apa pendapatmu tentang Aleppo dan Suriah secara umum, juga Bashar Assad secara khusus?

Tidak usah heran, pertanyaan ini jebakan, sekaligus cara untuk mengetahui keberpihakan orang yang ditanya tentang tragedi di Suriah. Ujung-ujungnya, pertanyaan ini juga bisa digunakan untuk mengetahui apakah penjawabnya Muslim atau tidak (Islam menurut kriteria kaum titik-titik).

Kita sama-sama tahu, bahwa di kalangan kaum titik-titik, Bashar Assad dituding sebagai Syiah yang sebelumnya sudah mereka sesatkan, dituding sebagai biang keladi kehancuran massal, air mata, darah yang membanjir, dan luka yang menganga di sana.

Karenanya, jika Anda menjawab dengan jawaban yang tidak sesuai pikiran mereka, atau tidak senafas dengan yang mereka ilusikan, bersiap-siap saja Anda akan menerima tuduhan negatif. Mungkin Anda akan dituduh Syiah, atau setidaknya bersimpati kepadanya. Bahkan mungkin juga Anda akan tertuduh sebagai orang munafik, atau pembela kafir, pembela penindas, atau lainnya. Masih untung jika Anda sekadar dibully sebentar.

Akhir tahun 2016 ini adalah waktu yang sangat membahagiakan bagi rakyat Suriah. Setelah bertahun-tahun prahara membara, pengungsian besar-besaran warga, kehancuran infrastruktur di mana-mana, pembunuhan di mana-mana, di rumah dan jalan raya, untuk waktu yang sekian lama, kini harapan rakyat Suriah kembali menyala.

Sudah banyak wilayah yang sebelumnya dikuasai pemberontak, kini sudah berpindah dikuasai lagi oleh Bashar. Yang terbaru adalah kembali dikuasainya Aleppo, yang sempat heboh beberapa hari lalu. Disebut heboh, karena para pemberontak yang sudah kalah itu dan para pendukung multinasionalnya –termasuk di sini—ribut memviralkan tagar Save Aleppo.

Dengan kembalinya Aleppo ke tangah pemerintah, sebenarnya itu berarti Aleppo sudah selamat kembali ke tangah yang berhak dan berwenang. Harusnya –jika memang mereka mendukung kedamaian bagi rakyat Suriah– bukan menslogankan Save Aleppo, tetapi semestinya bersyukur bahwa Aleppo Saved sekarang karena sudah dikendalikan lagi oleh pemerintah. Aleppo yang sempat dirampas sekian tahun oleh para pengacau dan penghancur itu kini telah kembali ke tangan pihak yang berhak.

So, pada saat Aleppo sudah selamat kembali ke tangah pemerintah sehingga pemerintah bisa segera menata kembali kota, mengapa mereka berteriak Selamatkan Aleppo? Dan, ketika dulu Aleppo direbut dari pemerintah oleh pemberontak yang mengacaukan negeri, mereka tidak meneriakkan Save Aleppo.

Sebenarnya apa sih yang mereka inginkan dengan kondisi Suriah yang sekarang hampir seluruhnay sudah kembali lagi ke tangan pemerintah? Yang mereka inginkan itu, kedamaian bagi rakyat Suriah, ataukah kekacauan dan penghancuran bagi rakyat Syam itu?

Memahami kondisi Suriah dalam beberapa tahun terakhir ini, memang ada dua arus yang berlawanan. Arus yang pertama memandang bahwa prahara Suriah disebabkan oleh Bashar Assad dan pemerintahannya. Ini adalah arus utama, mainstream, baik di negeri ini maupun di dunia internasional.

Sedangkan arus yang kedua memandang sebaliknya, yakni bahwa tragedi dan kekacauan ini disebabkan oleh para pemberontak yang didukung dan didanai oleh negara-negara tetanggga (Saudi, Qatar dan Turki) plus AS, Israel dan Barat. Arus ini kecil saja, termasuk di Indonesia. Nah, orang-orang yang berpikir dengan cara pandang arus kedua inilah yang sering dituduh oleh kalangan titik-titik dengan tuduhan dan cap negatif.

Jika Anda melihat berbagai foto, video, juga tulisan yang menggambarkan kehancuran dan kengerian di Suriah dengan embel-embel bahwa pelakunya adalah Bashar Assad, berarti itu bersumber dari kalangan mainstream yang mendukung pemberontak dan teroris itu.

Tentu saja, oleh kalangan non mainstream, berita-berita dari kalangan mainstream itu di-counter dan ditelanjangi. Misalnya, bahwa foto-foto yang disebarkan itu hoax, palsu, tidak terjadi di Suriah (melainkan di berbagai belahan dunia lain yang dijuduli Suriah Bashar), dan lain sebagainya.

Selama sekian tahun, media-media di negeri kita dipenuhi oleh adu opini tentang Suriah. Cukup keras dan menguras energi juga. Bagi kalangan lain, cukup membingungkan dan memusingkan, sehingga akhirnya mereka memilih berkata, “Enggak tahu lah, mana yang benar. Bingung saya. Kata ini, itu yang benar. Kata itu, ini yang benar.”

Oke, sekarang sudah berlalu. Semoga Suriah sekarang kembali damai dan menata lagi kemakmuran dan kebanggaannya yang sempat dihancurkan.

Tetapi sebenarnya, untuk memahami tragedi Suriah itu ada cara yang sangat mudah. Kita tidak perlu rumit berpikir dengan banyak teori dan data-data yang belum tentu benar adanya. Untuk urusan data dan fakta, dan lain sebagainya yang serius, biarlah urusan para peneliti dan pemerhati yang betul-betul tulus untuk mencari kebenaran di balik bencana kemanusiaan ini.

Sedangkan bagi kita yang awam, yang memiliki keterbatasan akses, keterbatasan dalam kemampuan memilah data, menganalisa dan mengambil kesimpulan, cara mudah ini bisa dijadikan pijakan. Cara ini mudah dimengerti, karena logis dan make sense.

Mungkin nanti ada yang bilang, bahwa pemahaman ini tidak berbasis data dan pengetahuan lengkap. Ya, saya tegaskan lagi, di bawah ini adalah tentang cara mudah memahami Suriah, dan bukan sedang memperlihatkan data-data dan analisis mengenainya. Untuk yang rumit-rumit, itu urusan para peneliti dan pemerhati yang tulus mencari kebenaran. Sedangkan di sini, kita hanya menyampaikan cara mudah memahami Suriah, gak pake ribet, gak pake rumit.

Berpikir Mudah dan Sederhana

Begini…

Sederhana saja cara berpikirnya. Dulu, Suriah itu aman, damai, dan sedang terus membangun. Bukan hanya itu. Tidak hanya memikirkan negerinya sendiri. Di bawah pemerintahan Bashar Assad, bahkan Suriah tetap konsisten membantu perjuangan Hammas, memberinya kantor di Damaskus dan membiayai seluruh kebutuhannya.

Lalu, sejak kapan Suriah mulai hancur dan bersimbah bencana kemanusiaan? Kehancuran Suriah segera terjadi setelah ada pemberontak dalam negeri yang didukung dan didanai negara-negara tetangga (Saudi, Qatar, dan Turki), juga AS, Israel dan Barat, dan para petempur dari berbagai negara yang merasa sedang berjihad.

Sejak itu, sejumlah wilayah Suriah direbut pemberontak. Banyak penduduk mengungsi besar-besaran. Air mata tumpah, darah mengucur melimpah. Jiwa-jiwa terbunuh dan terluka. Infrastruktur dihancurkan, bangunan diledakkan. Berbagai peninggalan bersejarah dibumihanguskan. Sejak saat itulah, kedamaian dan keamanan direnggut dari rakyat Suriah. Tragedi kemanusiaan membara dan meluas.

Nah, mengapa tiba-tiba sebagian (besar) orang mempropaganda bahwa kehancuran dan prahara itu dilakukan oleh Bashar? Sebelum itu Bashar hanya membangun. Dan penghancuran terjadi setelah terjadi pemberontakan yang dibeking kekuatan multinasional. Kok yang dituduh melakukan penghancuran itu Bashar dan pemeritahannya? Lha, di mana letak logisnya?

Itu khan sama saja dengan menuduh jahat kepada seseorang yang berusaha mengambil kembali rumahnya setelah dikuasai perampok sekian lama. Ketika rumah itu hancur setelah perampasan, masak Anda menyalahkan pemilik rumah. Lalu, ketika pemilik rumah berhasil mengambil kembali rumahnya, Anda berteriak kepada para tetangga agar selamatkan rumah itu? Coba bertanyalah kepada hati yang paling dalam, “Cara berpikir seperti itu, waras tidak?”

Sekarang, pemerintah yang sah telah mengambil kembali kota-kota dari para pemberontak, salah satunya Aleppo. Warga Suriah tentu saja gembira. Dan harapan untuk kembali damai dan aman, terbuka di depan mata. Kita pun, jika memang benar-benar bersimpati kepada rakyat Suriah yang sedang menginginkan perdamaian, seharusnya turut berbahagia dengan kondisi ini.

Bukan malah sebaliknya. Mengapa teriakan Save Aleppo justru ramai? Bukankah dengan kembalinya Aleppo ke tangan pemerintah berarti Aleppo telah kembali kepada yang berhak, sehingga keamanan, kedamaian, dan pembangunan bisa segera diwujudkan?

Aneh, saat Aleppo kembali kepada pemerintah, kok malah berteriak Save Aleppo? Itu khan teriakan yang seirama dengan kemarahan dan kekesalan AS, Barat, Israel dan sejumlah negera Timur Tengah yang telah terlibat dalam penghancuran negeri Suriah yang berdaulat.

Sebenarnya, siapa sih yang kalian bela? Rakyat Suriah, ataukah pemberontak yang menghancurkan Suriah itu? Apalagi sekarang ramai dibicarakan, setelah kekalahan para pemberontak, terungkap bahwa ternyata bantuan kemanusiaan yang digalang dari masyarakat Indonesia semisal oleh Indonesian Humanitarian Relief (IHR) itu ditemukan berada di gudang penyimpanan para pemberontak.

Artinya, kalau begitu, bagi kaum titik-titik, slogan Save Suriah atau Save Aleppo itu maksudnya Selamatkan dan Bantu Para Pemberontak, dan bukan membantu atau menolong rakyat Suriah yang sengsara. Cara berpikir ini tentu saja aneh. Masak kita diminta membantu pihak yang telah membuat kekacauan dan kehancuran?

Apalagi kemudian sempat ada desakan dari kalangan titik-titik agar pemerintahan Jokowi ikut membantu rakyat Suriah, namun yang mereka maksud dengan membantu itu adalah membantu pemberontak untuk menurunkan Bashar Assad yang dipilih secara demokratis oleh rakyatnya dengan kemenangan mutlak, lebih dari 80 persen. Ya tentu saja Jokowi tidak mungkin melakukannya. Memangnya Pakde ini tidak mengerti persoalan yang bisa dinilai dengan jelas bahkan dengan kacamata sederhana ini?

Kalangan titik-titik juga sempat nyinyir kepada pemerintah Jokowi ketika Jokowi melalui Menlu Retno menolak ajakan untuk bergabung dalam Aliansi Militer 34 Negara yang digagas dan dipimpin oleh Arab Saudi. Tentu saja Pakde tidak mau, karena melihat apa yang dilakukan oleh Saudi terhadap Suriah selama ini dan juga kepada Yaman, di mana Saudi memimpin koalisi untuk memerangi dan menyerang Yaman yang berdaulat dan merdeka, apa pun alasannya. Jika Indonesia ikut bergabung, maka Indonesia akan dimanfaatkan oleh Saudi untuk melakukan tindakan yang bertentangan dengan kemanusiaan dan kebijakan luar negeri Indonesia yang menghendaki perdamaian dunia.

Baiklah… Sekarang Aleppo dan kota-kota lainnya sudah kembali ke tangah pemerintah Suriah. Sebagai pecinta kedamaian, kita semua turut berbahagia dengan kegembiraan rakyat Suriah. Kemenangan rakyat Suriah ini seolah merupakan Hadiah Akhir Tahun 2016 sekaligus Awal Tahun 2017 yang sangat luar biasa.

Harapan agar Suriah kembali aman, damai, dan makmur semoga segera terwujud kembali. Sebab, dulu sebelum terjadi pemberontakan, Suriah itu aman, damai dan makmur. Maka, sekarang pun, semoga demikian. Karena, di mana pun negaranya, pemerintah yang sah-lah yang bertanggung jawab untuk mengurus, mengelola dan mengamankan negerinya.

Semoga tragedi kemanusiaan takkan terulang lagi, di Suriah dan di mana pun juga. Termasuk di Yaman yang tragedinya tidak terekspos dunia –apakah itu karena penghancurnya adalah koalisi pimpinan Saudi Arabia (?) Semoga kekerasan dan prahara kemanusiaan tidak menemukan tempatnya lagi, di mana pun. Karena fitrah kemanusiaan itu menghendaki kedamaian dan menentang kezaliman.

Dan Allah mendengar jeritan hamba-hamba-Nya yang teraniaya.

Kitu baraya, salam kemanusiaan…!

27 Desember 2016

AM

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.