Jangan Merasa Diri Mewakili Nabi

Puisi doa Neno yang dibacakan dalam Munajat 212 malam Jumat kemarin (21 Pebruari 2019) menggambarkan cara berpikir dan perilaku sebagian Muslim yang perlu disorot. Saya merasa perlu menulis mengenainya dengan harapan bisa jadi pelajaran bagi kita semua.

Sebenarnya inti dari puisinya itu adalah doa agar sosok yang ia dan sesamanya dukung, menang dalam Pilpres 2019 ini. Ini merupakan doa hajat politik. Sah-sah saja, sama dengan si calon yang mendoakan kesuksesan dirinya, sama dengan para caleg yang melesatkan doa hajat agar mereka terpilih dalam pileg.

Yang perlu disorot dari puisi doa Neno adalah konten doanya yang mencerminkan cara pandang yang buruk dalam melihat Tuhan, melihat diri dan pihak lain yang berbeda pilihan.

“Jika tak Kaumenangkan, kami khawatir ya Allah, kami khawatir ya Allah, takkan ada lagi yang menyembah-Mu.”

Kalimat doa di atas menjadikan kemenangan politik sebagai syarat keberlangsungan penyembahan kepada Allah. Jika mereka kalah, mereka khawatir Tuhan akan kehilangan para penyembah-Nya.

Siapa para penyembah yang dimaksud? Bisa pendoanya sendiri dan sesamanya. Bisa juga termasuk para penyembah lain selain mereka.

Jika yang dimaksud adalah Neno dan sesamanya, seolah mereka akan berhenti menyembah Tuhan jika mereka kalah. Jika itu yang dimaksudn, berarti selama ini mereka menjadikan politik sebagai syarat menyembah Tuhan. Syarat ini buruk.

Dan jika yang dimaksud para penyembah itu adalah semua Muslim di negeri ini (termasuk mereka dan selain mereka) maka apa hak mereka mengklaim sebagai wakil umat Muslim di negeri ini. Kalaupun hanya mereka yang berhenti menyembah Tuhan, silakan saja, itu akan jadi keburukan mereka sendiri. Tetapi jika mereka mengatasnamakan seluruh penyembah Tuhan di negeri ini, itu kesombongan. Para Mukmin lain merasa tidak terwakili oleh doa itu sedikit pun.

Perlu disadari bahwa Allah itu tidak membutuhkan mereka semua, tidak membutuhkan seluruh manusia bahkan semua semesta ini. “Wallahu ghaniyyun an al-aalamiin.” Justru makhluklah yang membutuhkan-Nya. “Allah Mahakaya, kalianlah yang fakir.” Disembah atau tidak oleh makhluk-Nya, Dia tidak terepotkan, tidak terganggu. Kekufuran seluruh makhluk takkan mengurangi nilai ketuhanan-Nya, ketaatan seluruh makhluk takkan menambah nilai ketuhanan-Nya.

Jadi, jika mereka mengancam Tuhan sebegitu rupa, lalu apa hak mereka. Apa pantas ancaman itu ditujukan dari mahkluk lemah kepada Penguasa semua wujud. Bahkan itu menandakan tidak sadar posisi di hadapan Tuhan. Bukan saja tidak sadar, tetapi juga kurang adab. Mengaku lemah tetapi memaksa dan mengancam Tuhan yang serbamaha.

Dalam adab berdoa, seseorang harus menempatkan dirinya sangat hina, merasa tidak memiliki ketaatan, malu menghadap-Nya, merasa sebagai pendosa, merasa sebagai orang yang tidak pantas memanjatkan doa, dan makna-makna lain semisal. Karenanya tidak dibenarkan baginya memiliki perasaan sebagai orang yang bertakwa, taat, dekat dengan-Nya, banyak amal, dan sejenisnya. Ujub dan takabur di hadapan Tuhan, merasa diri sebagai orang yang dicintai-Nya, malah jadi hijab pengabulan. Apalagi merasa di hadapan-Nya bahwa diri lebih baik daripada pihak lain. Memangnya Tuhan tidak tahu kualitas dan keburukan hamba-hamba-Nya?

Ada yang membela bahwa doa Neno seperti itu menyontek doa Nabi Saw saat Perang Badar. Diriwayatkan bahwa Nabi pernah berdoa bahwa jika pasukan Muslimin (yang sejumlah 313 orang) terbunuh semua dalam perang Badar ini, maka Allah takkan ada yang menyembah lagi.

Baiklah, kita anggap saja riwayat itu secara sanad dan matan benar dan sahih bahwa Nabi pernah berdoa demikian. Masalahnya, itu doa Nabi dalam perang Badar, perang antara pasukan Nabi (Muslim) melawan kaum kafir Quraisy. Lalu bagaimana bisa menyamakan kontes pilpres yang diikuti oleh para calon Muslim dengan perang Badar yang merupakan antara kaum Muslim dan kaum kafir? Dalam konteks ini, menyamakan diri dengan Nabi justru merupakan jenis lain keangkuhan. Neno itu siapa, sedangkan Nabi yang agung itu siapa. Orang-orang yang bersama Neno itu siapa, sedangkan orang-orang yang bersama Nabi itu siapa.

Lagi pula, kalangan yang tidak sepaham dalam politik dengan Neno dan sesamanya itu adalah umat Islam juga yang jumlahnya sangat besar. Sedangkan pasukan yang Nabi hadapi adalah orang-orang kafir. Bagaimana bisa menyamakan orang-orang Muslim masa ini dengan kaum kafir pada zaman Nabi?

Kalau Neno mengklaim diri dan sesamanya sebagai Muslim sedangkan Muslim-muslim lain sebagai kafir, maka cara pandang itu lebih buruk (salah) lagi. Itu cara berpikir kaum khawarij, yakni orang-orang baru dalam ber-Islam tetapi lancang mengkafirkan Sayyidina Ali bin Thalib dan sahabat-sahabat lain, bahkan memeranginya (dalam perang Nahrawan) dan membunuhnya kemudian.

Nama khawarij memang ada pada masa lalu. Tetapi cara berpikir dan perilaku mereka tetap ada dan menyebar. Fenomena mereka terlihat pada zaman ini, dalam jarak yang sangat dekat. Itu yang menjadi kekhawatiran umat Islam dewasa ini. Karenanya semoga cara pandang dan perilaku Khawarij yang keji itu tidak diteladani oleh para pengaku Muslim zaman ini di sini.

Dalam puisi doanya yang ditujukan kepada Allah, Neno menyebut junjungannya sebagai pemimpin terbaik, pasukannya sebagai pasukan terbaik, dan ia berharap nubuwwat kedua untuk barisannya.

Kembali pada adab berdoa, apakah kalimat itu pantas diucapkan kepada Allah yang Mahatahu segala rahasia manusia? Tentu saja Allah lebih tahu ketimbang siapa pun tentang orang per orang, tentang kelompok-kelompok manusia, tentang semua yang melantunkan doa kepada-Nya.

Karenanya, menyebut di hadapan Tuhan bahwa si A adalah orang terbaik dan si B adalah orang buruk, pendukungnya sebagai manusia terbaik dan pendukung sana sebagai manusia buruk, itu sama saja dengan sok tahu di hadapan Allah. Sudah memohon kepada Allah, tetapi sok mengajari-Nya.

Kita semua manusia biasa, manusia hina di hadapan Allah. Manusia yang tidak memiliki kedudukan pantas apa pun di hadapan Nabi Saw. Karenanya tidak sepantasnya kita berbicara seolah-olah mewakili beliau, bertindak seolah mewakili beliau, merasa diri sebagai paling Muslim sementara umat Islam lainnya tidak.

Jangan samakan diri dengan Nabi Saw. Jangan merasa diri sama dengan beliau. Kita ini bukan siapa-siapa, bahkan bukan apa-apa. Beliau berhak menyebut si A begini dan si B begitu. Karena semua ucaoan beliau berdasarkan wahyu. Sedangkan kita, kebanyakan lebih mengandalkan nafsu.

Dalam puisi doanya itu, kepada Tuhan, Neno juga menyebut diri dan orang-orangnya sebagai mujahid. Ini klaim, perasaan atau pengakuan? Cara pandang ini juga sama-sama buruknya. Kita tidak patut, tidak dibenarkan merasa diri saleh, merasa diri suci, merasa diri sebagai mujahid, pejuang di jalan Allah, apalagi jika perasaan itu dibarengi dengan pikiran bahwa orang-orang berbeda sebagai bukan mujahid atau kafir, atau musuh. Itu lebih buruk lagi.

Perhatikanlah kisah di bawah ini, mungkin kita bisa mengambil hikmah untuk sisa-sisa hidup ke depan.

Ketika Nabi Saw dan pasukannya kembali dari sebuah perang, para keluarga menyambut. Ada seorang ibu yang mencari-cari anaknya yang ikut berperang. Ternyata anaknya gugur dalam perang tersebut.

Mengetahui anaknya terbunuh dalam perang bersama Nabi, si ibu bahagia karena mengira anaknya akan jadi ahli surga. Lalu ia berkata kepada jenazah anaknya, “Selamat datang ahli surga.”

Nabi mendengar kata-kata ibu tadi dan menoleh kepadanya dalam wajah yang marah (kurang lebih), “Wahai ibu, sejak kapan kau mendapatkan wahyu? Sejak kapan kaupegang kunci surga?”

Untuk orang yang gugur dalam berperang bersama Nabi saja tidak boleh kita katakan dengan pasti bahwa ia ahli surga. Lalu bagaimana dengan orang-orang yang baru bisa mengaku Muslim ini?

Setiap orang harus terus belajar menjadi orang baik, tetapi jangan merasa diri sudah baik apalagi terbaik, apalagi sambil menganggap orang lain buruk.

Setiap Muslim harus menyerap sebanyak-banyaknya ajaran dan keteladanan Nabi. Tetapi jangan merasa diri mewakili Nabi, apalagi bertindak seolah-olah menjadi Nabi.

Setiap orang harus terus belajar mensucikan dirinya, tetapi jangan menganggap diri suci. Laa tuzakkuu anfusakum.!”

Bandung, 24 Pebruari 2019

 

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.