Jadilah Orang Lain (Be The Other…!)

Sekian puluh tahun manusia sejagat terpesona bahkan terbius oleh slogan “Jadilah diri sendiri..!” Be your self. Di mana-mana orang membicarakan ini, menjadikannya prinsip hidup, pegangan dan pilihan hidup…

Di kampus-kampus, dalam acara seminar, program motivasi, self building, dan lain sebagainya, orang-orang membicarakan slogan ini. Bahkan dalam pergaulan sehari-hari, obrolan antar teman sekolah atau rekan kerja, bahkan dalam hubungan rumah tangga, slogan ini sangat populer, dan dijadikan pijakan hidup…

Maka, gara-gara slogan ini, seorang pemuda “gembel” (gembel ilmu, gembel akhlak, gembel materi, gembel penampilan) menuntut gadis pujannya untuk menerimanya apa adanya..

Ketika gadisnya memintanya berubah menjadi lelaki yang “menakjubkan” di mata gadis, lelaki yang membanggakan gadis dan orang tuanya, si pemuda menolak. Alasannya, ia ingin menjadi diri sendiri. Diri seperti apa? Diri yang kumal, diri yang bodoh, diri yang tidak tahu diri, juga diri yang tidak tahu malu, dan diri yang tidak mau belajar…

Dan karena terkesima oleh slogan yang nampak keren tersebut, si gadis terpaksa harus menerima pemuda yang sedang menjadi dirinya itu… Sekalipun ia merasakan ada sesuatu yang salah dalam slogan itu, yang merugikan dirinya… Sebagian dari hubungan seperti ini, berlanjut ke jenjang pernikahan dan kehidupan rumah tangga.

Perangai dan karakter buruk lelaki tadi makin terlihat jelas, dengan beragam ekspresi. Karena bersikukuh dengan pijakan “jadilah diri sendiri”, si lelaki tetap tidak mau mengubah perilaku buruknya. Pada fase kehidupan selanjutnya, mungkin keduanya tetap bertahan sekian lama dalam situasai rumah tangga yang tidak sehat dan tidak nyaman. Sebagian lagi mungkin segera menempuh perpisahan, dan hubungan keduanya berantakan…

Gara-gara bersikukuh pada prinsip “menjadi diri sendiri”, hubungan suami isteri yang semula berniat hidup bersama, bisa menjadi perceraian yang memilih hidup kembali sendirian.

Di satu sisi, ada satu pihak yang menghendaki peningkatan kualitas hidup bagi diri dan teman hidupnya, sementara di sisi lain, teman yang akan hidup bersamanya itu baru bisa bangga dengan dirinya sendiri, dengan karakter dan perangai yang telah menjadi kebiasaannya. Di sini, orang yang hendak meraih keunggulan , terpaksa harus tunduk pada orang lain yang bangga dengan keburukan dirinya…

Seorang pelamar kerja datang diwawancara di calon tempat kerjanya. Dengan bangga ia memperlihatkan keawaman dan ketidaktahudiriannya. Ia ingin dipahami sebagai individu yang menjadi diri tanpa definisi, padahal ia ingin diterima oleh orang lain yang memiliki kejelasan definisi dan konsepsi…

Jika pemberi kerja itu seorang visioner yang bertanggung jawab atas perusahaannya, ia tentu akan menolak pelamar kerja yang tanpa definisi itu. Demikian juga gadis itu, memiliki hak untuk menolak lelaki tanpa definisi yang mengharapkan cintanya…

Memangnya diri seseorang itu seperti apa, sehingga ia mati-matian mempertahankan dirinya: diri yang buruk? Siapa sih Diri Sendiri yang dibangga-banggakan itu? Siapa sih diri seseorang yang harus dibela itu? Apakah diri saat bayi, anak-anak, remaja, dewasa ataukah tua? Di semua fase perkembangan, diri seseorang pasti mengalami perubahan. Dan perubahan itu terjadi karena ia menyerap pengaruh dari luar dirinya.

Sehingga, apa yang disebut Diri Sendiri itu adalah hasil serapan dari banyak orang dan pihak di luar diri. Karenanya, pemuda atau pelamar kerja tanpa definisi itu sebenarnya tidak mewakili dirinya, melainkan sedang mewakili banyak hal dan pihak yang telah membentuk diri dan pribadinya… Ia hanya hasil serapan dan didikan lingkungannya…

Jika ia menyerap keunggulan dari luar, maka ia menjadi diri yang unggul. Dan jika ia menyerap keburukan, maka ia menjadi diri yang buruk. Dan hasil serapan yang membentuk diri itulah yang disebut dengan Diri Sendiri….

Jadi, ketika ia diminta untuk berubah, mencontoh keunggulan yang ada pada orang-orang lain, maka ia juga sebenarnya sedang memproses menjadi diri sendiri.. Dan proses menjadi diri sendiri itu tidak pernah selesai kecuali saat diakhiri kematian.

Mengapa kita harus berusaha hidup husnul khatimah? Karena akhir hidup itulah yang menjadi identitas kita saat memasuki gerbang kematian. Dan agar identitas dan definisi kita baik, maka perjuangan kita adalah hidup husnul khatimah…

Tuhan memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk meneladani Nabi-Nya, karena beliau adalah uswah hasanah. Mereka tidak disuruh untuk menjadi diri sendiri; mereka disuruh untuk mencontoh Muhammad yang Agung, menjadi Muhammad Sang Kekasih…

Dengan demikian, slogan dan konsep “Jadilah Diri Sendiri” itu tidak realistis, bahkan tidak filosofis. Bagi orang yang pernah mengkaji filsafat Eksistensialisme –terutama pemikiran Jean Paul Sartre, slogan di atas tidak logis, tidak filosofis, tidak masuk akal. Bagi kaum eksistensialis, proses “menjadi” adalah upaya tanpa akhir, neantisation. Dan selagi masih hidup, maka upaya itu tidak boleh diakhiri.

Bagi kalangan Muslim, proses menjadi manusia adalah sepanjang hayat, sejak dalam buaian hingga liang lahat. Dalam teosofi Islam, semua diri mengalami gerak transubstansial (harakah jawhariyah), setiap detik. Setiap ada hal baru, ilmu baru, informasi baru, masuk dalam diri seseorang, ia berubah. Dan yang mengubahnya adalah sesuatu dari luar, bukan dirinya…

Maka “Jadilah Diri Sendiri” itu adalah slogan dan prinsip yang menolak perubahan ke arah yang lebih baik (contohnya kasus pemuda di atas).. Secara logis, ini tidak masuk akal. Secara filosofis, ini mustahil. Secara praksis, ini takkan terwujud. Secara realistis, ini takkan pernah terjadi…

Jadi, janganlah menjadi diri sendiri… Tapi jadilah Orang Lain. Be The Other. Yang dimaksud Orang Lain adalah unsur-unsur luar yang unggul agar diserap menjadi diri yang bergerak membaik dan mengunggul. Yang dimaksud Orang Lain itu adalah orang-orang unggul yang kualitas dirinya bisa dipelajari dan diserap untuk membentuk diri yang masih belum selesai ini.

Itulah konsep hijrah. Berhijrah dari diri yang buruk atau belum begitu baik menjadi diri yang lebih baik dan unggul, dengan menyerap keunggulan-keunggulan dari orang-orang lain sepanjang zaman, yang dahulu maupun sekarang… Keunggulan adalah milik semua orang yang mau menyerapnya…

Jadilah Orang Lain…! Karena orang-orang pilihan Tuhan sepanjang masa itu, dalam teosofi Islam, adalah orang-orang yang telah menyerap bahkan menjadi Nur Muhammad… Mereka adalah orang-orang yang hidupnya menghidupkan sesama, bahkan kematiannya menyadarkan, mencerahkan, dan menggerakkan orang-orang hidup….!
25 Nopember 2016
Ashoff Murtadha
News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.