Inilah 9 Langkah Melanjutkan Purwakarta Istimewa

Ada pepatah bahasa Arab yang sangat populer terutama di kalangan umat Islam Indonesia, khususnya kaum Nahdliyyin (NU), berkenaan dengan transformasi keunggulan. Yakni, ungkapan “al-muhaafazhah ala al-qadiim al-shaalih wa al-akhdzu bi al-jadiid al-ashlah.”

Secara bebas, arti ungkapan inni adalah “Memelihara atau melestarikan hal lama yang baik, dan mengambil hal baru yang lebih baik.”

Yan namanya maju itu gerak ke depan, bukan ke belakang. Akan tetapi, hari ini berasal dari hari kemarin, dan hari ini melahirkan hari esok. Dalam istilah Kang Dedi Mulyadi, satuan waktu itu ada tiga, yakni (1) jaman bihari, (2) jaman kiwari, dan (3) poe isuk, yang artinya kemarin, hari ini, dan esok. Ketiga satuan waktu ini saling berkaitan, dan tidak mungkin dipisahkan.

Menciptakan kemajuan pada hari ini tidak mungkin dipisahkan dengan kondisi hari kemarin. Apa pun kondisi hari kemarin itu. Jika pun hari kemarin buruk, itu harus menjadi cambuk agar hari ini tidak mengulangi keburukan hari kemarin. Apalagi jika hari kemarin baik, maka itu harus menjadi inspirasi meraih kebaikan yang jauh lebih baik.

Ketika pertama kali membangun Purwakarta sepuluh tahun lalu, Kang Dedi Mulyadi menghadirkan keunggulan dan nilai-nilai luhur masa lalu (khususnya Pajajaran), untuk diwujudkan menjadi keunggulan hari ini. Sekalipun keunggulan masa lalu itu sempat terputus ratusan tahun silam, akan tetapi Kang Dedi berusaha mengerahkan kekuatan imajinatifnya agar keunggulan masa lalu itu bisa hadir hari ini menjadi sebuah kemajuan yang berbasis kebudayaan.

Kini, di tangan Kang Dedi, imajinasi masa lalu Jawa Barat yang dahulu bernama Pajajaran itu hadir, bermanifestasi, dan ngajawantah dalam bentuk sebuah peradaban dan kebudayaan yang digerakkan oleh kepemimpinan imajinatif dan visioner. Hasilnya adalah Purwakarta Istimewa seperti yang kita saksikan dan nikmati hari ini.

Pada saat kepimpinannya berakhir, tentu saja masyarakat berharap agar suksesornya adalah figur yang betul-betul mengerti visi keunggulan Kang Dedi dan memiliki semangat yang sama untuk melanjutkan Purwakarta Istimewa. Dan pilihan mereka tepat, karena kini yang meneruskan kepemimpinan pasca Ki Sunda adalah sosok yang menjadi saksi sekaligus pelaku sejarah yang mengiringi perjalanan Kang Dedi sendiri, yakni isteri tercintanya, Anne Ratna Mustika yang biasa dipanggil Ambu.

Dan, sejak masa kampanye dulu, Ambu dan H Aming bertekad untuk melanjutkan Purwakarwata Istimewa agar makin istimewa. Formulanya adalah seperti yang diajarkan oleh pepatah di atas, yakni “melestarikan hal lama yang baik, dan mengambil hal baru yang lebih baik.”

Formula ini diterjemahkan dalam 9 Langkah Utama Melanjutkan Purwakarta Istimewa. Mengapa 9, karena sembilan adalah angka terbesar dalam bilangan, sehingga diharapkan menjadi puncak dari gerak kesempurnaan.

Apa saja 9 langkah Ambu-Aming itu? Di bawah ini saya akan menuliskan besarannya. Dan jika Allah mengizinkan insya Allah saya ingin mencoba menjabarkannya.

1) Pelayanan pendidikan harus terintegrasi dari mulai SD, SMP dan SMA berbasis pengajaran Al Qur’an dan Kitab Kuning

2) Pelayanan kesehatan gratis dengan penyediaan satu ambulance, satu dokter, satu perawat dan satu bidan di setiap desa.

3) Pengembangan infrastruktur pertanian berupa irigasi, bendungan kecil dan besar. Produk pertanian, peternakan dan perikanan pun diasuransikan

4) Pengembangan desa berbasis produk unggulan dan pengembangan investasi yang dikelola BUMDES.

5) Optimalisasi pengembangan infrastruktur jalan dengan PJU berestetika, pengembangan bangunan pemerintah, mesjid, madrasah, majelis taklim dan rumah ibadah, serta pembangunan rumah rakyat miskin dan ruang terbuka hijau juga sport center di setiap desa.

6) Pengembangan pariwisata berbasis pedesaan melalui pembangunan kampung budaya dengan penyiapan sawah abadi dan sumber air abadi. Pembagian beras kualitas premium bagi warga miskin melalui ATM Beras.

7) Pengembangan pendidikan profesional bagi siswa di sekitar industri melalui program sekolah manajer setingkat S1 dan S2, juga program doktoral dengan beasiswa dari pemerintah daerah

8. Peningkatan kesejahteraan aparatur desa, RT, RW, linmas, guru ngaji, karang taruna, BPD, Bamusdes, imam mesjid, muadzin dan khatib melalui program asuransi kesehatan, kecelakaan kerja dan hari tua

9) Pengembangan iklim investasi melalui pengembangan pusat perizinan terpadu dengan pembangunan mal pelayanan publik yang berstandar nasional. Juga menumbuhkan UMKM melalui stimulus permodalan dan revitalisasi pasar tradisional.

Itulah 9 langkah melanjutkan Purwakarta Istimewa. Karena pertumbuhan adalah kesinambungan. Karena perkembangan adalah keberlangsungan. Karena kesempurnaan adalah langkah panjang. Karena kemajuan mesti dilandasi imajinasi dan visi kepemimpinan. Maka, keunggulan dan keistimewaan ini harus dilanjutkan dan ditingkatkan.

Mari bersatu dan bersama. Karena Purwakartaku Purwakartamu, Purwakarta kita semua…

Bandung, 23 September 2018

Bagea

Mahya Lengka

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.