Indonesia Bukan Suriah

Semoga sekarang kita semua mulai menyadari. Makin mengerti dan memahami. Dan tidak lagi berkata, membuat status, melakukan share dan berbuat seperti yang sudah-sudah…

Beberapa tahun lalu, Suriah yang semula tenang dari kekerasan, tiba-tiba dilanda kekacauan. AS, Eropa, Israel, Negara-negara Arab tidak menghendaki Bassar Assad (pemimpin Arab yang masih konsisten membantu Palestina dan Hamas melawan Israel), dan ia harus diturunkan.

Bassar Assad yang terus membantu perjuangan Palestina, memberi Hammas kantor di Damaskus dan membiayainya, adalah satu dr satu dua pemimpin di Timur Tengah yang konsisten membantu Palestina, dan jelas menjadi penghalang dan mengancam Israel di kawasan.

Karenanya AS dan Barat ingin menurunkannya, dengan memanfaatkan negara-negara Arab untuk mewujudkannya. Politik adu domba. Demi hegemoni politik dan ekonomi di kawasan. Dan negara-negara Arab dan sebagian umat Islam itu bersedia menghancurkan sebuah negeri Muslim atas settingan AS, Israel dan Barat itu, dan anehnya mereka merasa berjihad. “Berjihad” menghancurkan negeri kaum Muslimin (sebuah ilusi yang sangat aneh dan tidak masuk akal).

Maka, para pemberontak dalam negeri pun disiapkan dan dipersenjatai, dan mulai melakukan kekerasan. Negeri Suriah mulai membara dan dihancurkan. Negara Arab memanas-manasi umat Islam di dunia dengan isu Syiah-Sunni. Assad dituduh Syiah (sekalipun ia salat bersedekap dan seorang sosialis Baath).

Sejumlah umat Islam di berbagai belahan dunia percaya tuduhan dan fitnah mereka. Orang-orang multinasional datang ke Suriah dengan ilusi bahwa mereka sedang berjihad. Sementara para perempuan (gadis atau yang sedang bersuami) dari berbagai negara turut ke Suriah dengan ilusi bahwa mereka juga melakukan jihad seksual, atas fatwa orang yang merasa ulama di negeri Arab (yang disebarluaskan melalui medsos di berbagai negara). Mereka dari berbagai negara itu turut para pemberontak dalam negeri yang telah disetting Barat itu tuk menghancurkan negeri orang lain yang berdaulat. Umat Islam kembali diadu domba dengan berbagai macam fitnah dan ilusi. Umat Islam diadudomba untuk menghancurkan negeri kaum Muslimin  yang dulu damai dan tenang.

Meskipun dibantu penuh oleh Barat dan Arab, Assad tetap bertahan, lebih dari 4 tahun. Para pemberontak mulai frustrasi, dan berselisih. Sebagian memisahkan diri. Di antara yang memisahkan diri itu ISIS, yang diakui sebagai bentukan AS dan dibinanya. Sebelumnya dulu mereka dianggap mujahidin yangg turut menurunkan Bassar Assad, dan gagal.

Kini orang-orang Islam di dunia sadar bahwa di antara para pemberontak yang merasa berjihad itu, adalah kaum Barbar yang melakukan kejahatan yang tak terbayangkan sebelumnya. Mereka mengibarkan bendera tauhid, tapi kejahatannya luar biasa. Mereka bertakbir tapi tindak kekerasannya di luar batas kemanusiaan dan tak terbayangkan. Entah apa sebenarnya agama mereka. Entah apakah mereka ber-Tuhan atau tidak.

Umat Islam di berbagai belahan dunia mulai tersadarkan. Setidaknya tersentak dengan kenyataan yang dipertontonkan.

Ketika Paris diledakkan yang katanya ISIS pelakunya, Barat dan Perancis yang dulu membina ISIS kini sadar siapa ISIS sebenarnya. Para anak buah itu sekarang mulai menyerang tuannya. Dulu katanya mereka berkoalisi menghancurkan ISIS di Irak dn Suriah. Tapi anehnya ISIS makin kuat dan menguasai berbagai wilayah. Artinya, pasukan koalisi itu sebenarnya bukan menghancurkan ISIS, tetapi menguatkannya dan memasok senjata kepada mereka diam-diam. Pura-pura memerangi, padahal membantu, memperkuat dan mempersenjatai.

Baru ketika Rusia turun tangan, keadaan mulai berubah. ISIS terdesak dan sebagian disebut-sebut sudah berdiaspora ke berbagai negeri, termasuk Perancis. Lalu berikutnya kita dengar apa yang terjadi di Paris tahun 2015 lalu.

Semoga tragedi kemanusiaan tidak terjadi lagi di mana pun dan kapan pun, oleh siapa pun.

Suriah telah porak poranda. Sekarang, kendali kawasan yang dulu direbut ISIS dan pemberontak sudah mulai dipegang lagi oleh pemerintah Assad. Banyak wilayah dikuasai kembali oleh pemerintah yang sah. Assad makin mengendalikan negaranya. Negara-negara yang semula menentangnya satu per satu melunak, dan terlihat memerangi lawannya.

Para pengungsi juga sudah mulai kembali ke negara mereka di bumi Syam. Mereka kemarin mengungsi bukan karena Assad, tetapi karena takut para pemberontak dan ISIS. Kini Suriah harus segera berbenah dan membangun lagi dari minus. Gara-gara ambisi hegemoni politik sejumlah negara yang ingin terus menguasai Timur Tengah, negeri ini hancur.

Parahnya, kehancuran mereka turut disahami oleh isu Syiah yg dihembuskan ke pemerintah Suriah. Isu Syiah terus diblow up, dan Suriah telah jadi korbannya. Dan di negeri kita, isu ini sempat ramai bersamaan dengan tragedi Suriah. Kini isu pemecah belah itu sudah melemah dan tidak begitu terdengar nyaring (setidaknya di medsos), dan semoga takkan mengemuka lagi.

Indonesia bukan Suriah, dan jangan sampai terjadi di sini apa yang terjadi di sana. Maka, kita umat Islam jangan lagi mau diperbodoh, diadudomba, jadi korban provokasi yang memecahbelah, dengan mengkafirkan kelompok Muslim yang Tuhannya sama, Nabinya sama, Qurannya sama, sama-sama salat fardu 5 kali sehari semalam, berpuasa Ramadhan, sama-sama berzakat, sama-sama berhaji ke Baitullah dan lain sebagainya.

Deklarasi yang mengkafirkan dan memusuhi sesama Muslim, berhentilah. Isu Sunni-Syiah adalah masa lalu, karena semua mereka Muslim, hanya dengan sejumlah perbedaan khilafiyah. Isu ini yang dulu mengawali tragedi Suriah, sebenarnya dilatarbelakangi kepentingan politik global, yang ingin menghancurkan sebuah negeri yang pemimpinnya tidak dikehendaki negara-negara imperialis.

Sekarang kita saksikan bersama, isu Sunni-Syiah telah turut menghancurkan Suriah. Lalu apakah isu ini akan terus diprovokasikan di Indonesia ini agar negeri ini hancur karena kita mengikuti irama politik global yang ingin mengadudomba dan memecahbelah kita? Ooh, jangan smpai isu ini dn isu apa pun yang lainnya mengganggu dan menghancurkan kedamaian di Indonesia ini. Jangan sampai. Jangan lagi kita menjadi korban politik adu domba global, yang tidak kita sadari, dengan modus mengkafirkan sesama Muslim dan memusuhinya.

Tidakkah kita umat Islam takut terhadap sabda Nabi Saw yang berbunyi, “Barangsiapa mengkafirkan seorang Muslim, berarti ia kafir.” Jika seorang mengkafirkan sesama Muslim, berarti kekafiran itu berbalik kepada dirinya.

Belakangan kita bangsa Indonesia yang satu ini pun dicemaskan oleh isu keagamaan. Demo-demo besar dilakukan belum lama kemarin. Kita semua sempat tegang dan khawatir. Bersyukurlah kita semua bisa melewatinya. Semoga Indonesia yang satu ini tetap damai dan kian maju dan melangkah pasti untuk lebih sejahtera. Keadilan harus ditegakkan. Kedamaian harus diwujudkan.

Kita bukan Suriah. Kita bukan negara kacau di belahan dunia mana pun. Kita semua adalah Indonesia. Kita adalah Nusantara yang damai dan permai, kuat dan merdeka. Kita takkan pernah bisa dipecah sampai kapan pun oleh isu mazhab, isu agama, isu suku, atau isu ras. Kita adalah satu. Dan kita adalah Bhineka Tunggal Ika, yang menjadi contoh kedamaian terbaik bagi dunia.

Indonesia adalah Nusantara. Negeri yang sudah lama menjadi tempat singgah berbagai peradaban dunia. Negeri yang sudah lama ramai dikunjungi berbagai keragaman mancanegara.

Mereka datang untuk berkunjung, berdagang, berinteraksi, berbagi, dan sekadar melakukan perjalanan ekspedisi. Selagi mereka datang dengan hati, bangsa ini juga menerimanya juga dengan hati. Namun ketika mereka datang untuk mengeksploitasi, maka mereka akan dipaksa pergi…

Negeri ini damai dan permai. Sekalipun ada banyak kerajaan yang dulu jatuh bangun dan hilang muncul, namun setelah Nusantara bernama Indonesia, semuanya satu bersama…

Indonesia bukan Suriah. Indonesia bukan negeri gersang, yang mudah terbakar arang atau terangkat parang. Indonesia adalah negeri hijau yang damai…

Indonesia kaya dan beragam, namun tetap satu dan menyatu…

Salam Indonesia…!

(Tulisan ini ditulis setahun yang lalu, Nopember 2015. Diangkat lagi sekarang karena pesannya masih relevan untuk saat ini).

10 Desember 2016

Ashoff Murtadha

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.