Imajinasi adalah Obat Pikun

Berbeda dengan potensi-potensi manusia yang lain, pikiran atau akal adalah anugerah potensi yang luar biasa. Semakin sering digunakan, ia semakin tajam, semakin cerdas, semakin menjangkau jauh.

Pikiran akan melemah dan berkarat ketika ia tidak digunakan, atau jarang difungsikan. Sama halnya dengan pisau atau golok, jika dibiarkan, ia akan berkarat dan tidak memiliki kekuatan yang seharusnya ia perlihatkan.

Kepikunan bisa dihambat –atau mungkin saja dihindari– jika pikiran sering diaktifkan. Karenanya yang paling dikhawatirkan saat-saat masa pensiun adalah kurang aktifnya pikiran, sehingga akan melemah, pikun lebih cepat, lalu menimbulkan berbagai penyakit yang kian dekat.

Aktivitas berpikir adalah nutrisi terpenting bagi otak untuk tetap awet, fungsional, dan kuat. Sementara kemalasan berpikir adalah tanda seseorang akan pikun lebih cepat, dan melemah lebih awal.

Itulah pula sebabnya Nabi Saw bersabda, “Berpikir sesaat lebih baik daripada beribadah setahun (Tafakkuru saa`ah khayrun min ibadati sanah)”…

Malah ada hadits lain yang lebih dari itu, “Berpikir sesaat lebih baik daripada beribadah SERIBU tahun (tafakkuru saa`ah khayrun min ibaadati alfi sanah).”

Mengapa berbeda? Tentu saja, karena kualitas berpikir manusia juga berbeda-berbeda. Sehingga nilainya dalam pandangan Allah juga ada yang lebih baik daripada ibadah setahun, atau seribu tahun, atau mungkin juga lebih dari itu.

Orang yang manfaat pikirannya terus menyinari umat manusia berabad-abad lamanya, dalam jumlah manusia yang sangat banyak, tentu nilai berpikirnya juga luar biasa. Berbeda dengan kualitas berpikir seseorang yang manfaatnya hanya untuk dirinya sendiri, dalam jangka waktu yang sebentar pula.

Berpikir adalah pembeda manusia dari makhluk-makhluk lainnya. Karenanya jangan malas berpikir. Dan jangan berhenti berpikir. Dari berpikir, lahirnya banyak pengetahuan (knowledge) dan ilmu (sains). Kita saat ini telah banyak menikmatinya. Dan rupanya pengetahuan akan terus lahir dan lahir.

Namun tunggu sebentar… Jangan terpesona oleh pengetahuan. Pengetahuan itu belum apa-apa. Ia memang kekuatan, tetapi bukan kekuatan terbesar dan paling utama. Lalu apa kekuatan terbesar dan paling utama? Imajinasi…! Kata Albert Einstein, “Imagination is more important than knowledge.” Katanya juga, “Knowledge is limited. Imagination enrich the world.” Pengetahuan itu terbatas. Namun imajinasi akan memperkaya dunia.

Einstein mungkin pernah mempelajari teori Ibnu Arabi beberapa abad silam tentang al-Quwwah al-Khayaaliyyah, Potensi Imajinasi. Mungkin juga belum atau tidak. Jika pernah, berarti ada keterkaitan antara pemikiran Einstein dengan filosof-gnostik Islam Ibnu Arabi tersebut.

Jika pun belum, berarti ide, teori atau gagasan bisa bertemu pada satu titik kemiripan atau kesamaan, sekalipun berasal dari orang-orang berbeda generasi dan waktu, dan sekalipun belum pernah terjadi interaksi secara intelektual di antara mereka.

Karena, di alamnya, ide itu satu juga. Dan ia turun ke alam fisik ke kepala sekian orang, dengan berbeda ruang dan waktu. Sekalipun dengan kemasan, nama dan sentuhan yang berbeda, selagi ia berasal dari ide yang sama, maka bisa ditemukan pula titik kesamaannya.

Kesamaan antara Ibnu Arabi dan Einstein dalam konteks ini, adalah pentingnya imajinasi: imagination atau khayal. Bagi Ibnu Arabi, khayal adalah salah satu fakultas epistemologi. Demikian pula bagi Einstein. Ketika ia menyebutkan bahwa imajinasi lebih penting daripada pengetahuan, berarti ia melihat imajinasi sebagai fakultas sangat penting untuk menemukan “sesuatu” (kebenaran)…

Jika Francis Bacon baru menyebutkan “Knowledge is power”, maka bagi Einstein “Imagination is more powerful.”

Namun, sekalipun imajinasi itu sangat penting, dunia pendidikan kita agaknya masih belum menyeriusinya. Bahkan masih asing mendengarnya. Dunia bisnis juga masih lebih akrab dengan istilah CEO, Chief Executive Officer, ketimbang CIO, Chief Imagination Officer. Padahal bisnis akan bertahan dan terus berlangsung ketika disuplai oleh imajinasi bisnis yang tanpa henti…

Ada sejumlah perusahaan besar dunia yang mati karena kehabisan imajinasi. Sebaliknya ada usaha-usaha baru yang belum dikenal, namun justru segera leading karena imajinasinya melampaui apa yang dipikirkan orang-orang pada masanya.

Jadi, sangat penting imajinasi dibekalkan, dibiasakan, dilatihkan, dan disalurkan. Dan, belajar apa pun penting pula menerapkan cara pembelajaran imajinatif, Imaginative Learning…

Jika seseorang aktif berimajinasi, masa pikunnya terhambat. Otaknya lebih sehat….

27 Nopember 2016

Ashoff Murtadha

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.