Ilmu Al-Quran Tidak Sekadar Tajwid

Tulisan ini kelanjutan dari tulisan sebelumnya yang berjudul “Empat Hal yang Pertama dan Penting dalam Membaca Al-Quran.” Biar nyambung, kronologis dan kontekstual, tulisan sebelum ini akan lebih baik jika dibaca terlebih dahulu. Jika pun tidak, semoga tulisan ini tetap bisa dipahami sesuai konteksnya.

Setiap Selasa malam bada salat magrib, kami biasa rutin mengadakan Kajian Tafsir di masjid. Bahasan di bawah ini pernah disampaikan dalam kajian tafsir tersebut setahun lalu. Kini saya coba menyampaikannya dalam tulisan ringan agar menjadi pengingat lagi.

Dalam tahap awal, membaca Al-Quran itu membutuhkan empat hal penting yang harus benar. Yakni dalam hal makhraj, harakat, panjang-pendek, dan syiddah-khiffah (tasydid dan tidak bertastdid). Ketika seseorang membaca Al-Quran, keempat hal ini sangat penting diperhatikan. Kesalahan dalam salah satu saja bisa berakibat pada kesalahan makna. Itulah yang dibahas dalam ilmu tajwid. Karenanya ilmu tajwid adalah hal pertama yang harus dikuasai untuk membaca Al-Quran.

Akan tetapi, ilmu tajwid saja belum cukup. Jika seseorang hanya mengandalkan ilmu tajwid, bisa saja ia akan bingung atau merasa aneh saat menemukan cara baca yang berbeda dengan yang biasa ia baca. Perbedaan itu bisa berkaitan dengan makharij al-huruf, harakat huruf (dhammah-fathah-kasrah), panjang-pendek, atau syiddah-khiffah (tasydid dan tidak bertasydid).

Bukan saja bingung, bahkan mungkin ia akan menyalahkan orang lain yang berbeda cara baca. Sebab, ada banyak kata dalam ayat-ayat Al-Quran yang cara bacanya tidak tunggal: bisa dibaca panjang atau pendek, bisa dibaca dhammah atau fathah atau kasrah, dan lain sebagainya. Perbedaan seperti ini tidak dibahas oleh ilmu tajwid. Kita menemukannya dalam buku-buku tafsir tentang berbagai qira`at bacaan Al-Quran.

Kita ambil contohnya di bawah ini.

1. Ayat 4 surat al-Fatihah, berbunyi “MAALIKI YAWMIDDIIN. Perhatikan kata “maaliki”. Kita biasa membaca kata ini dengan “maa” (huruf mim berharakat fathah dan panjang) dan “ki” (huruf kaaf berharakat kasrah).

Nah, tentang ayat ini saja, ada beberapa cara baca yang berbeda. Seperti dijelaskan oleh al-Zamakhsyari dalam tafsirnya, Al-Kasysyaf, Abu Hanifah membacanya “MALAKA YAWMADDIIN” (dibaca malaka, bukan maaliki). Artinya, “DIA telah menguasai hari pembalasan”. Sedangkan Abu Hurairah membacanya “MAALIKA yawmiddin” (huruf kaaf dalam kata maalik dibaca fathah). Ada juga yang membacanya “MAALIKU” (huruf kaaf berharakat dhammah).

Dari segi gramatika (qawaid nahwiyah), harakat dhammah, fathah dan kasrah itu berbeda dalam kedudukan kata. I’rabnya berbeda. Namun, sekalipun berbeda, perbedaan cara baca itu dibenarkan.

Masih tentang kata MAALIK. Ada yang membaca huruf mim dengan harakat fathah panjang. Ada juga yang membaca huruf mim berharakat fathah tetapi pendek, yakni MALIKI, sama dengan kata MALIK yang terdapat dalam surat al-Naas, yakni ayat “malikinnaas”. Dari segi makna, MAALIK bisa diartikan “pemilik” atau “yang menguasai”, sehingga arti ayat adalah “Pemilik atau Yang menguasai hari pembalasan”. Sedangkan kata MALIK berarti raja, sehingga arti ayat adalah “Raja pada hari pembalasan”.

Nah, jika kita terbiasa membaca ayat “maaliki yawmiddiin”, dan belum mengetahui adanya perbedaan cara baca ayat ini di kalangan para ulama, maka, pertama, kita bisa saja akan bingung, kedua, kita bisa saja akan menyalahkan orang yang membacanya berbeda dengan cara baca kita, atau ketiga, bahkan kita akan menuduhnya dengan tuduhan yang aneh-aneh. Itu karena dari segi harakat berbeda, dari segi panjang pendek juga berbeda. Padahal perbedaan tersebut sama-sama dibenarkan secara keilmuan.

Bukan hanya dalam tafsir al-Kasysyaf, perbedaan cara baca ini juga dijelaskan dalam banyak buku tafsir lain. Seperti tafsir Mafatih al-Ghayb, al-Kabiir, karya al-Fakhrurrazi, juga tafsir al-Quran al-Azhim karya Ibnu Katsir dan lainnya.

2. Ayat 43 surat al-Haaqqah, dalam mushaf kita berbunyi “TANZIILUN min rabbil aalamiin.” Perhatikan kata “tanziilun”. Huruf akhirnya, lam, berharakat dhammah, tepatnya dhammatayn (dhammah tanwin). Dari segi gramatika (nahwu), tanziilun berkedudukan sebagai khabar mubtada dari mubtada yang dibuang (mahdzuf), yakni huwa (al-Quran). Ini bacaan yang umum, yang kita baca dalam mushaf. Tetapi Abu al-Samal, seperti disebut dalam tafsir Al-Kasysyaf karya al-Zamakhsyari, membacanya “TANZIILAN”, huruf lam berharakat fathatayn (fathah tanwin). Tanziilan berposisi sebagai “hal”, yang menceritakan keadaan bagi Al-Quran.

Untungnya, baik bacaan “tanziilun” maupun “tanziilan”, secara makna sama. Disebut untung karena perbedaan baca di sini tidak mengubah makna. Bedanya hanya dari segi redaksi penerjemahan. Kalau “tanziilun min rabbil `aalamiin”, artinya “ia (Al-Quran) diturunkan dari Tuhan semesta alam.” Sedangkan “tanziilan min rabbil aalamiin” artinya “sebagai kitab yang diturunkan dari Tuhan semesta alam.”

Dari segi tata bahasa, baik dibaca tanziilun maupun tanziilan, keduanya benar. Dari segi riwayat qiraat juga diriwayatkan dalam buku-buku tafsir. Selain dalam buku tafsir al-Kasysyaf, cara baca “tanziilan” juga disebutkan dalam kitab-kitab tafsir lainnya, seperti dalam tafsir Mafatih al-Ghayb al-Kabiir karya al-Fakhrurrazi, tafsir Al-Quran al-Azhim karya Ibnu Katsir, dan lainnnya.

Dua contoh perbedaan di atas adalah berkaitan dengan cara baca panjang pendek suatu huruf, dan harakatnya. Dalam mushaf kita tidak melihat perbedaan cara baca itu. Namun bisa jadi suatu saat kita akan menemukan perbedaan tersebut. Dengan mengetahui adanya perbedaan seperti ini, kita menjadi mafhum jika kelak misalnya ada yang membaca suatu ayat dengan cara baca yang berbeda dengan kebiasaan kita. Itu bukan karena mereka salah baca, melainkan karena mereka menggunakan cara baca yang berbeda yang sama-sama dibenarkan secara keilmuan.

Perbedaan seperti ini tentu saja tidak dibahas dalam ilmu tajwid. Kita dapat menemukannya dalam uraian tafsir bab qira`at. Contoh di atas baru berkaitan dengan cara baca panjang pendek dan harakat sebuah huruf. Padahal perbedaan cara baca dalam Al-Quran bukan hanya dari segi panjang-pendek dan harakat saja. Tetapi lebih dari itu, bahkan hurufnya juga ada yang berbeda. Karena huruf berbeda, tentu saja makhrajnya juga berbeda. Lagi-lagi, perbedaan ini juga tidak dibahas dalam ilmu tajwid.

Itulah sebabnya bahwa ilmu Al-Quran bukan hanya ilmu tajwid. Ilmu tajwid sanga penting, bahkan menjadi ilmu pertama tentang cara membaca Al-Quran. Namun di sekitarnya masih ada ilmu-ilmu lain, yang masih jarang dibaca dan dipelajari kebanyakan orang. Karenanya kita tidak boleh gegabah menghukumi atau memvonis orang atau kalangan yang memiliki cara baca yang berbeda. Itu bukan karena mereka salah, melainkan mungkin karena kita belum banyak belajar tentang ilmu-ilmu Al-Quran yang luas, sangat luas…!

Semoga bermanfaat…

Bandung, 21 Oktober 2018

Ashoff Murtadha

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.