Haul Rasul, Mengenal Wafatnya Nabi Teragung

Masih tentang bulan Shafar. Selain mengenai Hari Nahas (Yawmu Nahsin) yang dalam hadits disebut terjadi pada hari Rabu terakhir di bulan Shafar (sudah dibahas kemarin), akhir bulan ini juga mencatatkan dua peristiwa penting lain dalam Islam.

Pertama, pada malam 29 Shafar, Rasul Saw mulai melalukan perjalanan hijrah dari Makkah ke Yatsrib (Madinah). Kurang lebih 11-12 hari beliau berjalan mengusuri lembah dan gurun pasir jazirah, akhirnya pada tanggal 11-12 Rabiul Awwal 1 Hijrah beliau sampai di negeri yang menyambutnya dengan penantian, sukacita dan kebahagiaan.

Akhir Shafar dikenang sebagai malam dimulainya perjalanan hijrah Nabi. Dan Rabiul Awwal dikenal sebagai bulan Hijrah. Rabiul Awwal bukan hanya dikenal sebagai bulan mawlid, kelahiran manusia paling agung. Tetapi juga bulan bersejarah sebagai bulan hijrah.

Kedua, pada tanggal 28 Shafar 11 Hijriah, Nabi Teragung itu wafat menjumpai Kekasihnya. Beliau wafat setelah mengalami sakit beberapa hari. Beberapa hari menjelang wafat, saat sedang sakit, beliau membentuk pasukan sariyyah dan memerintahkan mereka segera berangkat ke medan perang.

Beliau mengangkat seorang remaja berusia 17 tahun sebagai panglima perang untuk pasukan besar yang terdiri dari para sahabat senior. Beliau menetapkan Usamah bin Zaid bin Haritsah sebagai panglima pasukan, membawahi para sahabat yang usianya sebaya dengan ayahnya, Zaid bin Haritsah.

Pasukan ini tidak segera berangkat sesuai perintah Nabi. Mereka berhenti di sebuah tempat. Menurut sebuah pendapat, mereka tidak mau segera berangkat karena mengetahui Nabi sedang sakit. Menurut pendapat lain, pasukan tidak mau segera berangkat karena ada keengganan dipimpin oleh seorang remaja belia.

Mengetahui bahwa pasukan tidak juga menuruti perintahnya, Nabi Saw yang sedang sakit itu bangkit dari pembaringannya dan menuju pasukan. Dalam kondisi tubuh yang sudah lemah karena sakit, beliau sengaja menemui pasukan dan sekali lagi memerintahkan agar mereka segera berangkat.

Di antara yang beliau sampaikan saat itu adalah ungkapannya (kurang lebih): “Sungguh dulu kalian pernah menolak ayah remaja ini menjadi panglima kalian (dalam perang Mu’tah). Sekarang kalian juga menolak anak ini menjadi panglima kalian. Berangkatlah…!”

Yang dimaksud dengan remaja adalah Usamah bin Zaid. Dan yang dimaksud dengan ayah anak ini adalah Zaid bin Haritsah, anak angkat Nabi yang diasuh beliau sejak masih remaja. Ayah dan anak ini adalah panglima perang untuk sebuah pasukan besar, pada tahun berbeda.

Zaid bin Haritsah diangkat oleh Nabi untuk memimpin kaum Muslimin dalam perang Mu’tah. Zaid syahid, gugur dengan dua tangan terputus. Digantikan oleh Ja’far bin Abi Thalib, yang juga gugur sebagai syahid. Dan akhirnya digantikan oleh Abdullah bin Ruwahah, yang juga gugur. Ketiga panglima ini ditetapkan Nabi sebelum pasulan berangkat perang.

Setelah ketiganya wafat, Khalid bin Walid mengambil alih kepemimpinan dan memimpin pasukan. Perang berakhir, dan pasukan pulang.

Beberapa tahun kemudian, sebelum wafat, Nabi memerintahkan pasukan berangkat. Beliau mengangkat Usamah bin Zaid yang masih sangat belia sebagai panglima. Sebagaimana kepada ayahnya dulu (Zaid), sebagian anggota pasukan tidak dengan suka hati menerima kepemimpinan panglima yang diangkat Rasul ini.

Karena pasukan tidak segera berangkat, Nabi yang sakit pun keluar rumah dalam jarak yang cukup berat bagi orang yang sedang sakit. Untuk apa? Untuk menemui mereka dan memerintahkan mereka pergi ke medan perang. Saking pentingnya misi sariyyah ini, dalam kondisi sakit pun beliau tetap menemui mereka dan memerintahkan berangkat. Namun pasukan tidak juga berangkat.

Sepulang menemui pasukan, Nabi kembali ke rumah. Sakit beliau kian parah. Pada hari kamis, beliau sempat terkulai. Sebagian sahabat yang juga anggota pasukan, mendatangi rumah Nabi. Mereka berkumpul di rumah beliau. Riuh rendah suara mereka di rumah Nabi yang sedang sakit keras. Kesehatan beliau terus menurun drastis. Saat-saat terakhir beliau di dunia segera tiba.

Dan akhirnya, pada hari Senin, 28 Shafar 11 Hijrah, Manusia Suci Nabi Teragung itu meninggalkan kehidupan fana, menghadap Rabbil Izzati yang Maha Baqa. Setelah menyampaikan tugas risalah selama kurang lebih 23 tahun, setelah memberi keteladanan hidup selama 63 tahun, Jiwa Suci itu berpulang kepada Pemiliknya.

Innaa lilaahi wa innaa ilayhi raajiuun.

Salam atasmu wahai Nabi yang agung..
Salam atasmu wahai Rasul yang penyantun…
Salam atasmu wahai Kekasih yang pengasih…

Isyfa’ lanaa indallaah…
Yawma laa zhilla illaa zhilluh…
Yawma laa yanfa’u maalun walaa banuun….

Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad wa ala aali sayidina Muhammad…

Al-Fatihah….

Bandung, 28 Shafar 1438
17 Nopember 2017

Ashoff Murtadha

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.