Haji Duniawi

Ramai berita tentang sekelompok jamaah Indonesia yang melakukan ibadah haji di tanah suci sambil menyatakan dukungan politik di dalam negeri. Sesuatu yang ganjil terjadi, sesuatu yang tidak pernah ada pada zaman Nabi Saw, tidak beliau contohkan, tidak beliau perintahkan.

Ini memang hal ganjil dalam perilaku beribadah sebagian orang. Mereka tidak menyadari bahwa mereka sedang merusak ibadah yang sedang mereka bangun dengan biaya mahal, waktu lama, tenaga besar, dan kesabaran tinggi itu. Dengan mudahnya mereka menghancurkan ibadah yang seharusnya mereka tegakkan. Dari tanah air mereka perjuangkan rencana haji dengan susah payah, di tanah suci mereka merusaknya dengan mudah.

Tentang salat saja, Al-Quran menyebutkan adanya kelompok orang yang salatnya “saahuun”. Salat adalah ibadah wajib yang dilaksanakan 5 x dalam sehari. Jika ibadah harian saja, di mana orang melakukannya sering dan sudah terbiasa, ada yang saahuun (lalai), maka apalagi ibadah haji yang wajibnya hanya sekali seumur hidup dan jarang sekali kita melakukannya.

Orang yang salatnya saahuun adalah orang yang menjadikan salatnya sebagai salat duniawi. Salat dunia adalah salat yang dilakukan karena untuk kepentingan dunia. Untuk nafsu-nafsu duniawi, bukan karena lillaahi ta’aala.

Begitu pula dengan haji dan umrah. Kenyataannya, ada saja sekelompok orang yang beribadah haji dan umrah bukan karena Allah, melainkan karena kepentingan-kepentingan duniawi. Sehingga haji umrahnya juga menjadi haji dunia dan umrah dunia. Yang mereka kejar bukan ridha Ilahi, tetapi hal-hal duniawi. Ritual-ritual haji-umrah hanya menjadi casing saja, kulit semata, penampakan belaka, sedangkan isinya adalah nafsu dan kepentingan dunia.

Di antara ekspresi haji atau umrah duniawi adalah ketika haji-umrah dijadikan sebagai cara untuk urusan politik dan kekuasaan, materi dan kekayaan, kedudukan dan jabatan, dan sejenisnya.

Sangat disayangkan jika ada sekelompok orang yang sudah jauh-jauh ke tanah suci, berbiaya mahal, mengumpulkan bekal, istitha’ah, dan kesempatan puluhan tahun, perjalanan berat, untuk ke tanah suci tetapi kemudian haji-umrahnya disia-siakan dengan urusan duniawi sesaat yang bahkan mereka pun tidak mendapatkan apa-apa dari tindakannya.

Coba renungkan, apa yang mereka dapatkan dari dukungan politik saat berhaji? Biaya haji, ia sendiri yang urus. Tetapi kemudian ia rusak dengan dukungan politik pada seseorang yang tidak ada hubungan apa pun dengan dirinya. Mereka tidak dapat apa-apa. Tetapi ibadahnya mereka rusak sendiri. dengan bangga pula. Malang nian…!

Padahal sosok yang mereka dukung itu siapa, mereka juga tidak tahu. Ibadahnya seperti apa, Islamnya seperti apa, salat dan puasanya seperti apa, hajinya seperti apa, mereka tidak tahu bagaimana. Hanya Allah yang tahu rahasia yang tersembungi. Masak, untuk sosok manusia yang tidak memberi manfaat apa pun bagi dunia dan akhirat mereka, mereka rela merusak ibadah berat dan mahal yang mereka perjuangkan dengan sulit dan lama. Tragis nian.

Dulu, ada seorang alim berhaji bersama murid-muridnya, ke tanah suci. Murid-muridnya takjub melihat jamaah haji yang luar biasa banyak. Mereka kagum. Luar biasa jumlah jamaah haji tahun ini, kata mereka. Tetapi apa kata Sang Alim tadi?

“Seandainya kalian melihat apa yang aku lihat, kalian takkan takjub dengan mereka.”

Kemudian Sang Alim mengusap wajah murid-muridnya. Tiba-tiba, murid-murid itu melihat makhluk-makhluk yang menakutkan sedang tawaf mengelilingi ka’bah. Padahal sebelumnya Ka’bah itu dikelilingi oleh para jamaah berpakaian ihram putih, tetapi sekarang berubah menjadi binatang-binatang dan makhluk-makhluk yang menakutkan.

“Tubuh mereka berhaji, tetapi ruh mereka tidak. Mereka adalah orang-orang yang melakukan haji untuk dunia dan nafsu mereka. Maka ruh mereka berwujud seperti nafsu-nafsu mereka yang menakutkan,” ujar Sang Alim.

Begitulah. Setiap ibadah ada aktivitas tubuhnya, juga aktivitas ruhnya. Dan, ada (banyak) orang yang beribadah hanya dengan tubuh, tapi tidak dengan ruh. Jika salat ada yang namanya salat saahuun, hal yang sama bisa terjadi pada ibadah-ibadah lainnya.

Kita berlindung kepada Allah dari melakukan ibadah-ibadah secara saahuun, untuk nafsu dan urusan dunia. Semoga Allah menuntun kita ke jalan-Nya dan ridha-Nya. Aamiin

Bandung, 25 Agustus 2018

Mahya Lengka

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.