Hade Bacot, Hade Congcot

gonusa.com //– Lidah menampakkan isi hati. Apa yang ada dalam hati bisa terlihat melalui kata-kata. Melalui kata-kata, kita bisa menilai orang. Kata yang baik akan menjadi nilai baik bagi seseorang. Dan kata yang buruk akan menjadi nilai buruk pula.

Sangat penting kata yang terucap. Karenanya ia tidak boleh diucapkan sembarangan, atau tidak proporsional, atau tidak kontekstual. Setiap kata ada tempatnya. Dan setiap tempat ada kata-katanya yang pantas diucapkan. Likulli maqaalin maqaamun, walikulli maqaamin maqaalun.

Orang Sunda menyebut lisan dengan bacot. Bagi urang Sunda, bacot harus dijaga. Islam menyebutnya hifzhullisan, menjaga lidah. Mulut jangan asal mangap, tong padu calangap. Bacot harus dijaga agar terhindar dari kata-kata yang tidak baik.

Islam mengajarkan umatnya untuk produktif, termasuk dalam berkata-kata. Hanya saja bukan sembarang kata, melainkan kata-kata yang baik, qawlan khayran. Orang Sunda menyebutnya Hade Bacot. Berbicara yang baik itu merupakan perintah pertama sebagai orang beriman. Dan jika tidak bisa berbicara baik, maka orang beriman harus diam. Berdiam adalah perintah alternatif ketika berbicara yang baik tidak bisa dilakukan. Berdiam adalah perintah kedua setelah perintah untuk berbicara yang baik.

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, berbicaralah yang baik, atau diam,” begitu kata Nabi Saw.

Di sisi lain, berbuat baik adalah fitrah manusia. Manusia yang normal adalah manusia yang berbuat kebaikan dan kebajikan. Karenanya kebaikan disenangi semua orang. Kebaikan bahkan bisa meluluhkan jiwa manusia mana pun. Kebaikan memiliki kekuatan besar dan mempengaruhi. Seorang manusia bisa menjadi budak bagi kebaikan dari sesamanya. Seseorang rela menjadi “budak” bagi orang yang telah berbuat baik kepadanya. Itulah sebabnya disebutkan dalam sebuah pepatah Arab, “al-insaanu abdul ihsaan”, manusia itu budak bagi kebaikan.

Karenanya pula, setelah berbicara baik, kemestian berikutnya adalah berbuat baik (ihsan) atau memberi. Memberi itu memerdekakan jiwa. Memberi itu dapat mengubah. Baik bagi pelakunya, maupun penerimanya. Makin bernilai sebuah pemberian (sekalipun tidak harus mahal), makin besar pula pengaruh dan efeknya. Maka, pemberiannya juga harus baik. Congcot (pemberian) juga harus hade.

Oleh sebab itu, dalam rumusan akhlak leluhur Sunda tentang hal ini, bukan hanya pembicaraan saja yang harus baik, tetapi juga pemberian. Bukan hanya bacot yang harus hade, tetapi juga congcot.

Dalam ajaran Sunda, seorang manusia harus “hade bacot, hade congcot.”

Ungkapan ini kembali saya dengar dari Kang Dedi Mulyadi saat memberi sambutan sebagai Ketua TKD Jabar Jokowi-Ma’ruf di Bandung. Saat ketika Presiden Jokowi ikut menyimaknya.

Satu jempol untuk Kang Dedi
Satu jempol untuk Jokowi

Sampurasun

Bandung, 18 Nopember 2018

Bagea

Mahya Lengka

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.