Hadapi Politik Propaganda dengan Politik Budaya

gonusa.com //– Era politik citra sudah berakhir. Sebagus apa pun, politik citra bisa dikalahkan oleh politik gerilya, yakni politik kerja keras serta menemui dan membahagiakan masyarakat di setiap daerah.

Sekalipun awalnya politik citra menempatkan seorang figur seolah sangat sulit disusul, tetapi ia bisa dikalahkan oleh politik gerilya.

Akan tetapi, ternyata politik gerilya juga bisa dikalahkan oleh politik propaganda, yakni politik yang mengandalkan fitnah, pembodohan, kampanye hitam dan sikap menghalalkan segala cara.

Politik propaganda inilah yang telah mengalahkan politik gerilya Kang Dedi. Kampanye hitam dan fitnah yang diarahkan kepadanya masif dan viral, bahkan menjelang pencoblosan.

Kini pilgub sudah usai. Hingar bingarnya tinggal kenangan. Tetapi perjuangan mewujudkan visi takkan bisa dihalangi oleh sebuah kenyataan politik hari ini. Visi Jabar Sajati sudah masuk dalam alam bawah sadar masyarakat Jawa Barat, dan akan tetap menggerakkan kesadaran untuk melakukan kerja pelayanan dan kebaikan.

Politik propaganda boleh saja menyerimpung kaki perjuangan hari ini. Tetapi ia bisa ditaklukkan dengan Politik Budaya. Hanya saja, politik budaya membutuhkan waktu panjang dan kerja berkelanjutan.

Politik Budaya menjadikan politik sebagai kegiatan yang mencerdaskan, mendidik, mensejahterakan dan memuliakan manusia. Mencakup sektor pendidikan, ekonomi, keberagamaan, mata pencaharian, kesehatan, sosial, dan kehidupan secara umum.

Karenanya politik itu tidak bisa instan. Politik yang instan itu, dalam Istilah Kang Dedi Mulyadi, adalah politik prostitutif, politik mucikari, politik yang menjadikan rakyat sebagai objek kekuasaan. Oleh politik prostititif, rakyat didekati dan dimanfaatkan saat dibutuhkan, dan ditinggalkan beberapa saat kemudian.

Semua problem yang dihadapi oleh rakyat hingga hari ini adalah karena mereka dijadikan objek politik, oleh para politisi yang berperan sebagai mucikari politik. Jelas, politik seperti ini harus diakhiri.

Caranya adalah kita harus mengedepankan politik budaya, politik yang berbudaya, politik yang memuliakan rakyat, politik yang menjadikan rakyat sebagai subjek, politik yang selalu berada bersama rakyat kapan pun dan dalam kondisi apa pun.

Membangun politik yang mencerdaskan-mensejahterakan-membahagiakan itu tidak bisa dengan pencitraan, apalagi dengan propaganda dan pembodohan. Melainkan dengan kesungguhan dan kesinambungan, dalam sebuah aktivitas kebaikan hidup yang berkelanjutan.

Karenanya, kekalahan dalam sebuah perhelatan pilkada sama sekali takkan menghentikan langkah seorang pemimpin yang berpegang pada prinsip politik budaya. Itulah sebabnya, sekalipun gagal dalam pilgub 2018 ini, Kang Dedi tetap kukurusukan, tutulung dan tatalang seperti biasa.

Memang butuh waktu lama, menguras tenaga dan biaya, juga melelahkan jiwa dan raga. Namun, tentang hal ini Kang Dedi selalu menyampaikan (kurang lebih):

“Seperti ikan yang berenang setiap saat di air, tidak berhenti, dan ia tidak cape. Karena air adalah kehidupannya. Kalau saya sering menemui masyarakat di berbagai daerah, dalam sehari bisa berkunjung ke berbagai tempat, itu karena mereka adalah kehidupan saya. Orang yang menikmati kehidupannya, takkan kelelahan.”

Jadi, teruslah berbuat baik, membantu dan menolong sesama, mencerdaskan dan memasukkan rasa bahagia ke dalam hati mereka.

Kelak, akan tiba saatnya di mana politik budaya akan menenggelamkan politik propaganda. Politik gerilya dikalikan politik budaya hasilnya adalah memakmurkan dan memuliakan rakyat.

Dan setiap kita mesti mengambil peran dalam perjalanan sejarah yang sangat penting bagi kita semua ini.

Sampurasun, Jabar Sajati…
Dangiang Ki Sunda….

Bandung, 1 Juli 2018

Bagea

Mahya Lengka

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.