Freeport 51 %, Kembalinya Martabat Indonesia

Alhamdulillah, kini salah satu aset bangsa yang sangat berharga itu telah dikuasai secara mayoritas oleh bangsa Indonesia. Semula hanya 9 %, kini telah resmi naik sebesar 51 %. Dengan porsi ini, dipastikan keuntungan yang diterima Indonesia akan jauh lebih besar. Bukan hanya dari segi ekonomi, tetapi juga segi-segi yang lainnya.

Keinginan untuk mengambil Freeport sudah banyak disuarakan dari dulu oleh para pecinta negeri ini. Di antara perjuangan reformasi dulu juga adalah untuk ini. Tapi saat itu belum juga berhasil. Dan baru berhasil pada masa pemerintahan Jokowi sekarang.

Pasti Jokowi mengalami kesulitan dan tantangan berat. Namun akhirnya dengan kengototan khasnya, kerja-kerja-kerjanya, Presiden yang sederhana dan penyabar ini berhasil mewujudkannya. Perusahaan AS itu tidak bisa berkutik lagi, dan harus tunduk kepada Indonesia.

Dulu, IMF pernah memperlihatkan gestur yang melecehkan Indonesia, dengan tangan bersedekap menyaksikan Soeharto menandatangani dokumen bersama IMF. Tapi kini Freeport meletakkan tangan kanan hormat di dahi kepada Jokowi, dan harus mengikuti kebijakan Indonesia. Jika Freeport masih mau di sini, ikuti keinginan asli Indonesia. Jangan lagi jumawa di negeri Nusantara.

Kalau tahun ini tidak diselesaikan, maka Freeport akan terus mencari cara (lobi dan lain sebagainya) untuk terus menguasai kandungan harta karun di Papua. Memperpanjang lagi, bikin kontrak lagi, sesuai keinginan mereka.

Namun kini langkah mereka sudah ditutup oleh pemerintah RI. Serahkan saham mayoritas kepada Indonesia (divestasi) hingga 51 %, dan mereka tetap harus menyelesaikan pembangunan smelter dan lain-lain. Ketimbang harus hengkang lebih cepat, Freeport akhirnya mau memenuhi semua persyaratan dari Indonesia.

Dengan proses ini, maka alih teknologi terjadi secara elegan dan efektif, manajemen Freeport harus bekerja untuk Indonesia, SDM Indonesia mendapatkan kesempatan belajar dari mereka hingga ke bagian strategis, Indonesia menikmati keuntungan bisnis dengan besar, masyarakat Papua turut menikmatinya (dengan 10 % hak khusus), dan lain sebagainya. Kelak ketika saatnya tiba, SDM Indonesia siap mengambilnya 100 %.

Perjuangan ini pasti tidak mudah. Sebab ada perlawanan dengan menggunakan berbagai jalur yang diarahkan kepada pemerintah. Termasuk juga menggunakan black campaign. Masih ingat khan, ketika pemerintah tengah berjuang mengambil aset dari Freeport ini, di dalam negeri justru ada sosok yang dikenal temperamental yang bilang Indonesia harus menghargai AS. Sebelumnya juga ada kasus Papah Minta Saham.

Lalu dari pihak luar sana sendiri, memangnya Amerika diam saat Freeport diambil oleh Jokowi? Tentu tidak. Seperti kata Rheinald Kasali, saat Jokowi memulai renegoisasi Freeport, pihak Amerika marah dan ingin menggoyang Jokowi. Ada dugaan, kasus penembakan dan pembunuhan para pekerja di Papua kemarin tidak mungkin beraksi independen.

Namun alhamdulillah, semua rintangan itu berhasil dilewati. Dan kini Indonesia makin menambah daftar kembalinya aset-aset strategis dari asing ke bumi Pertiwi. Sebelum Freeport, kita juga sudah mendapatkan kembali hak kelola Blok Rokan. Kita juga segera mengambil hak pengelolaan ruang udara Batam dari Singapura. Kekayaan dasar bumi dan ruang udara kembali menjadi milik kita. Dan itu aset-aset strategis bangsa.

Pertumbuhan dan pembangunan terus dipacu. 10 Bandara baru dibangun. Bendungan baru dibangun. Pelabuhan lama difungsikan, yang baru juga dibangun. Hampir 1000 km ruas jalan tol selesai dibangun, dengan rincian 200 an km pada masa 30 tahun pemerintahan Soeharto, 75 km pada masa 10 tahun pemerintahan SBY, dan 616 km pada masa hanya 4 tahun pemerintahan Jokowi. Dengan visi kuat dan kerja ngotot pemerintahan Jokowi, ternyata 616 km ruas tol itu dapat dikerjakan hanya dalam 4 tahun saja.

Kekayaan laut yang semula banyak dicuri asing, kini dikuasai kembali oleh Indonesia. Dan sekarang produksi hasil laut meningkat pesat. Baru saat ini Indonesia kembali berjaya dan berkuasa di laut dan samudera sendiri.

Dan lain-lainnya.

Ini ekspresi syukur yang kian melejitkan optimisme. Ketika ada orang atau kalangan yang berhalusinasi bahwa Indonesia akan bubar atau punah, justru kita menyaksikan optimisme itu makin besar dan terlihat nyata. Yang bermimpi punah, silakan punah sendirian saja. Sedangkan energi kemajuan terus menjalari jiwa-jiwa optimis penuh harapan. Sekaranglah sangat terasa bangganya jadi bangsa Indonesia. Indonesia kian maju.

Ada pihak yang menyayangkan keberhasilan kita ini. Mereka bilang, Freeport bisa kita dapatkan secara gratis setelah kontrak habis pada 2021. Benarkah?

Berdasarkan keterangan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) melalui akun Instagram @kementerinbumn, di Jakarta, Sabtu (22/12/2018), anggapan Indonesia bisa menguasai Freeport dengan gratis pada 2021 tersebut tidak benar.

Kendati kontrak Freeport Indonesia habis pada 2021, tapi tidak serta merta Indonesia bisa mendapatkannya dengan gratis. Karena, kontrak yang dibuat pada 1991 atau zaman Presiden Soeharto? menyandera pemeritah karena ada opsi untuk diperpanjang sampai 2041.

Jika opsi dalam kontrak tersebut dilanggar, maka Indonesia terancam digugat di pengadilan internasional. Jika kalah dalam pengadilan tersebut, maka Indonesia diwajibkan untuk membayar ganti rugi senilai puluhan triliun.

Dan, sebenarnya dulu juga SBY pernah mencoba mengusahakannya, tetapi gagal. Seperti ditulis oleh Mahfud MD dalam akunnya sebagai berikut:

“(Freeport-8) Stlh keluar UU No. 4 Thn 2009 Freeport msh ngotot ingin mempertahankan posisi kontraknya. Pemerintahan SBY sdh melakukan upaya2 tp gagal, selalu diancam akan diarbitasikan. Awalnya Pemerintahan Jkw pun kesulitan jg, tp akhirnya bs selesai: 51% saham kita miliki,” tulis @mahfudmd.

Intinya kita bersyukur atas prestasi besar ini. Pelajarannya jelas, bahwa tegas itu bukan dengan marah-marah. Berani itu bukan dengan mencak-mencak dan petantang petenteng. Pintar itu bukan dengan pandai bicara. Cerdas itu bukan dengan menebar ancaman dan ketakutan. Berwibawa itu bukan tunjuk-tunjuk di depan orang. Melainkan semua itu adalah dengan keterukuran, visi jauh, kinerja by design, kesabaran, keikhlasan, kesungguhan dan kengototan, dalam kerja-kerja kebangsaan dan keindonesiaan.

Jokowi sudah membuktikannya. Terima kasih, Presiden Jokowi. Membuat Indonesia bermartabat lagi. Terus maju membangun negeri.

Satu jempol untuk Jokowi.

Bandung, 23 Desember 2018

Mahya Lengka

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.