Filosofi Ketupat: Kupat, Laku Papat

Ketupat identik dengan lebaran Idul Fitri. Di masyarakat Indonesia, mengapa lebaran ini sering dibarengi dengan ketupat?

Simak ulasan berikut. Ketupat berakar dari kata kupat. Ditambah sisipan “et” setelah huruf pertama, jadilah ketupat. Menurut kisah yang disampaikan oleh Prof Mahfud MD dalam acara kultum Ramadhan di sebuah stasiun TV, kupat awalnya merupakan inisiatif yang diprakarsai oleh Sunan Bonang, saat penyebaran Islam di tanah Jawa.

Kupat itu singkatan dari Laku Papat, artinya Empat Perilaku, atau Tindakan Empat. Keempatnya berkaitan dengan capaian seorang Muslim setelah ia menjalani ibadah shiyam Ramadhan sebulan penuh.

Apa keempat laku tindakan tersebut?

Pertama, Lebar, atau lebaran. Setelah sempurna puasa sebulan, saatnya umat Muslim menikmati kebahagiaan, dalam ritual lebaran. Orang Arab menyebutnya Id. Orang Jawa dan Sunda menyebutnya boboran.

Kedua, Lebur. Dengan lebaran, kita melebur dosa, saling memaafkan dengan sesama. Meminta dan memberi maaf, agar dosa-dosa lebur dari setiap hamba.

Ketiga, Luber. Setelah puasa sebulan, setelah dosa dan salah lebur, maka seorang Muslim mendapatkan nikmat dan bahagia yang luber, penuh dan melimpah. Ungkapan gelas yang luber, artinya gelas yang penuh dengan air.

Keempat, Labur. Labur itu hiasan indah. Seperti rumah yang dicat, itu biasa disebut dengan dilabur. Dengan dilabur, rumah itu sedang diperindah dan dipercantik. Karenanya, setelah ketiga laku sebelumnya, maka seorang Muslim menjadi labur, indah. Indah akhlaknya, dan indah perilakunya.

Dan untuk mensyukuri empat laku usai menjalani shiyam sebulan itu, maka dibuatlah sebuah panganan khas yang dibuat dari anyaman daun kelapa yang berisi beras yang direbus.

Karenanya, kupat bukan sekadar makanan lebaran. Tetapi ia adalah sebuah perjalanan spiritual perilaku seorang hamba yang tunai menjalani laku puasa sebulan.

Kupat adalah wujud kesyukuran. Juga wujud kesadaran, pencerahan dan pemaknaan.

Jika di hadapan kita ada kupat sekarang, saatnya melihat kupat dengan penglihatan yang berbeda.

Makan dan nikmatilah kupat yang kita dapatkan. Jika pun tidak mendapatkannya, tetap nikmatilah makna kupat spiritual yang menjadi landasan mengapa kupat digagas dan dilahirkan…

Selamat kembali fitri dalam kesucian dan penghambaan tulus kepada-Nya… Suci pikiran, suci ucapan, suci perbuatan. Juga suci jari jemari dari penyebaran fitnah dan kebencian…

Minal aa’idiin wal faa’iziin…

Bandung, 12 Juni 2018

Ashoff Murtadha

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.