Empat Hal Pertama dan Penting dalam Membaca Al-Quran

Sebagai pengajar bahasa Arab, saya selalu menekankan bahwa membaca Al-Quran (yang berbahasa Arab itu) harus memperhatikan empat hal. Dan saya selalu melatih mereka untuk menerapkan keempat hal pertama dan penting ini.

Biar mudah dingat, saya singkat keempatnya dalam akronimi BeSeTeJe. Ini kepanjangan dari Benar, Sesuai, Tepat dan Jelas. Maksudnya begini: Benar makhrajnya, Sesuai harakatnya, Tepat panjang pendeknya, dan Jelas syiddah khiffahnya. Hal ini juga saya sampaikan dalam sebagian materi ceramah.

Mengapa kita harus memperhatikan empat hal tersebut? Karena itu semua berkaitan dengan makna, baik kata sebagai satuan maupun bangunan maknanya dalam kalimat. Lebih jelasnya, saya ulas di bawah ini secara singkat.

1. Tentang makhraj. Makhraj sbuah kata atau huruf harus dibaca dengan benar. Jika pengucapan sebuah huruf salah makhraj, ini bisa berakibat tertukarnya makna kata. Misalnya, kata INHAR. Perhatikan huruf “ha” dalam kata inhar. Jika makhrajnya dibaca dengan huruf HA (yang biasa kita sebut dengan HA besar, huruf setelah wawu dalam urutan huruf hijaiyah), maka arti kata “inhar” adalah “hardiklah”, atau “bentaklah”.

Namun jika makhrajnya dibaca dengan huruf “ha” (yang biasa disebut dengan ha kecil, yakni huruf setelah “jim” dalam urutan huruf hijaiyah), maka artinya “berkurbanlah”, seperti dalam ayat “fa shalli li rabbika WANHAR”, yang artinya “maka salatlah karena Tuhanmu dan BERKURBANLAH.”

2. Tentang harakat. Harakat sebuah huruf dan kata harus dibaca dengan sesuai. Dhammah dibaca dhammah. Fathah dibaca fathah. Dan kasrah dibaca kasrah. Terutama harakat pada huruf terakhir. Harakat dhammah itu bermakna subjek. Harakat fathah bermakna objek. Dan harakat kasrah bermakna alat, media atau tempat.

Contoh, kata RASUUL. Perhatikan tiga contoh kalimat ini. Fokuskan perhatian pata kata RASUUL, terutama pada huruf terakhirnya, yakni huruf LAM. Ada yang dhammah, fathah, dan kasrah. Lihat perbedaannya.

(a) “Laqad jaa`akum RASUULUN min anfusikum…” Yang artinya, “telah datang kepada kalian seorang rasul.” Siapa yang datang? Rasul. Rasul adalah subjek yang datang kepada kalian. Harakat dhammah pada huruf terakhir bermakna subjek.

(b) “Atha`tu RASUULAN. Artinya, “aku menaati seorang Rasul.” Dalam kalimat ini, rasul adalah sosok yang menjadi objek yang ditaati. Harakat fathah pada akhir kata menunjukkan bahwa rasul adalah objek dalam kalimat ini.

(c) “Dzahabtu ila AR-RASUULI.” Artinya, “aku pergi kepada Rasul.” Dalam kalimat ini Rasul menjadi tempat yang menjadi tujuan saya pergi. Karena diawali oleh huruf jarr “ilaa”, maka huruf akhir (lam) dari kata Rasuul menjadi kasrah.

Jelas berbeda makna sebuah kata ketika akhirnya berharakat dhammah, atau fathah atau kasrah. Karena berbeda, maka penting membaca harakat dengan benar, terutama di kalangan pemula. Lain halnya bagi kalangan tertentu yang memiliki ilmu, harakat tidak menjadi masalah bagi mereka.

Bukan hanya harakat huruf terakhir. Ada kalanya perbedaan makna juga terjadi ketika perbedaan harakat itu ada pada huruf awal atau tengah. Contohnya kata NAFSUN dengan NAFASUN. Perhatikan huruf “fa” di tengah kata. Kalau disukunkan, artinya adalah “diri” atau “jiwa”. Namun jika difathahkan, artinya adalah “nafas”. Nafas adalah udara yang kita hembuskan dari rongga dada atau paru-paru kita. Diri (jiwa) dengan nafas jelas berbeda.

Atau kata KIBRUN dan KIBARUN. Perhatikan huruf “ba”. Ada yang sukun (kibrun), ada yang fathah (kibarun). Kibrun berarti “kesombongan”. Kibarun berarti “masa tua”. Berbeda khan…?

3. Tentang panjang pendek huruf. Panjang pendek sebuah huruf harus dibaca dengan tepat. Jika sebuah huruf harus dibaca panjang, bacalah dengan panjang. Begitu pun jika harus dibaca pendek, bacalah dengan pendek. Bacaan yang tidak tepat bisa bermakna jauh. Sebagai contoh, perhatikan kata “QAATIL” (huruf qaf dibaca panjang) dengan QATIIL (huruf ta dibaca panjang).

Kata “QAATIL” berarti “pembunuh” atau “orang yang membunuh”, atau “subjek yang melakukan pembunuhan”. Sedangkan “QATIIL” artinya “orang yang terbunuh” atau “objek pembunuhan”. Yang satu berarti subjek, yang satu lagi bermakna objek. Berbeda jauh.

Atau kata RAAJIM dengan kata RAJIIM. Kata raajim artinya orang yang mengutuk atau merajam (sebagai subjek pengutuk). Kata rajiim artinya orang yang dikutuk, terkutuk objek kutukan). Kalimat “a`uudzu billaahi minasy syaythaanirrajiim” (huruf jim dibaca panjang), artinya “aku berlindung kepada Allah dari setan yang TERKUTUK.” Jika dibaca “RAAJIM”, maka artinya “aku berlindung kepada Allah dari setan PENGUTUK. Berbeda tidak? Ya jelas berbeda, sangat jauh.

4. Tentang syiddah dan khiffah. Perhatikan tasydid atau syiidah pada sebuah huruf. Jika huruf ada tasydidnya, bacalah huruf itu dengan ditekan. Jika tidak ada, ya jangan ditekan, melainkan bacalah dengan khiffah (ringan tanpa tekanan).

Contoh, perhatikan kata FALAAH, dengan kata FALLAAH. Perhatikan huruf lam dalam kedua kata di atas. Pada kata yang pertama, lam tidak bertasydid, sedangkan pada yang kedua, huruf lam bertasydid. Apa perbedaan arti keduanya? Kata FALAAH, artinya kebahagiaan atau kemenangan (hayya `ala al-falaah, artinya marilah menuju kemenangan). Sedangkan kata FALLAAH, artinya petani, orang yang menanam atau bertani. Bayangkan jika ada orang berazan dan ia membaca “hayya `ala al-FALLAAH. Maka artinya, “marilah kita menuju petani.”

Jadi, jelas sangat penting memperhatikan empat hal ini dalam membaca Al-Quran atau kata-kata Arab. Yakni menyangkut makhraj, harakat, panjang pendek, dan syiddah. Itulah sebabnya kita perlu belajar dan tajwid dan bahasa Arab.

Akan tetapi, penting saya sampaikan di akhir tulisan ini, bahwa tajwid dan bahasa Arab saja belum cukup untuk memahami Al-Quran. Jika seseorang hanya mengandalkan ilmu tajwid, bahkan termasuk plus bahasa Arab, maka ia memang bisa membaca Al-Quran dengan benar, sesuai, tepat dan jelas, namun ia bisa jadi belum bisa arif dalam melihat hal-hal lain yang belum ia ketahui.

Jika seseorang hanya mengandalkan kemampuan bertajwid dan berbahasa Arab, mungkin ia akan merasa dirinya sudah paling benar membaca Al-Quran. Padahal ada kebenaran lain yang mungkin belum ia pelajari dan mengerti. Ketika ketidakmengertian itu menggerakkan ia menyalahkan orang lain yang mungkin sudah belajar apa yang belum ia pelajari, maka ia bukan saja telah salah dan menyalahkan orang yang sudah paham sesuatu, bahkan bisa jadi ia akan menyebarkan kesalahannya itu kepada orang-orang lainnya yang sama-sama tidak mengerti atau lebih awam lagi.

Di antara beberapa hal yang perlu ia pelajari lagi itu misanya, ulumul Qur`an, ilmu tafsir, ilmu qira`at, bahkan ilmu hikmah. Dalam tulisan berikutnya insya Allah saya ingin menuliskan hal ini secara sederhana. Yang sudah membaca tulisan ini, bisa membaca kelanjutan tulisan berikutnya.

Semoga bermanfaat.

Bandung, 21 Oktober 2018

Ashoff Murtadha

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.