Duh Neno…!

Apakah selama ini kausembah Tuhanmu demi politik, atau demi orang yang sedang kaufiksikan sebagai sosok ideal?

Dulu saat Pilpres 2014, seorang perempuan berjilbab yang terlihat intelek, Ketum Srikandi pendukung sosok yang sama, menyebut junjungannya dengan berapi-api sebagai titisan Tuhan. Akidah yang jelas ganjil dan menyimpang. Jilbab di kepalanya seperti tidak mengindisikan apa-apa dalam pemahamannya tentang aqidah keislaman.

Kini tahun 2019, keganjilan akidah kembali terjadi karena pilpres. Kini pelakunya Neno Warisman yang tubuhnya selalu rapih berbusana Muslimah. Neno membaca puisi doa sambil menangis agar junjungannya menang dalam Pilpres 2019, sambil “mengancam” Tuhan akan kehilangan penyembah-Nya. “Kalau tidak menang, kami khawatir Engkau akan kehilangan para penyembah-Mu ya Allah.”

Begini Mbak Neno, kalau mau berdoa mah berdoa saja. Toh hak setiap hamba menyampaikan doa. Tapi perlu disadari dengan hati yang penuh iman, bahwa hamba Allah itu buaaanyak luar biasa, yang doanya tidak sama dengan doamu, bahwa Allah Mahatahu lahir batinnya semesta ini.

Setiap detik jutaan lebih doa makhkuk melesat kepada-Nya. Dan sebagiannya bisa jadi saling berlawanan satu sama lain. Sebagian meminta agar A didekatkan, sebagian lagi berdoa agar A dijauhkan. Lalu apakah kasih sayang Tuhan diukur dari sudut pandang pengabulan doa sebagian orang?

Jika Anda kaitkan ibadah dan penyembahanmu kepada Tuhan dengan kemenangan capresmu yang Allah lebih tahu rahasia dan sosoknya ketimbang Anda, maka apa makna jilbab yang bertengger rapih di atas kepalamu itu. Tubuhmu memang sudah berbusana Muslimah. Rapih dan bagus. Tetapi mulailah perhatikan pikiran dan lisanmu.

Berdoalah kepada-Nya dengan taslim dan ikhlas, sebagaimana taslim dan ikhlas pula menjadi hamba-Nya. Jadilah hamba-Nya karena Dia, bukan karena seseorang yang sampai hari ini masih kauelu-elukan seolah-olah seperti apa, padahal Dia sendiri lebih tahu semua hamba-Nya.

Jika engkau dan barisanmu mengancam takkan lagi menyembah Tuhan karena tidak mengabulkan permintaan politik, apakah pikiranmu belum diajak memahami ayat Al-Quran bahwa kekuasaan adalah milik-Nya, terserah Dia mau diberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki?

Lagi pula, lima tahun lalu jungjunganmu kalah, namun masjid malah tambah ramai, pesantren tambah subur, shalawatan makin menjamur, dzikir makin mengalun dan melesat, jamaah umrah Indonesia makin membludak, pengajian makin ramai, dan lain sebagainya.

Karena presidennya rajin salat, rajin puasa sunnah Senin Kamis, dekat dan takzhim dengan para ulama, Islamnya jelas, dekat dengan orang kecil, mempedulikan orang-orang yang tersisih, dan lain sebagainya. Apalagi kini wakilnya seorang kyai, ulama, ahli ilmu, ahli ibadah, dan mengurus kemaslahatan umat.

Apakah itu semua fiksi, mbak…???

Jika pun engkau berencana berhenti menyembah Tuhan karena calonmu kalah, sebaiknya batalkan. Apalagi sampai mengajak kerumunan orang yang sama-sama sedang hilang kesadaran….

Bandung, 22 Pebruari 2019

Mahya Lengka

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.