Dua Perempuan yang Berhak Memarahi Lelaki

Hanya dua perempuan yang berhak memarahi seorang laki-laki. Ibunya, dan isterinya.

Jika seorang lelaki pernah dimarahi ibunya, wajar. Malah seharusnya dalam seumur hidup ia pernah dimarahi. Seberapa sering, tergantung. Tidak indah hidup kalau ia belum pernah dimarahi ibunya. Dimarahi saat kecil, biasa. Dimarahi saat remaja, biasa. Dimarahi saat sudah dewasa dan berkeluarga, juga biasa. Itu ekspresi seorangi ibu karena masih memandang lelaki itu sebagai anaknya yang selalu disayangi dan diperhatikan. Kemarahan seorang ibu kepada anaknya adalah ikatan batin yang menyambungkan kasih sayang.

Bagi lelaki yang biasa dimarahi ibunya, justru ia akan kangen saat-saat ibunya marah. Bukan karena ia ingin melihat ibunya marah. Melainkan karena kemarahan ibu –dalam konteks tertentu– adalah bukti paling nyata dari kasih sayang seorang perempuan yang pernah mengandung dan merawatnya tanpa mengenal jam kerja.

Karenanya, apa pun kondisi psikologi si lelaki tadi, jangan pernah kesal saat dimarahi ibunya. Bahkan jika misalnya si ibu memarahinya di depan orang-orang, tersenyum saja. Biarkan si ibu menuntaskan kemarahannya, agar ia merasakan kelegaan hati karena mengekspresikan cinta kasihnya. Di sebagian masyarakat, dimarahi ibu itu merupakan tradisi sosial yang mengasyikkan, dan juga menghibur.

Ekspresi cinta dan kasih sayang bisa berbeda-beda. Termasuk seorang ibu kepada anaknya. Dan ia memiliki hak untuk memarahi anaknya, sekalipun anaknya jadi seorang pemimpin masyarakat. Dimarahi ibu bukan sebuah aib, malah sebuah kehormatan dan pengalaman bernilai. Karenanya, tidak perlu malu dimarahi ibu, ditegur, atau diomeli. Nikmat saja, sambil senyum-senyum.

Lalu bagaimana seharusnya sikap anak terhadap ibunya? Sabda Nabi, “Pandangan seorang anak kepada kedua orang tuanya dengan penuh cinta adalah ibadah.” Karena setiap ekspresi ibu pada anaknya didasari cinta dan kasih sayang, maka ia hanya berhak menerima tatapan cinta dari anak-anaknya.

Terus siapa lagi perempuan yang berhak memarahi seorang lelaki? Tentu saja isterinya. Sejak awal menikah telah hidup bersama, menjalani hidup susah dan senang bersama, lalu ia melahirkan anak-anak dan mengurus mereka, dan terus melayani suami dalam sisa-sisa hidupnya, dan lain-lain, adalah kebaikan-kebaikan yang menjadi hak isteri untuk pantas memarahi suaminya.

Bukan karena isteri harus marah kepada suami. Bukan. Melainkan, jika ia perlu marah kepada suaminya, itu sudah haknya. Bahkan seandainya kadang-kadang si isteri marah tiba-tiba tanpa alasan yang bisa dimengerti, jangan balas memarahi. Biarkan ia menyelesaikan kemarahannya, agar ia menemukan kelegaan hatinya.

Sebab, sebagaimana juga isteri, tentu saja seorang suami banyak kelemahannya. Toh suami bukan manusia suci yang bebas dari dosa dan kekurangan. Dan kelemahan itu seringkali diingkari oleh suami, padahal isteri sangat merasakannya dan terganggu. Tidak perlu gengsi karena merasa diri sebagai kepala keluarga, lalu melihat kemarahan isteri sebagai petaka dan pencemaran nama baik. Sama sekali tidak…!

Kemarahan isteri kepada suaminya bukan saja merupakan sebuah romantika dan dinamika kehidupan berumah tangga. Itu juga merupakan bagian dari ritual yang mampu menyegarkan kembali hubungan. Jika itu dihadapi dengan senyum dan kesyukuran, kemarahan atau omelan isteri itu adalah kenikmatan dalam bentuk yang lain.

Seorang suami jangan merasa terhina karena dimarahi isteri. Merasa terhina bukan sebuah kehormatan, melainkan sebuah tanda lemahnya kendali diri. Masak, cuma dimarahi atau diomeli isteri harus merasa terhina. Menghadapinya dengan lapang dada adalah lebih terhormat ketimbang membalas memarahi. Bahkan, cengengesan saat dimarahi isteri lebih baik untuk meredam kemarahannya agar segera reda.

Coba flashback, siapakah suami yang belum pernah dimarahi atau diomeli isterinya? Jika rumah tangganya sudah berlangsung cukup lama, tentu saja pernah terjadi kemarahan itu –dengan ekspresi yang macam-macam, termasuk ekspresi ngambek atau sejenisnya. Lain halnya dengan pengantin baru –apalagi baru sehari, mungkin belum ada marah-marahan, belum ada ngambek-ngambekan.

Kemarahan seorang isteri bukan saja merupakan ekspresi perhatian dan kepedulian. Juga bukan saja merupakan pertanda minta diperhatikan. Tetapi juga merupakan eksistensi sebuah rumah tangga. Kalau berumah tangga tidak ada marah-marahannya, tidak asyik juga.

Jadi, jika seorang lelaki dimarahi oleh isterinya –apa pun ekspresi dan intensitasnya– senyum-senyum saja. Tidak usah membalas. Pastinya setiap suami sudah memiliki strateginya sendiri untuk memberikan kelegaan emosi bagi isterinya. Dan membuat isteri lega itu bagian dari ibadah bagi seorang suami.

Begitulah, ibu dan isteri berhak dan pantas memarahi seorang lelaki. Sebaliknya, juga ada dua lelaki yang berhak memarahi seorang perempuan, yakni ayah dan suaminya. Alasannya sama dengan di atas. Tetapi hati-hati, kemarahan lelaki tidak boleh melebihi kemarahan perempuan…

Yang jelas, siapa pun yang mau marah kepada yang berhak menerimanya, gunakan takaran yang minimal saja. Jangan gunakan level tinggi untuk sesuatu yang sebenarnya ringan. Level yang digunakan juga menunjukkan kualitas kemarahan itu…

Bandung, 2 Nopember 201

Mahya Lengka

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.