Dari Jokowi ke Dedi Mulyadi

Jokowi bukan manusia sempurna. Tetapi ia seorang presiden yang telah melakukan banyak prestasi kerja mendasar dan besar yang dibutuhkan bangsa ini.

Salah satunya infrastruktur yg menjadi prasyarat pertumbuhan dan mobilitas. Jalan tol, jalur kereta, bandara, pelabuhan laut, bendungan, pembangkit listrik dan lain sebagainya banyak dibangun dengan cepat.

Mungkin ada yang bilang, “Rakyat tidak butuh infrastruktur, mereka butuh sembako murah.” Nah, orang ini belum paham bahwa infrastruktur itu sangat penting. Bagaimana mungkin sembako akan murah kalau jalan rusak, transportasi sulit, dan lain sebagainya. Barang-barang perlu diangkut antar daerah dan pulau. Kalau transportasi susah dan mahal, barang-barang akan mahal. Karenanya, agar barang-barang murah, infrastruktur harus tersedia dengan bagus. Infrastruktur adalah salah satu syarat yang sangat penting untuk membuat harga-harga murah.

Prestasi Jokowi yang lainnya adalah kebijakan yg mewujudkan sila kelima. Perhatian pada Indonesia Timur sangat nyata. BBM satu harga se-Indonesia itu bukan hal sederhana. Tetapi Jokowi mampu mewujudkannya. Setelah puluhan tahun RI merdeka, baru di tangan Jokowi Papua merasakan harga BBM yang sama dengan Jawa.

BBM naik? Sejak awal memerintah, Jokowi sudah menegaskan bahwa BBM mengikuti perkembangan pasar, dengan tetap mensubsidi beberapa jenis BBM yang dilindungi. BBM non subsidi naik turun. Dalam waktu terakhir, yang naik adalah jenis pertamax yang memang bukan bagi kalangan bawah. Bukan pertalite dan premium. Bertahun2 kita sering antri malam hari kalau besoknya ada kenaikan BBM. Tapi pada pemerintahan Jokowi, di pom bensin tidak ada antrian panjang seperti dulu lagi. Jangan katakan bahwa Anda menyukai antrian panjang ya. Kalau iya, ketahuan bohongnya. Antrian mengular itu menyiksa dan tidak produktif.

Kenaikan BBM tidak bilang-bilang? Wah… Mungkin yang mengatakan ini belum ngeh, bahwa sejak dulu pemerintah menegaskan bahwa BBM non subsidi mengikuti harga pasar.

Ohya, pencabutan subsidi berdampak pada penyeragaman harga BBM secara nasional lho. Menciptakan satu harga BBM secara nasional apalagi hingga Papua tentu meniscayakan adanya subsidi transportasi pengiriman BBM. Tidak apa biaya kirim mahal disubsidi, asal keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia terwujud.

TDL naik? Hemm. Bukan naik Akang, tetapi subsidi dicabut, kecuali bagi yang watt nya kecil. Kalau mau tetap dapat subsidi, warga bisa ubah daya listriknya ke yang berukuran kecil bersubsidi.

Dengan subsidi dicabut, pembangkit listrik dibangun lagi di daerah2 yang belum berlistrik. Banyak daerah yang dulu gelap kini terang. Keadilan sosial diwujudkan. Seperti kita, mereka di pedalaman dan luar Jawa juga ingin hidup terang dan menikmati fasilitas listrik.

Pada masa Jokowi juga, tahun ini, Papua mempunyai pabrik semen pertama. Dulu di sana satu sak semen bisa seharga lebih dari satu juta rupiah, padahal di Jawa berkisar 50.000 – 70.000 (naik turun). Dengan adanya BUMN Semen di Papua, maka harga semen di sana bisa murah. Pembangunan makin kencang dan pesat. Puluhan hingga ratusan ribu lapangan kerja tercipta. Dan lain-lain.

Jumlah kementerian bertambah, tidak sesuai rencana awal? Begini Mbak. Harus dibedakan antara langkah strategis dan teknis. Selagi untuk kepentingan strategi mewujudkan visi, langkah teknis bisa berubah sesuai kondisi aktual. Anda sendiri dalam hidup berapa kali harus mengubah cara untuk tujuan dan rencana hidup Anda yang sekupnya kecil. Lah, ini untuk negara yang lebih luas, kalau dibutuhkan, ya harus dilakukan…

Apakah itu karena bagi-bagi kekuasaan (power sharing)? Tentu saja ini mungkin demikian. Kita tahu, dalam 1-2 tahun pemerintahannya, Jokowi menghadapi goncangan politik yang luar biasa. Kita masih merasakan resonansinya hingga sekarang. Bahkan fitnah dan hoaks masih saja menyerangnya. Padahal pemerintah ingin kerja kerja kerja. Stabilitas politik harus diwujudkan agar program bisa dilaksanakan.

Yang saya apresiasi besar dr sosok Jokowi adalah dia tetap tegar, tidak baperan, tidak emosional, dan fokus pada kerja dn program. Dulu dia difitnah sebagai PKI, anak PKI, keturunan Tionghoa, kristen dll. Padahal semuanya dusta. Dia dituduh lemah. Padahal pada masanya RI (melalui Jokowi) berani mengancam RRC di atas kapal di laut Natuna saat ribut RRC mendekati perairan Indonesia. Pada masanya pula RI membangun rumah sakit di Palestina dan mendirikan Konjen Indonesia di Palestina. Baru pada era Jokowi RI memiliki konsulat jenderal di negeri yang dicaplok Israel. Bahkan RI pernah menghalau maskapai Israel yang pernah coba memasuki udara Indonesia.

Jokowi dituduh berpihak pada asing? Kok bisa…!! Begini ya. Tolong catat. Hanya pada masanya, 51 persen kepemilikan Freeport menjadi milik Indonesia, padahal sebelumnya hanya 9 koma sekian selama puluhan tahun.

Blok minyak terbesar di Indonesia yakni Rokan, tata kelolanya diambil alih dr Chevron ke Pertamina. Keputusan politik sudah diambil akhir Juli 2018 ini. Aset strategis bangsa mulai diambil alih oleh negara kita, atau BUMN kita.

Pada masanya hubungan bilateral RI makin variatif dn tidak bergantung pada salah satu negara, terutama AS. RI memperkuat hubungan ekonomi, politik dan pertahanan dengan Australia, India, Iran, Cina, Selandia, Jepang, Korea dan lainnya. Hubungan yg membuat negara adikuasa marah, karena dominasinya pada RI dipreteli.

Jokowi dituduh aseng? Kok bisa…?! Padahal pada masanya hubungan Indonesia dg berbagai negara makin berwibawa. Negara2 asing dan aseng tidak bisa lagi seenaknya kepada Indonesia, kecuali kalau mau ditenggelamkan Susi di lautan.

Jokowi tidak berpihak pada Islam? Wah, itu kuper namanya. Kurang apa pedulinya Jokowi pada Islam. Pada masanya, Hari Santri diberikan khusus. Hubungan dan acara dg para ulama sangat intens. Perhatian kepada pesantren di bidang ekonomi besar. Dia dan para menteri tiap tahun kompak membayar zakat dan difasilitasi tempatnya di istana. Pada masanya pula, kuota haji bertambah 10.000 sejak tahun lalu.

Dan lain sebagainya.

Ya, begitulah. Jokowi memang masih jauh dari sempurna. Tapi ia telah menunjukkan banyak kerja besar yg layak diapresiasi.

Orang boleh saja tidak suka dia karena tokohnya gagal berkuasa, atau ingin tokohnya nanti menggantikannya. Tetapi, fitnah abadi, hoaks abadi, kebencian abadi hanya akan menyakiti diri dan hati. Kalau tidak suka dia, boleh saja. Tetapi masak sih hidupnya selalu diisi dengan kebencian, fitnah, dan pembohongan. Kalau tidak suka dia, cukup tidak usah pilih dia nanti. Tetapi Islam melarang fitnah, tuduhan dusta, kebencian mutlak, provokasi, dan hal-hal negatif sejenisnya. Mengkritik boleh, tetapi tetap proporsional dan adil.

Beruntung Jokowi bukan sosok emosional. Ia tetap santai, senyum, dan bekerja menuntaskan janji yang tersisa. Diakui atau tidak, sikap tawadhu dan handap asornya, juga kesederhanaan dan kedekatannya dengan rakyat, merupakan keunggulan yang jarang dimiliki para pemimpin. Apa pun pilihan politik kita, agar jiwa kita sehat, sudah selayaknya kita mengapresiasi keunggulan ini, sekalipun apresiasinya sedikit ya tidak apa-apa. Lumayan, untuk membersihkan sedikit kerak dalam hati.

Tidak ada manusia sempurna semuanya lho. Juga, tidak ada orang yang buruk seluruh hidupnya. Mereka, juga kita. Lihat saja prestasinya, jangan kelemahannya. Siapa tahu kita bisa belajar.

Jujur saja, selain Jokowi, sikap-sikap unggul itu ada juga pada Kang Dedi, Ki Sunda. Secara nasional, dari segi prestasi yang terlihat dan terasa, (boleh setuju boleh juga tidak) Jokowi masih yang terbaik saat ini untuk menuntaskan janji dan rencana kerjanya.

Namun ke depan, saya berharap giliran KDM menggantikannya. Karena saya melihat, dalam banyak hal KDM lebih unggul dari Jokowi.

Sekarang Jokowi masih yang terbaik. Dan KDM adalah the next Indonesian leader… Pada saatnya nanti, insyallah pasca Jokowi.

Mungkin saja tahun 2024, dan itu tidak lama….

Visi, narasi dan prestasi Ki Guru Dedi Mulyadi dalam membangun daerahnya selama ini, dibutuhkan masyarakat secara lebih besar lagi. Lebih luas lagi.

Terus mengabdi membangun negeri….
Dari Jokowi, ke Kang Dedi…
Tetap Jokowi, tetap Kang Dedi…

Salam rahayu…

Bandung 6 Agustus 2018

Bagea

Mahya Lengka

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.