Category Archives: Mindset

# 31 : Memaafkan Itu Menyehatkan

Melupakan kesalahan orang yang tertuju kepada kita, akan menyehatkan pikiran. Pikiran yang sehat akan menjadi lebih produktif dan berenergi. Sedangkan pikiran yang sakit akan segera sehat dan menemukan kesegarannya kembali….

Sebaliknya, mengingat kesalahan orang apalagi mempermasalahkannya justru akan membuat hati yang sehat menjadi sakit, yang sakit semakin terluka. Dan hati yang terluka takkan memberikan pemiliknya kesempatan untuk bahagia.

DEFINISI ITU SANGAT PENTING

Jika membahas tentang definisi, saya selalu teringat kata-kata Voltaire berikut:
“If you wish to converse with me, define your term…”
Definisikan dulu istilah-istilah kunci yang hendak menjadi bahasan. Jangan sampai kita berpanjang-panjang berdiskusi tentang suatu hal, padahal kata-kata kunci dalam tema itu sendiri kita tidak sepikiran, tidak satu definisi… Akibatnya, terjadilah debat kusir.

# 179: Percaya Dirilah dengan Keunggulan yang Kaumiliki

Jika pun engkau tidak memiliki keunggulan di satu hal yang mereka miliki, engkau pasti memiliki keunggulan lain yang tidak dimiliki oleh sebagian mereka….

Engkau tidak perlu minder karena keunggulan yang tidak kaumiliki, justru engkau harus percaya diri karena keunggulan yang pasti kaupunyai…

Tidak masalah mereka unggul di satu atau beberapa hal yang engkau tidak bisa, namun engkau pun pasti unggul di hal lain yang mereka tidak bisa pula….

Target Itu Menentukan Semangat

Apa yang diperjuangkan seseorang itu menentukan semangatnya.

Jika yang diperjuangkannya besar, semangatnya tinggi dan kuat. Jika yang ia perjuangkan kecil, semangatnya rendah dan lemah.

Nabi Saw. mencontohkan selalu mendawamkan 70 atau 100 kali istighfar sebelum tidur. Angka tersebut adalah target yang bisa diacu siapa pun sebelum matanya terpejam. Orang yang tidak bertarget dengan angka apa apun, sangat besar kemungkinannya, mata dan kesadarannya terlelap sebelum sempat beristighfar satu kali pun.

# 61 : Jika Engkau Kuat, Penyakitmu Lemah.. Jika Engkau Lemah, Ia Kuat

Setiap orang pernah merasakan sakit… Bahkan sakit memang harus dialami oleh setiap yang hidup, agar hidup dengan semua karunia di dalamnya bisa lebih disyukuri….

Setiap orang pernah merasakan sakit… Tetapi berbeda cara orang menyikapi dan memperlakukannya… Ada orang yang melihat sakit sebagai sesuatu yang membuatnya sulit…. Ada juga orang yang memandang sakit secara sederhana, sehingga tidak membuatnya sengsara….

# 52 : Jika Benar Sedang Sulit, Perbesar Harapanmu…!

“Harapan adalah rahmat bagi umatku. Kalau bukan karena harapan, niscaya seorang ibu takkan mau menyusui anaknya, dan seorang penanam takkan mau menanam pohon…” (Nabi Saw.)

Kurang apa sulitnya seorang ibu menyusui, mengurus, memandikan, menyuapi, melindungi dan menyayangi anaknya? Kurang apa lelahnya tenaga yang telah ia salurkan? Kurang apa besarnya energi yang telah ia keluarkan? Kalaulah bukan karena harapannya yang indah yang muncul dari seorang bayi yang tengah disusuinya… Kalaulah bukan karena optimisme yang besar yang lahir dari sosok bayi mungil yang sama sekali tidak ia ketahui bagaimana hidupnya di kemudian hari….

# 160 : Berbuat Salah Adalah Anugerah

Berbuat salah itu bisa berakibat buruk, juga sebaliknya bisa berakibat baik… Jika kesalahan mengakibatkan seseorang lalai, lupa diri, dan celaka, maka kesalahan tersebut buruk…. Namun jika kesalahan itu mendorong seseorang untuk mawas diri, mengubah dirinya lebih baik, serta menyadarkan dan mengubah dirinya lebih baik, maka kesalahan tersebut baik…

Maka tidak mengapa seseorang pernah berbuat salah, asal kesalahannya itu membuatnya lebih baik… Justru menjadi masalah, jika ada orang yang berbuat benar, tapi kemudian kebenarannya menjerumuskannya pada sikap dan tindakan yang salah… Orang yang menjadi baik setelah berbuat salah, sungguh lebih baik daripada orang yang menjadi buruk setelah berbuat benar…

# 62 : Jika Mereka Sangat Pede Berbuat Buruk, Mengapa Engkau Minder Berbuat Baik?

Ah… mengapa harus minder berbuat baik…? Mengapa harus minder merencanakan dan mengimpikan kebaikan masa depan…? Mengapa harus minder mengkontribusi kebaikan bagi diri dan orang-orang yang bisa dijangkau…? Mengapa harus minder dan terlalu banyak kecemasan saat hendak memulai sebuah kebaikan atau meneruskannya…?

Sungguh di depan kita banyak orang yang begitu percaya diri memamerkan keburukan, demikian cuek mencelakakan orang, tidak tahu malu berbuat buruk dan keji, tidak nampak sedikit pun kecemasan saat berlaku nista… Mereka bahkan masih bisa berjalan tegak penuh percaya diri, melemparkan senyum menggaet simpati, sambil mengatur bahasa tubuh agar pandangan positif publik bisa kembali…

close