Carilah Tempat yang Luas

Kalau mau bahagia, datangi tempat atau orang yang menjadikan kebahagiaan sebagai pilihan hatinya. Bergabunglah bersama mereka, hiduplah dengan kebiasaan mereka.

Jika kita hidup bersama orang-orang yang selalu murung, pesimistis, frustrasi, dan melihat hidup selalu dalam kacamata hitam, maka kita akan seperti mereka. Kalau kita bergaul dengan para pembenci dan tukang fitnah, kita juga akan menjadi pembenci dan pemfitnah.

Jika kita bergaul dengan para pecinta, hati kita akan dipenuhi cinta dan menebarkan kecintaan kepada yang sesama. Seorang manusia akan hidup dan berperilaku sesuai dengan lingkungan dan habitatnya.

Luas dan sempit hati itu pilihan, bukan keterpaksaan. Seseorang bisa memilih apakah hatinya mau lapang ataukah sempit, terlepas seperti apa pun kondisi fisiknya. Keikhlasan hati itu juga pilihan.

Kondisi hidup boleh jadi suatu waktu ada saat-saat sulitnya. Tetapi kita bebas memilih apakah mau berada dalam suasana hati yang lapang, atau sempit. Yang jelas, hati yang luas akan memudahkan hal sulit berubah jadi mudah lebih cepat.

Dalam Al-Quran, Allah saja menghendaki kemudahan, bukan kesulitan. Nabi juga memerintahkan agar kita berlapang-lapang dalam majlis, dalam tempat duduk, atau dalam aktivitas hidup. Tafassaahuu fil majaalis. Kata “al-majaalis” dalam hadits ini tidak melulu dipahami sebagai tempat duduk atau kumpul-kumpul. Tetapi bisa diperluas lagi menjadi seluruh aktivitas dan dimensi dalam hidup.

Karenanya, carilah tempat yang luas. Dan perluaslah medan yang sempit. Hiduplah di tempat yang luas, jangan membiarkan diri bergumul di tempat yang sempit.

Sebab, medan yang luas akan meluaskan diri dan pandangan, menjadikan tantangan sebagai peluang. Sedangkan ruang yang sempit akan mengerdilkan diri dan menyempitkan hati. Dalam diri yang kerdil, bahkan karunia pun akan terlihat sebagai bencana. Hati yang sempit itu akan membelenggu.

Tong pagelek-gelek di nu heurin. Tong pajenggut-jenggut jeung nu dugul.

Berlapang-lapanglah, berluas-luaslah. Perbesar medan diri, jangan hanya berkutat di tempat yang sempit. Karena, potensi manusia jauh melebihi apa yang sudah ia wujudkan. Semakin besar medan dirinya, makin besar pula potensi yang bisa ditransformasi menjadi bukti.

“Hiduplah di tempat yang luas, kesempitan membuat kita terbelenggu,” tulis Kang Dedi Mulyadi dalam akun Facebooknya, sebagai ucapan selamat Tahun Baru 1 Muharram 1440.

Semoga kita semua menjadi hamba-hamba-Nya yang selalu bersyukur, tetep muja-muji ka Nu Maha Luhur, tetep sumerah ka Nu Maha Nyaah, meredih ukur ka Nu Maha Asih. Sing wening galih suci ati. Lega jiwa jembar manah. Salamina hirup dina karahayuan tur kabagjaan.

Aamiin.

Selamat Tahun Baru 1 Muharram 1440 Hijriah.

Bandung, 11 September 2018 / 1 Muharram 1440

Ashoff Murtadha

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.