Cara Pandang Bencana Alam

Setiap kali ada bencana alam atau musibah yang berkaitan dengan alam di Indonesia, selalu ada pihak yang mengaitkannya dengan kemaksiatan para penduduk di mana bencana alam terjadi. Apakah pengaitan tersebut logis dan relevan? Mari kita teruskan tuliskan ini.

Dulu ketika terjadi tsunami Aceh yang menelan korban meninggal lebih dari 100 ribu jiwa, 26 Desember 2004, saya mendengar seorang khatib jumat di sebuah masjid di Bandung yang menceramahkan bahwa gempa tektonik dan tsunami dahsyat itu merupakan azab dari Allah bagi orang-orang Aceh.

Mau tahu apa alasan sang khatib berkata demikian? Seolah tanpa beban ia menyampaikan bahwa alasannya adalah karena di Aceh banyak ditanami ganja. Ganja adalah tanaman terlarang, sehingga keberadaannya merupakan kemaksiatan. Jadi, menurutnya, karena banyak tanaman ganja, Aceh dihancurkan dengan tsunami (?).

Yang masih baru, Agustus 2018 kemarin, Lombok terkena bencana gempa yang besar, menimbulkan banyak korban jiwa dan kerusakan yang parah. Segera setelah bencana gempa terjadi, ada sejumlah kalangan yang santer memviralkan di medsos bahwa bencana gempa di Lombok NTB terjadi akibat pilihan politik Gubernur NTB yang berbeda dengan pilihan mereka. Mereka menganggap pilihan politik Gubernur itu sebagai kemaksiatan dan kejahatan, sehingga menyebabkan turunnya bencana alam bagi rakyatnya (?).

Yang paling mutakhir, tanggal 28 September 2018, terjadi lagi gempa dengan skala 7,4 skala richter di Donggala Palu Sulawesi Tengah, yang menyebabkan tsunami di daerah pantai. Sekalipun tidak sedahsyat tsunami Aceh, namun hingga sore tanggal 29 September, hanya dalam sehari, sudah ditemukan 384 korban jiwa akibat bencana ini.

Subuh tanggal 29 September 2018, dalam kultum subuh di sebuah masjid, seorang penceramah menyampaikan kalimatnya. Katanya, kurang lebih, “Mengapa di Donggala terjadi bencana tsunami, mengapa di Lombok terjadi bencana gempa yang menelan korban jiwa? Karena di pantai-pantai itu biasa terjadi kemaksiatan, karena di pantai banyak (maaf) sumur –susu berjemur. Akibat dosa sebagian orang itulah maka bencana ditimpakan di daerah itu, dan dampaknya tidak hanya mengenai “sumur-sumur” pendosa melainkan semua orang di kawasan.” (?)

Cukuplah tiga kasus ini saja sebagai contoh. Contoh-contoh lainnya silakan Anda tambahkan, dari kasus-kasus bencana yang pernah terjadi di negeri ini. Kesimpulannya, bencana-bencana alam yang terjadi di negeri ini dipicu oleh menyebarnya kemaksiatan di daerah tersebut.

Benarkah cara pandang seperti itu? Mari kita kembalikan ingatan saat musim haji bulan Dzulhijjah kemarin, Agustus 2018 ini. Di Tanah Suci terjadi angin kencang yang menerbangkan tenda-tenda. Di sebagian tempat terjadi banjir. Beberapa tahun lalu, pada musim haji 2015, bahkan terjadi kasus crane jatuh yang menewaskan sekian jamaah haji.

Namun, menanggapi kejadian di tanah suci tersebut, adakah kalangan di negeri ini yang menyebut musibah itu diakibatkan karena kemaksiatan orang-orang di sana? Silakan diingat-ingat. Saya tidak mengingatnya. Yang saya ingat, berkaitan jatuhnya crane di Tanah Haramain itu, malah ada kalangan di negeri ini yang menyebut bahwa musibah crane itu diakibatkan karena sebelumnya ada kunjungan Presiden Jokowi ke Saudi Arabia, melakukan kunjungan kenegaraan menemui Raja Saudi. Kata mereka, gara-gara kunjungan Jokowi ke Saudi, crane di Makkah jatuh dan menewaskan jamaah haji. (?)

Bencana alam di Indonesia dipandang sebagai “azab” atas kemaksiatan para warga daerah setempat. Sedangkan bencana di Tanah Suci tidak. Bahkan, jika pun harus ada yang disalahkan, itu harus seorang sosok dari Indonesia yang tidak mereka sukai. Aneh tidak?

Jika gempa dan tsunami Aceh, gempa Lombok dan gempa-tsunami Donggala (anggap saja) terjadi karena kemaksiatan orang-orang di daerah tersebut, lalu mengapa bencana alam serupa tidak terjadi di daerah-daerah maksiat lainnya, yang bahkan kadar kemaksiatannya jauh di atas daerah-daerah tadi?

Ada beberapa kota besar di negeri ini. Umumnya, di kota-kota besar biasanya banyak perilaku maksiat dan kejahatan yang dilakukan oleh (sebagian) penghuninya, dengan kadar yang luar biasa. Sampai ada yang bilang, “Sebutkan semua jenis kejahatan dan kemaksiatan manusia sepanjang sejarah dari zaman Nabi Adam hingga saat ini. Semuanya ada di kota-kota besar, apalagi kota yang paling besar. Kita saja yang tidak tahu.”

Pertanyaannya, mengapa bencana alam berupa gempa, tsunami, mungkin juga gunung meletus tidak terjadi di kota-kota besar itu? Jika kemaksiatan menjadi awal terjadinya bencana-bencana alam itu, mengapa bencana serupa tidak ditimpakan di kota-kota yang kemaksiatannya jauh lebih besar dan beragam? Mengapa gempa-tsunami itu harus terjadi di Aceh, Pangandaran, Lombok, dan kini Donggala?

Saya tidak sependapat dengan ceramah dan cara pandang orang-orang tersebut. Bahkan ada perasaan miris. Memang dalam sebuah ayat Allah berfirman, bahwa “Kerusakan (al-fasad) muncul di darat dan laut karena ulah tangan manusia.” Apakah ayat ini berkenaan dengan bencana alam semisal gempa dan tsunami? Jika gempa, tsunami, gunung meletus, dan sejenisnya terjadi karena kemaksiatan penduduk, bukankah itu sudah berulang terjadi sebelum ada kehidupan ini, sebelum ada berbagai kemaksiatan yang dilakukan oleh manusia?

Dulu langit dan bumi menyatu, lalu Allah memisahkan keduanya dengan dentuman yang sangat luar biasa, yang disebut dengan big bang. Setelah terpisah, bumi mengalami proses alami yang luar biasa, termasuk gunung-gunung meletus dan lain sebagainya. Dan itu merupakan kemestian dalam proses penyempurnaan penciptaan bumi agar layak dihuni oleh semua makhluk hidup.

Khusus bumi Nusantara ini, ada banyak gunung-gunung berapi, berada di atas beberapa lempengan bumi. Pada waktunya, gunung-gunung berapi itu akan meletus, bahkan berkali-kali dalam rentang waku yang lama. Dan itu merupakan proses alami yang mesti terjadi. Itu bagian dari sunnatullah. Lalu, di dasar bumi juga terjadi pergerakan. Sehingga lempengan-lempengan bumi itu menyesuaikan diri. Itu pun bagian dari sunnatullah untuk bumi.

Proses alami itu tentu saja memiliki dampak besar yang akan dirasakan oleh makhluk hidup di atasnya. Dampak itulah yang disebut dengan bencana alam. Daerah mana yang akan terkena dampak gunung meletus? Tentu saja daerah yang paling dekat atau dekat dengan gunung berapi tersebut? Daerah mana yang akan terkena dampak tsunami? Tentu saja daerah yang dekat dengan titik gempa tektonik yang terjadi di laut, sehingga tsunami dikirimkan ke daerah pantai dan sekitarnya.

Kota-kota besar yang jauh dari lokasi gempa atau tsunami, atau gunung meletus, tentu saja takkan terkena dampak dari bencana-bencana tersebut, sekalipun kota-kota besar itu full kemaksiatan yang luar biasa. Bencana alam hanya akan mengenai daerah-daerah yang memang rawan bencana alam, terlepas apakah itu daerah maksiat atau bukan.

Harus dibedakan antara bencana alam dengan kerusakan akibat ulah tangan manusia. Jika sebuah kota terkena banjir besar karena salah dalam menata kota atau karena buruknya perilaku manusia terhadap lingkungan, itu baru dinamakan dengan kerusakan yang dimaksud dalam ayat Al-Quran di atas.

Kehancuran sebuah negara akibat perang, itu juga akibat ulah tangan manusia. Pencemaran laut, juga akibat ulah tangan manusia. Hutan gundul yang berakibat longsor, juga merupakan kerusakan akibat ulah tangan manusia. Orang-orang mati karena tertimbun oleh gunung sampah, juga merupakan kerusakan yang dibuat oleh tangan manusia. Kasus-kasus seperti inilah yang dimaksud dengan kerusakan (al-fasad) dalam ayat di atas.

Jadi, sekali lagi, harus dibedakan antara bencana alam dengan kerusakan akibat ulah tangan manusia. Sehingga memandang bencana alam jangan disamakan dengan memandang kerusakan yang diakibatkan oleh kejahatan dan dosa manusia.

Ketika daerah kita tidak terkena bencana alam, sementara daerah orang terkenai, lalu kita berkata bahwa daerah orang itu merupakan daerah maksiat, berarti kita sedang melakukan beberapa keburukan: Pertama, menuduh daerah orang sebagai daerah dosa. Kedua, menyakiti perasaan penduduk setempat yang terkena musibah. Ketiga, kita merasa bahwa kita adalah orang-orang suci yang aman dari bencana. Dari segi dosa, jangan-jangan kita lebih pantas menerima azab ketimbang mereka. Keempat, kita akan membenarkan sikap tidak berempati kepada korban. Kelima, mungkin akhirnya kita merasa tidak perlu mengulurkan tangan bantuan. Dan lain sebagainya.

Semoga kita makin arif dalam memandang musibah dan bencana. Baik yang menimpa orang lain, maupun diri kita sendiri. Semoga para korban diberi kesabaran dan kemudahan. Dan kita semua mendapat hikmah besar dari setiap kejadian yang menimpa kita dan saudara-saudara kita semua. Aamiin.

Bandung, 29 September 2018

Ashoff Murtadha

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.