Budayakan Apresiasi…!

Sejenak kita berbincang tentang hal yang ringan hari ini, setelah semalam, kemarin, minggu lalu dan bulan lalu, mata dan pikiran kita sudah terlalu banyak disodori hal-hal serius. Dengan perasaan yang tegang dan jantung deg-degan pula.

Sekarang kita bicarakan hal-hal ringan dulu saja. Bukan karena kita tidak memiliki hal-hal serius dan penting hari ini. Bukan. Tentu saja banyak yang harus kita selesaikan hari ini dan esok. Selagi kita masih hidup, siapa sih yang tidak lagi memiliki pekerjaan yang tertunda yang harus dihadapi dan diselesaikan? Pastinya semua orang punya.

Akan tetapi, justru untuk menghadapi hal-hal serius itu pulalah kita perlu mengulas hal ringan ini. Ringan, tapi sangat penting, setidaknya menurut saya dan tidak sedikit orang. Saya yakin Anda pun sepakat dengan hal ini. Tentang apa? Ini… Apresiasi.

Apresiasi adalah sebuah sikap menghormati, menghargai, mengakui, bahkan dalam tahap tertentu, memuliakan. Wujudnya bisa berbentuk ucapan, tindakan, atau gestur dan bahasa tubuh.

Setiap orang membutuhkan apresiasi. Jika ada yang mengatakan tidak membutuhkannya, ia berbohong. Apresiasi adalah satu dari kebutuhan dasar manusia. Dean R Spitzer merumuskan ada delapan kebutuhan dasar manusia. Ia mennyebutnya dengan Human Desires. Salah satu dari delapan itu adalah desire for recognition, hasrat untuk diakui.

Setiap orang memiliki hasrat untuk diakui. Pengakuan itu merupakan bagian dari apresiasi. Sejauh hasrat tersebut proporsional, ia akan sangat positif dan menyehatkan jiwa seseorang yang menerimanya. Orang itu bahkan bisa jauh lebih produktif karena apresiasi yang ia terima secara proporsional itu.

Lain halnya jika ucapan pengakuan atau apresiasi itu ia terima secara tidak tepat, atau malah tidak tulus. Bagi orang yang jiwanya sedang buruk, apresiasi yang tidak tepat atau tidak tulus bisa diterima sebagai bentuk penghinaan, setidaknya tidak membuatnya berpikir baik. Kecuali jika diterima oleh pribadi yang positif, maka apa pun bentuk apresiasi yang ia terima, maka ia akan baik-baik saja.

Akan tetapi, sekalipun pengakuan itu kebutuhan dasar manusia, namun orang yang bekerja atau berpenampilan baik hanya untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain, jelas itu tidak sehat juga. Tidak baik bagi dirinya, dan orang sekitar pun tidak akan menyukainya. Orang yang berbuat sesuatu hanya untuk dipuji, adalah orang yang sakit.

Berkaitan dengan apresiasi, perhatikan juga dua hal ini. Kita sebagai penerima, dan kita sebagai pemberi. Karena apresiasi itu kebutuhan yang sangat bermanfaat bagi setiap orang, kita juga berhak menerima apresiasi yang sehat dari lingkungan kita. Ada banyak orang tulus yang ikhlas dan tidak kikir mengapresisi kita, sekalipun mungkin tidak saling mengenal –apalagi di dunia medsos.

Sebaliknya, karena itu pula, kita juga juga mesti dermawan untuk memberikan apresiasi, bahkan kepada orang yang belum kita kenal sekalipun –jika memang ia layak mendapatkannya. Didunia maya kita banyak berkenalan dengan orang-orang yang belum saling kenal betul. Dan di dunia tersebut kita juga sering menerima dan memberi apresiasi. Untuk hal apa saja. Baik untuk sekadar ucapan ulang tahun, mengomentari positif posting atau foto, atau turut berbahagia atas prestasi dan kenikmatan yang dibagikan di media.

Itu jelas sehat, bahkan menyehatkan. Mendekatkan silaturahim, dan menumbuhkan kasih sayang. Dan tindakan ini jelas sangat manusiawi, sesuai dengan fitrah manusia. Jadi, sekalipun tentu saja ada dalil-dalil yang bisa dimunculkan, namun untuk hal-hal yang human seperti ini, seseorang tidak harus menanyakan dalil atau sumber rujukan. (Kalimat terakhir ini saya sampaikan, karena ada sekelompok orang yang selalu menanyakan dalil untuk semua hal bahkan untuk sesuatu yang aksiomatis sekalipun).

Kesimpulannya, apresiasi itu memberi semangat bagi penerimanya, dan tidak mengurangi sedikit pun hak pemberinya. Tidak ada yang hilang saat sebuah apresiasi diberikan kepada seseorang. Bahkan justru akan terbentuk sebuah hubungan yang bagus dan produktif antara pemberi dan penerimanya. Martabat dan kemuliaan seseorang takkan berkurang apalagi hilang akibat memberikan apresiasi, malah sebaliknya kemuliannya akan bertambah..

Memberi apresiasi itu gratis, tidak mengeluarkan biaya, bahkan tidak ada yang harus Anda korbankan atau pertaruhkan… Bahkan apresiasi yang Anda berikan untuk orang lain justru akan menghadiahi Anda sesuatu yang mungkin tidak pernah Anda rencanakan bahkan pikirkan…

Maka, jangan kikir memberi apresiasi kepada orang yang berhak mendapatkannya… Selagi apresiasi itu tidak salah alamat, wajar dan rasional (beralasan), apresiasi akan berbuah kebaikan..

Budayakan apresiasi, bukan depresiasi… Jika pun mungkin Anda belum bisa mengapresiasi, maka sebaliknya jangan mendepresiasi. Jika pun Anda belum bisa memuji, hindari memaki…!

Bagi sebagian orang, mengapresiasi orang itu mungkin sulit –mungkin karena karakter yang sudah terbentuk sebelumnya, mungkin juga karena ia belum terbiasa melakukannya.. Tetapi, apresiasi itu membahagiakan penerima dan pemberinya. Apresiasi akan melapangkan jiwa dan menenangkan hati.. Juga meringankan beban pikiran, dan menghilangkan tekanan… Tidak percaya..??! Sering-seringlah mencoba…!

11 Desember 2016

Ashoff Murtadha

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.