Boikot Yahudi atau Israel?

Nama Yahudi adalah kata yang dinisbatkan kepada Yâhuda, salah satu putra Nabi Ya’qub. Dulu Yahuda adalah satu dari para saudara Nabi Yusuf terlibat dalam konspirasi membuang dan melemparkan Yusuf kecil ke sumur. Kelak para keturunan Yahuda dinisbatkan ke namanya, sehingga keturunannya dinamakan Yahudi.

Yahuda adalah putra Nabi Ya’qub. Ya’qub disebut juga Israil. Ketika Al-Quran menyeru “wahai Bani Israil”, maksudnya adalah wahai para keturunan Ya’qub.

Setiap keturunan Yahudi adalah keturunan Israil, karena Yahuda adalah putra Israil. Awalnya keturunan Yahudi dan Israil itu semacam marga atau klan, namun kelak menjadi semacam etnis bahkan semacam ras.

Dari keturunan Israil (Ya’qub), ada banyak nabi dan rasul yang lahir dan diutus oleh Allah Swt. Di antaranya adalah Nabi Musa dan Nabi Isa. Musa dan Isa adalah keturunan Israil. Sebagai rasul ulul azmi, keduanya memiliki umat hingga sekarang. Umat Musa lazim disebut Yahudi, dan umat Isa lazim disebut Nasrani. Umat para nabi Israil pasca Musa hingga Yahya juga disebut Yahudi. Sedangkan umat Isa disebut Nasrani.

Umat Yahudi dan umat Nasrani sama-sama keturunan dari Nabi Israil (Ya’qub). Menariknya, kelak pengikut Nasrani tidak hanya berasal keturunan Israil tetapi juga etnis-etnis lain, dari berbagai benua. Sehingga Nasrani lebih menjadi sebuah agama yang dipeluk oleh berbagai etnis dan ras. Sedangkan Yahudi, selain sebagai sebuah sistem keyakinan, namun juga identik sebagai sebuah etnis atau ras. Sehingga penganut keyakinan Yahudi adalah keturunan Yahudi.

Dalam Al-Quran, Yahudi dan Nashara disebut berdampingan dalam beberapa. Dalam sejarah Islam, saat di Madinah, Nabi Saw juga berinteraksi dengan kedua entitas sosial tersebut sebagai dua entitas yang berbeda dan berciri khas. Selain dengan kaum Quraisy (yang satu leluhur dengan Nabi sendiri karena Nabi dan kaum Quraisy sama-sama keturunan Nabi Ismail), Nabi juga pernah berperang dengan kaum Yahudi, seperti dalam perang Khaibar. Dengan kaum Nashrani, beliau juga pernah bermubahalah, namun dibatalkan oleh pihak Nasrani.

Apa yang membuat konflik terjadi antara Nabi dan mereka semua (kaum Quraisy, Yahudi dan Nasrani) bukan dipicu oleh perbedaan klan atau etnis, bahkan juga bukan karena perbedaan sistem keyakinan. Sebab, keragaman etnis adalah sunnatullah yang tidak bisa diubah. Perbedaan keyakinan juga sudah diatur dalam ayat “lakum diinukum wa liya diin” yang saling menghargai.

Karenanya, apa yang kita tentang dari Israel sebagai sebuah negara itu bukan karena etnis atau keyakinan Yahudinya. Melainkan karena ada kezaliman yang mereka praktikkan dengan sokongan kekuatan dunia. Negara yang namanya diambil dari nama Nabi Ya’qub (Israil) itu didirikan dengan paksaan dan kekerasan, dan merampas hak bangsa lain, Palestina. Israel melakukan pendudukan pada sebuah kawasan yang sudah dihuni oleh sebuah bangsa ribuan tahun. Dan Palestina sendiri sudah dihuni oleh multi agama sejak lama.

Yang menolak gerakan Zionisme yang melatarbelakangi lahirnya negara Israel itu bukan hanya umat Islam, tetapi semua manusia yang menginginkan keadilan, termasuk dari kalangan Nasrani, Yahudi, bahkan ateis sekalipun.

Oleh sebab itu, seruan dari sekelompok Muslim untuk “boikot Yahudi” itu tidak proporsional, tidak tepat sasaran, dan tidak syar’i. Membenci sesuatu atau sekelompok orang karena alasan etnis itu tidak dibenarkan. Keutamaan dan kehinaan seseorang tidak ditentukan oleh etnisitasnya.

Lalu apa yang kita tentang? Yang kita tentang adalah kezaliman, perampasan hak, penjajahan dan sejenisnya, yang digerakkan oleh zionisme dan terinstitusionalisasi dalam sebuah negara bernama Israel.

Oleh karenanya, boikot itu (baik politik maupun ekonomi) harusnya diarahkan kepada Israel sebagai negara, bukan kepada Yahudi sebuah sebuah etnis atau penganut sebuah keyakinan. Fokus boikot ditujukan pada Israel, bukan pada Yahudi. Bagaimana caranya? Misalnya dengan tidak menjalin hubungan diplomatik, tidak melakukan transaksi ekonomi dan sebagainya dengan Israel.

Karenanya aneh jika Turki dan Saudi memiliki hubungan diplomatik dengan Israel dan saling memiliki kedutaan besar, serta melakukan transaksi perdagangan. Dunia menyaksikan bahwa saat ini Saudi lunak terhadap Israel, bahkan dalam media disebutkan bahwa sebagian elit Saudi mendukung kebijakan Trump yang mengakui Yerussalem sebagai ibukota Israel. Saudi terlihat membebek kepada AS. Sedangkan Turki, sekalipun secara verbal terdengar keras terhadap kebijakan Trump tersebut, namun negara ini memiliki hubungan diplomatik dan perdagangan dengan Israel.

Lebih dari itu, beberapa tahun lalu justru Turki-Saudi dan banyak negara Timteng (didukung AS dan Barat) hendak menghancurkan Suriah (Bassar Assad) yang konsisten membantu Palestina dan Hamas. Jelas aneh, Suriah yang membela dan membantu Palestina malah hendak dihancurkan dan dijatuhkan (untung saja gagal dan akhirnya umat Islam tersadarkan).

Lebih parah lagi, orang-orang yang turut menghancurkan negara Suriah pembela Palestina itu malah merasa sedang berjihad dan diklaim sebagai mujahidin. Di Indonesia, banyak kalangan yang teriak-teriak jihad ke Suriah untuk menggulingkan Bassar Assad, padahal yang mereka ikuti adalah skenario AS dan Barat untuk melemahkan negara yang paling konsisten mendukung Palestina.

Seharusnya, Palestinalah yang dikuatkan. Bukan malah mendukung negara-negara yang dekat dengan Israel. Bangsa Indonesia perlu berbangga karena sudah membuka Konjen di Palestina walaupun terlambat karena baru terjadi pada masa pemerintahan Jokowi. Upaya politis Menlu Retno Marsudi yang saat ini menggalang kekuatan dunia untuk menolak veto AS juga bukan main-main. Indonesia terlihat mengambil peran cukup besar dan menonjol, dibandingkan beberapa negara yang bermain aman.

Maka, seruan boikot haruslah proporsional dan tepat sasaran. Jangan salah alamat. Sebab, sudah berulang seruan seperti ini dilontarkan dari dulu. Tetapi tidak berhasil. Mengapa? Mungkin karena tidak proporsional dan tidak tepat sasaran tadi. Juga mungkin karena lebih merupakan ekspresi emosional ketimbang rasional dan faktual.

Sebagai sebuah ekspresi penentangan terhadap kezaliman, seruan boikot itu bisa dilakukan. Semangatnya bagus dan harus dihidupkan. Asal jangan salah alamat dan sasaran…

Jadi, biar proporsional, tepat sasaran, dan tidak membingungkan, seruannya bukan boikot Yahudi, tetapi boikot Israel. Bukan boikot produk Yahudi, tetapi produk Israel, atau produk yang keuntungannya digunakan untuk menguatkan Israel.

Bandung 20 Desember 2017

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.