Bocoran Strategis untuk Para Caleg

gonusa.com //– Sudah lewat sebulan masa kampanye pileg (dan pilpres) dimulai. Dan masih ada sisa waktu kisaran 5 bulan lagi ke depan. Sebagian caleg sudah banyak yang mengambil langkah awal, berupa sosialisasi dan promosi diri. Sebagian lagi sudah mulai melakukan tindakan-tindakan closing yang “mengikat” para konstituen.

Namun, banyak pula caleg yang nampak masih cenderung “santai”. Bahkan, ada juga (atau banyak) yang apatis dan “pasrah” menghadapi masa kampanye. Bukan karena tidak mau jadi, melainkan karena merasa sudah “kalah”, dan menduga kuat dirinya takkan jadi. Kalau pun namanya tercantum dalam urutan daftar caleg, itu mah hanya numpang keren sesaat saja.

Di medsos kita menyaksikan keramaian para caleg mempublikasikan diri. Begitu pun di dunia nyata. Banner dan stiker banyak kita temukan. Kunjungan silaturahim dan undangan banyak dilakukan,

Sebagai orang yang sedang berjuang, mereka harus optimis dan terus memuncakkan harapan. Tong meok memeh dipacok. Tong unggut kalinduan, tong gedag kaaingan. Kalau memiliki tujuan, perjuangkan dengan kesungguhan. Hasilnya diserahkan kepada Tuhan yang Maha Segala.

Dalam tulisan ini, saya ingin berbagi bocoran yang mungkin bisa menjadi lngkah strategis bagi para caleg, apa pun partainya.

1. Sosialisasi atau promosi diri di medsos itu bagus. Cukup efektif mensosialiasikan diri. Saya saja banyak tahu si A, si B dan lain-lain menjadi caleg justru dari medsos, terutama Facebook. Saya yakin banyak publik seperti saya yang baru tahu mereka menjadi caleg dari medsos. Untuk tahap sosialisasi, langkah ini memiliki manfaat besar. Teruskan langkah ini, dan lebih intensifkan lagi….! Tetapi jangan lupa kreatif dan variatif.

2. Sosialiasi via medsos merupakan langkah yang paling murah dan menjangkau luas. Asal ada kuota, jalan. Tetapi melakukannya tidak mudah. Karena langkah ini menuntut kemampuan menulis atau membuat konten yang menjual, menarik dan kreatif. Di timeline yang lewat di akun saya, saya tahu ada beberapa caleg yang bagus dan aktif bersosialisasi di medsos, utamanya di Facebook. Tulisan-tulisannya bagus, dan unik.

3. Namun, yang memiliki kemampuan ini langka. Karenanya para caleg tidak bisa bekerja sendirian. Mereka butuh tim, sekalipun tidak perlu banyak. Satu dua orang juga sebenarnya cukup, asal kapabel. Langkah ini saya perhatikan, juga dilakukan oleh beberapa caleg, dengan kapasitas masing-masing.

4. Sebagai langkah awal, terutama bagi para caleg baru, sosialisasi via medsos harus dilakukan. Keunggulan medsos adalah luasnya jangkauan. Tetapi kelemahannya adalah tidak segmented, tidak menyasar potential market yang ditarget. Itulah sebabnya diperlukan sosialisasi di dunia nyata. Kebanyakan caleg menggunakan media banner, spanduk, dan stiker. Namun tentu saja langkah ini sangat mahal. Dari segi sosialisasi, ketimbang via medsos, media ini lebih mendekatkan caleg dengan segmen regional konstituen.

Sekalipun diperlukan untuk membidik segmen regional di daerah pemilihan, namun langkah ini hanya bisa dilakukan secara massal oleh caleg-caleg berkantong sangat tebal. Caleg yang sakunya tipis masih bisa memasang banner di beberapa titik, atau mencetak beberapa ribu stiker. Tetapi, karena mahalnya media ini, hanya sedikit saja caleg yang bisa menggunakan alat peraga kampanye ini secara massif.

5. Tetapi jangan khawatir. Elektabilitas caleg bukan ditentukan oleh dua media di atas, yakni medsos dan APK. Ada yang lebih penting dari keduanya, yang jauh lebih efektif dan menghasilkan suara konstituen. Apa itu? SILATURAHIM. Ini cara sosialisasi dan pendekatan yang paling efektif. Mengapa? Karena silaturahim langsung menyentuh rasa dan kemanusiaan konstituen. Silaturahim lebih make sense dan human.

Silaturahim bisa dilakukan dengan dua cara. (1) Mengunjungi konstituen di tempat mereka, atau (2) mengundang mereka ke tempat di mana caleg bisa ditemui. Dibandingkan kedua langkah yang pertama, strategi silaturahim jauh lebih efektif dan mengikat.

Jujur saja, kebanyakan (atau jangan-jangan hampir semuanya) orang saat ini belum tahu siapa caleg yang akan mereka pilih untuk mewakili aspirasi mereka. Banyak wilayah masyarakat yang masih “kosong”, alias belum menentukan pilihan. Bagi para caleg, kekosongan ini peluang yang sangat besar. Besar sekali. Masyarakat justeru sedang menanti siapa caleg yang akan datang kepada mereka, dan mengajak mereka berbicara. Asal pendekatan silaturahimnya elegan dan memanusiakan, para caleg bisa mendapatkan suara mereka cukup besar dengan cara ini.

Sayangnya, dalam sebulan masa kampanye ini, sangat sedikit caleg yang menempuh cara yang sangat efektif ini. Tidak ada langkah yang lebih efektif ketimbang silaturahim. Sebab, komunikasi dua arah terjadi. Proses perkenalan langsung terbina. Komunikasi, interaksi, dan ramah tamah bisa dilakukan dengan leluasa. Plus, rencana pembinaan jangka pendek, menengah dan panjang bisa dirumuskan bersama dalam langkah ini.

Hanya saja, memang ada tantangan untuk cara ini. Yakni, bagaimana mengembangkan jaringan silaturahim sehingga bisa menemui banyak kalangan dari berbagai segmen, di berbagai kabupaten, kecamatan, desa, RW, atau komunitas yang berbeda-beda. Perlu banyak orang yang menjadi contact person di banyak titik. Semakin banyak titik yang bisa dikunjungi, semakin besar peluang keterpilihan caleg.

Jika seorang caleg memiliki contact person di setiap RT, yang bisa bergerak kepada warga sekitarnya, maka keterpilihannya sangat besar. Asal pendekatan, sikap dan perlakuannya kepada masyarakat bersifat manusiawi, dialogis, simpatik, dan mengajak bekerjasama, maka langkah silaturahim ini takkan terkalahkan oleh langkah lainnya.

Yang harus dimengerti dan dirasakan oleh para caleg adalah bahwa konstituen itu merupakan mitra kerjasama dalam politik demokrasi, bukan sebagai objek peraihan suara. Konstituen harus dilihat sebagai sama-sama subjek politik yang sejajar dengan caleg, yang meniitipkan aspirasi kepada caleg. Karenanya, jika kelak lolos sebagai wakil rakyat, para konstituen mesti dibina secara jangka panjang. Sehingga, silaturahimnya kali ini harus dilihat sebagai investasi kebaikan yang memasadepan.

Ada waktu lima bulan ke depan lagi untuk kampanye. Dan, masyarakat hingga saat ini masih belum tahu siapa caleg yang akan mereka pilih, karena mereka belum tahu siapa caleg-calegnya. Siapa saja caleg yang menemui mereka pertama kali, maka caleg berikutnya akan kesulitan untuk menembus mereka berikutnya. Kecuali jika caleg pertama “gagal” dalam melakukan silaturahim.

Maka, bocoran strategis yang bisa dilakukan oleh para caleg adalah “perbanyaklah silaturahim” dengan pendekatan yang memanusiakan. Caleg itu sesungguhnya sedang mencari pekerjaan dari rakyat. Karenanya perlakukan rakyat secara manusiawi. Caleg yang sok bos (ngebos), tidak apresiatif dan antipatik kepada masyarakat, pasti akan ditinggalkan, sekalipun mungkin masyarakat menyukai partai yang dikendarainya.

Saya masih ingat pesan dari Kang Dedi Mulyadi dulu, agar para caleg tidak melakukan “politik mucikari” atau “politik prostitutif”. Yakni, politik yang memanfaatkan dan memanipulasi rakyat, yang mendekati mereka hanya saat suara mereka dibutuhkan. Mungkin hari ini silaturahim caleg akan bermanfaat untuk pileg kali ini. Namun, jika caleg menggunakan politik prostitutif kepada konstituen, maka pada waktunya karma politik akan menenggelamkan mereka.

Bersilaturahimlah banyak-banyak. Sering-seringlah berkunjung dan menyapa. Tetapi berhati-hatilah agar tidak menerapkan politik mucikari atau politik prostitutif. Sekalipun saat ini tersembunyi, besok atau lusa akan ketahuan.

Oke selamat berjuang meraih mandat. Lihatlah, banyak lahan kosong di tengah masyarakat. Dan peluang hanya milik mereka yang bergerak cepat…

Sampurasun…

Bandung, 8 Nopember 2018

Bagea

Mahya Lengka

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.