Berbuat Baik Tanpa Batas

Orang itu disebut baik kalau ia berbuat baik kepada sesamanya. Ukuran apakah seseorang disebut baik atau tidak adalah perbuatan baik yang ia berikan kepada orang lain. Jika seseorang diam saja, mengurung diri, tidak mengulurkan tangan kebaikan kepada orang lain, maka ia bukan orang baik; ia hanya orang yang baik-baik saja. Disebut baik-baik saja karena ia tidak berbuat keburukan, tidak usil, tidak mengganggu orang lain.

Kalau mau disebut sebagai orang baik, ia harus berbuat baik. Berbuat baik artinya memberikan kebaikan kepada pihak lain. Kalau ia hanya memikirkan kebaikan bagi dirinya sendiri, ia belum menjadi orang baik. Malah ia akan disebut sebagai orang egois. Karenanya jelas, orang baik adalah orang yang suka membantu dan menolong sesama.

Hanya saja, kenyataannya tidak sedikit orang yang berbuat baik, bukan karena ia tulus ingin berbuat baik, melainkan karena ia ingin mendapatkan keuntungan secara personal. Ada vested interest yang tersembunyi di hatinya. Sehingga kebaikan yang ia lakukan hanyalah kamuflase untuk meraih keuntungan baginya sendiri. Bagi orang seperti ini, berbuat baik adalah pencitraan. Ia melakukannya demi citra diri.

Apakah kebaikan demi citra diri itu buruk? Tidak juga. Tindakan itu tetap baik, karena kebaikannya tetap bisa dirasakan manfaatnya bagi penerima kebaikan. Malah, sebaiknya sering-sering saja orang tersebut melakukan hal demikian, agar makin banyak manfaat yang dirasakan oleh masyarakat. Orang seperti ini masih jauh lebih baik ketimbang orang yang tidak berbuat baik sama sekali, apalagi orang yang hanya bisa mencibir dan membenci.

Hanya saja, kebaikan yang dilakukan demi citra diri itu takkan abadi. Ia dilakukan hanya sebatas waktu tertentu, untuk meraih keuntungan tertentu pula. Jika momentumnya sudah berakhir, kebaikannya juga berhenti. Dan begitu kebaikannya berhenti, maka masyarakat tidak lagi merasakan manfaat susulan.

Tentu saja, yang luar biasa dan jauh lebih baik adalah kebaikan yang dilakukan karena fitrah kebaikan itu sendiri. Kebaikan yang dilakukan bukan karena citra diri, atau untuk meraih manfaat pribadi. Melainkan kebaikan yang dihasilkan dari ketulusan dan keikhlasan, karena ingin melihat sesama tersenyum bahagia. Dan, pelaku kebaikan jenis ini langka. Dan dari yang langka itu adalah sosok Ki Sunda, Dedi Mulyadi.

Seperti diketahui, selama ini Kang Dedi sudah dikenal masyarakat banyak sebagai sosok yang suka tutulung dan tatalang, menolong dan membantu sesama, baik yang dekat maupun yang jauh, yang ia kenal maupun tidak. Bahkan kepada orang yang memberitahunya hanya via sms sekalipun. Kebaikannya bisa berupa pemberian modal, ingon-ingon (hewan ternak), renovasi rumah, menanggung biasa rumah sakit, membantu persalinan perempuan hamil, menyelesaikan kasus hukum, menengok orang sakit, memberi kursi roda, dan lain sebagainya. Membantu apa saja, dan tidak pandang bulu.

Bagi kalangan yang belum mengikuti perjalanan hidup Kang Dedi dari awal, mungkin ada yang mengira bahwa sifat tutulung-tatalang Kang Dedi hanyalah pencitraan semata-mata yang bersifat temporal. Mungkin ada yang menduga bahwa itu ia lakukan hanya saat perhelatan pilgub saja, di mana ia menjadi salah satu calon yang ikut bersaing.

Ya, wajar saja mereka menduga begitu. Namun jika mereka menyaksikan kilas balik perjalanan Kang Dedi secara maksimal, mereka akan tahu bahwa kebaikan-kebaikan Kang Dedi seperti di atas itu sudah ia lakukan sejak belasan tahun silam. Sejak ia baru menjadi anggota DPRD Purwakarta, lalu menjadi wakil bupati dan bupati 10 sepuluh tahun.

Pada saat masa kampanye pilgub beberapa bulan yang lalu, ia juga tidak terhalang untuk berbuat baik. Malah, sekalipun masa kampanye, justru ia tidak memperlihatkan sedang berkampanye. Melainkan yang ia lakukan adalah menyapa, menghibur, membesarkan hati, membantu dan menolong sesama. Sudah sangat populer kata-katanya tentang hal ini, “Politik memang penting, tetapi kemanusiaan jauh lebih penting. Kampanye memang penting, tetapi membahagiakan orang lain jauh lebih penting.”

Ternyata Allah belum menakdirkan dirinya sebagai pemimpin Jawa Barat pada tahun 2018 ini. Perhelatan pilgub selesai. Dan ingar-bingarnya kembali sepi. Namun publik tetap menyaksikan Kang Dedi seperti sebelumnya. Ia tetap membantu orang lain, menghibur mereka, menyapa mereka, menemui mereka. Ia tetap membantu renovasi rumah-rumah yang sudah hampir roboh di beberapa tempat berbeda, dan daerah berbeda. Hari Sabtu 28 Juli 2018 ia membantu renovasi sebuah rumah di Cigalontang Tasikmalaya, dan keesokan harinya, Minggu 29 Juli 2018, ia merenovasi sebuah rumah di Tanjungmekar, Pakisjaya, Karawang.

Yang terbaru, sekalipun ia bukan seorang pejabat publik (bupati, atau gubernur-wakil gubernur terpilih), namun pada hari Senin 30 Juli 2018 kemarin ia melakukan advokasi terhadap 12 WNI yang menjadi korban human trafficking di negeri Cina. Ia mendatangi Direktorat Perlindungan WNI di Kemenlu RI. Dan ia menyiapkan diri untuk mengurus mereka walaupun harus sampai ke negeri Cina. Tentu saja ini bukan hal sederhana. Namun Kang Dedi siap melakukannya.

Secara institusional, ia tidak memiliki kewajiban ini. Sebab Kang Dedi bukan seorang pemimpin struktural, baik lokal maupun regional. Namun, personalitasnya telah menggerakkannya untuk bertindak, mengambil langkah bantuan. Kalau bukan karena fitrah kebaikan yang telah menguasai dirinya, tentu ini akan berat dilakukan.

Bagi masyarakat, konsistensi Ki Sunda dalam menebarkan kasih sayang kepada sesama terasa sangat menginspirasi dan edukatif. Berkali-kali Kang Dedi berpesan kepada para kader partainya agar jangan sekali-kali mengaitkan pemberian dengan suara dalam pemilihan. Kalau berbuat baik, berbuat baiklah tanpa syarat. Ia juga berpesan agar para politisi jangan sampai melakukan politik prostitutif, atau politik mucikari, yakni politik di mana politisi berbuat baik karena ada kemauan saja, atau berbuat baik karena ujug-ujug.

Bagi Ki Sunda, “Kekuasaan adalah kesempatan, sedangkan berbuat baik adalah kewajiban,”. Lebih dari itu, berbuat baik itu kebahagiaan, menolong sesama itu membahagiakan. Berulangkali ia juga sampaikan bahwa dirinya ingin agar dalam sehari minimal ada satu orang yang terbantu dengan uluran tangannya, yang terbantu mengubah hidupnya menjadi lebih baik. Menanam cinta tidak harus menantikan kapan tiba saatnya memanen. Menanam, menanam saja. Berbuat baik, berbuat baik saja. Karena Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik (muhsinin).

Karena kebaikan Allah tidak terbatas, maka seyogyanya manusia pun berbuat baik tanpa batas. Dan Dia sebaik-baik Pembalas.

Selamat menabur cinta, Ki Sunda. Teruslah menjadi inspirasi kebaikan dan kasih sayang…! Agar semakin banyak pula para penabur cinta di tengah umat manusia…

 

Bandung, 1 Agustus 2018

Mahya Lengka

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.