Belajar kepada Badui Menghadapi Kematian

Kemarin dan hari ini, banyak peristiwa kematian yang kita dengar, lihat dan saksikan. Kematian menemui dan menangkap siapa saja. Orang jauh, orang dekat. Orang asing, orang akrab. Orang lain, tetangga, sanak saudara, dan keluarga. Besok, hal yang sama akan berulang. Dan kematian makin dekat dengan setiap orang.

Mendengar atau melihat kematian, banyak orang yang cuek, dan merasa bahwa kematian masih jauh dan belum akan datang dalam waktu yang segera. Kalangan ini akan santai, dan menjalani hidup seperti biasa. Pikiran tidak terganggu. Jiwa tenang-tenang saja. Dan, apa pun kematian yang menimpa orang-orang takkan dirasakan berkait dengan diri mereka.

Tetapi tidak sedikit yang murung, dan mencemaskan kematian segera menyergap mereka. Setiap mendengar berita kematian, mereka merasa bahwa itu tentang mereka. Kematian segera tiba, dan merampas nyawa dari raga. Pikiran dipenuhi ancaman maut. Jiwa resah. Susah makan. Sulit tidur. Mata menangis. Hati takut tidak karuan.

Lalu apa yang paling ditakuti seseorang dari kematian?

Kata mereka, bukan karena tidak mau mati. Tetapi karena merasa hidup tidak memiliki bekal menghadapinya. Dosa sebanyak daun pepohonan di hutan belantara. Mulut berbusa menyebar fitnah. Jari-jemari menari-nari terampil memviralkan kebencian dan dusta. Hati diselimuti kedengkian dan ketidakrelaan.

Sementara kebaikan hanya sebutir padi, itu pun tidak terjamin diterima. Utang-utang banyak yang belum terbayar. Yang lama, atau yang baru. Yang teringat, atau yang terlupakan. Sementara pemberi pinjaman pun belum tentu mengikhlaskannya. Merasa diri paling saleh, paling Muslim, selalu menyalahkan orang, melemparkan tuduhan dan menyesatkan sesama, padahal kebodohan mereka lebih besar daripada pengetahuan.

Lalu bagaimana? Menangis, meratapi nasib diri. Saat keluarga dan sanak kerabat menjenguk saat sakit, mereka keluhkan kematian. Membayangkannya, menangis lagi. Bagi mereka, peristiwa kematian itu menyiksa dan bikin sengsara. Dan yang membuat mereka tersiksa adalah masa depan usai kematian, yang pasti hanya misteri.

Menangis lagi. Merasa tidak siap mati. Padahal tubuh sudah sakit-sakitan. Padahal usia sudah mendekati petang. Padahal keluhan ini dan itu terus berganti, dan datang lagi kian sering dan makin terasa berat. Artinya kematian itu sudah mengendap-endap dekat. Siap atau tidak, maut tidak peduli.

Lalu, adakah harapan dalam menghadapi kematian yang menggelisahkan? Kisah Arab badui ini mungkin membantu membangunkan harapan.

Menjelang salat berjamaah di masjid, seorang lelaki badui merangsek ke bagian shaf depan, karena tak tahan ingin menyampaikan pertanyaan kepada Nabi. “Wahai Nabi, kapankah kiamat tiba?”

Nabi Saw menoleh ke arahnya, namun tidak langsung menjawab. Beliau memimpin salat jamaah. Sementara si badui menjadi makmum di belakang Nabi. Usai salat, Nabi melihat ke belakang.

“Mana lelaki yang tadi bertanya kiamat?” tanya Nabi. “Aku ya Rasul,” jawab badui. “Apa yang sudah kausiapkan menghadapinya?” Badui itu menunduk. “Tidak ada ya Rasul. Tidak ada yang saya andalkan dari amal saleh dan kebaikan. Bekalku hanyalah kecintaan kepadamu.”

Apa jawab Nabi? “Engkau akan bersama orang yang engkau cintai di surga. Anta ma’a man ahbabta fi al-jannah.”

Si badui bahagia, karena hidupnya memiliki harapan. Kematian bahkan kiamat tidak merisaukannya, karena Nabi telah menjanjikan kebersamaan bagi para pecintanya. Ketika amal saleh tidak seberapa, ketika dosa menumpuk sebegitu rupa, maka harapan itu adalah hubburrasul, kecintaan pada Nabi yang agung.

“Sesungguhnya orang yang paling dekat denganku pada hari kiamat adalah orang yang paling banyak bershalawat atasku.” sabda beliau suatu ketika.

Belajar dari badui, kecintaan pada Nabi adalah harapan, juga bekal menghadapi kematian. Beramal saleh terus dilakukan semampunya. Menjauhi dosa dilakukan sekuatnya. Tetapi kecintaan pada Nabi adalah harapan yang menggembirakan bagi para pendosa dan kaum minimalis kebaikan.

Kecintaan kepada beliau itu ada ikatannya. Dan bukti paling terlihat dari ikatan itu adalah shalawat.

Sekarang kita periksa jiwa masing-masing, adakah rasa cinta pada Nabi yang mulia dan terjaga dari dosa dalam semua hidupnya ini? Jika ada, apa bukti pengikatnya. Dan, seberapa sering kita bershalawat kepadanya karena kecintaan, bukan karena diperintahkan.

Bershalawat karena cinta tentu berbeda nilainya dengan bershalawat karena menjalankan perintah. Perintah akan gugur jika sudah ditunaikan. Tetapi cinta akan menggerakkan seseorang berbuat lebih. Perintah dilakukan dengan raga, tetapi cinta diekspresikan dengan raga dan hati. Sepenuh jiwa. *

Bandung, 29 Oktober 2018

Ashoff Murtadha

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.