Antara Tidur dan Salat

Ashoff Murtadha
Direktur Studi Islam Bandung

Sangat jelas, Islam sangat memuliakan ilmu. Al-Quran menegaskan tidak sama antara orang yang berilmu dan tidak berilmu. Allah memuliakan orang alim, dan Dia sendiri Zat Maha Alim, maha mengetahui.

Bedanya, manusia berilmu karena belajar dan diajari. Pengetahuan manusia diawali oleh ketidaktahuan. Sedangkan Tuhan Maha Alim tanpa belajar dan diajari. Dia mengetahui tanpa diberitahu. Dan pengetahuan-Nya tidak diawali ketidaktahuan.

Dalam tuturan haditsnya, Nabi juga sangat banyak menegaskan keutamaan ilmu. Bahkan dalam sebuah sabdanya, beliau bertutur, “Tidur di atas ilmu lebih baik daripada salat di atas kebodohan”

Nawmun ‘ala ‘ilmin khayrun min shalaatin ‘alaa jahlin.”

Hadits ini diriwayatkan melalui jalan Salman al-Farisi. Terdapat dalam Kitab Hilyat Al-Awliya.

Bahkan tidur dalam ilmu pun, masih lebih baik daripada salat dalam kebodohan. Tidur adalah kondisi di mana kesadaran dan keterjagaan seseorang sedang hilang dari dirinya. Sedangkan salat adalah sebuah kegiatan yang membuat seseorang seharusnya sedang berada dalam kesadaran yang utuh.

Namun, jika salat dilakukan dalam kebodohan, itu kalah baik ketimbang tidur yang dibangun di atas ilmu.

Itulah sebabnya diceritakan bahwa setan lebih takut kepada seorang alim yang tengah tidur ketimbang kepada seorang bodoh yang tengaj salat.

Bagi manusia, untuk mengetahui ia harus belajar. Dan belajar perlu mengaktifkan akal. Apa yang disebut belajar adalah mendengar, menyimak, memperhatikan, merenungkan, menganalisa dan menyimpulkan. Ia bukan hanya mendengar, lalu menelan apa yang didengar bulat-bulat.

Karenanya belajar juga memerlukan metodologi dan strategi, agar memudahkan jalan dan meluaskan bentangan. Untuk itu, setiap orang membutuhkan bimbingan dan pengalaman orang lain untuk menerangi perjalanan belajar.

Di sinilah perlunya sanad dalam belajar. Sanad adalah rangkaian atau sumber ilmu, dari satu tingkat ke tingkat yang lainnya. Sanad adalah kausalitas ilmu, dimana si A mendapatkan ilmu dari B, B mendapatkannya dari C, dan seterusnya.

Tidak sedikit orang melahap sebuah informasi dan langsung menelannya tanpa dipegang-pegang dulu, tanpa dikunyah dulu. Cara seperti ini bisa mengakibatkannya salah paham, dan menyalahkan orang lain yang tidak melahap informasi seperti cara dirinya…

Agar nilai tidur lebih baik dari salat itu pastinya tidak mudah. Tapi asal setiap orang mau terus belajar dengan semestinya, tentu itu akan menjadikan setiap aktivitasnya bernilai. Termasuk tidur sekalipun.

Lagi pula, jika pun tidur, ia melakukannya semata-mata karena ia perlu istirahat, bukan karena lalai. Dan itu untuk melanjutkan hidupnya memahami dan menemui Tuhannya. Bagi orang seperti ini, tidur dan salat sama-sama bernilai…*

1 Februari 2017

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.