Al-Quran Bukan Jalan Tol

Dulu waktu kecil, awal tahun 1980 an. Di kampung halaman, saat belum ada listrik PLN masuk kampung. Hanya menggunakan petromak, atau cempor (lampu minyak). Ada pembiasaan Ngaji Al-Quran (orang sekarang menyebutnya tadarrus atau tilawah), setiap bada magrib atau bada salat subuh.

Setiap bada maghrib, anak-anak usia SD dan SMP belajar membaca Al-Quran dengan ilmunya (tajwid), juga pelajaran lain. Sedangkan bada subuh, mereka mengulang bacaan yang tadi malam dipelajari atau menambah bacaan ayat dan surat lain. Bahasa di kampung disebut dengan “ngaderes”.

Jadi, dalam sehari semalam, setidaknya anak-anak dibiasakan membaca atau berinteraksi dengan Al-Quran dua kali. Sekalipun belum paham. Sekalipun belum benar bacaannya. Pokoknya, biasakan membaca Al-Quran. Membiasakan sejak kecil, agar kelak menjadi kebiasaan. Dari pembiasaan, menjadi kebiasaan.

Orang tua juga berpesan, agar kelak ketika dewasa, jangan lewatkan satu hari tanpa membaca Al-Quran. Walaupun hanya membaca (bukan memahami). Kendatipun cuma satu surat pendek atau satu halaman saja. Atau bahkan sekalipun misalnya hanya satu ayat saja.

Pada saat kebiasaan sudah terbentuk, akhirnya memang dirasakan, bahwa jika dalam sehari tidak membaca Al-Quran, hati merasa ada sesuatu yang hilang, tidak tenang. Bahkan merasa berdosa, karena telah melalaikan Al-Quran. Ketenangan baru akan muncul setelah membaca Al-Quran. Mungkin ini pula salah satu yang Allah maksud dalam sebuah ayat-Nya, “Ketahuilah, dengan zikir kepada Allah, hati akan tenang” (alaa bidzikrillah tathma`innul quluub).

Sekalipun belum memahami dan mengerti makna-makna ayat Al-Quran yang berbahasa Arab itu, apalagi sampai memahaminya dengan pendekatan ilmu-ilmu khusus tentang Al-Quran (semacam qawaid nahwiyah dan sharfiyah, Asbab al-Nuzul, Nasikh Mansukh, balaghah, hermeneutika, semiotika, dan lainnya), namun membacanya saja sudah memberikan pengaruh positif, saat itu. Pokoknya, baca saja. Dan ini membentuk ikatan dan keterikatan batin dg AlQuran.

Pada saat kebiasaan sudah terbentuk, akhirnya memang dirasakan, bahwa jika dalam sehari tidak membaca Al-Quran, hati merasa ada sesuatu yang hilang, tidak tenang. Bahkan merasa berdosa, karena telah melalaikan Al-Quran. Ketenangan baru akan muncul setelah membaca Al-Quran. Mungkin ini pula salah satu yang Allah maksud dalam sebuah ayat-Nya, “Ketahuilah, dengan zikir kepada Allah, hati akan tenang” (alaa bidzikrillah tathma`innul quluub)…

Dan di beberapa keluarga, termasuk di kota besar, upaya pembiasaan dilakukan banyak orangtua, baik untuk diri mereka maupun anak anak. Terlebih saat Ramadhan. Lebih semarak dan massif.

Banyak orang yang berkali-kali khatam alQuran selama Ramadhan. Orang yang waktu kecil terbiasa khatam AlQuran juga sama, sekarang pun biasa mengkhatamkannya. Konsisten, istiqamah.

Namun kata Muhammad Iqbal, filosof eksistensialis Muslim asal Pakistan abad 20 an, setiap ia membaca alQuran selalu menemukan pemahaman baru, ilmu baru. Ia sendiri tidak pernah melewatkan harinya tanpa membaca AlQuran.

Sekarang coba periksa. Sudah berapa (puluh) tahun kita bisa membaca AlQuran bahkan berkali-kali khatam, sejak kecil? Apakah pemahaman kita tentang suatu ayat atau surat waktu sekarang masih sama dengan saat kecil dulu? Atau, malah sama-sama belum paham seperti saat kecil?

Membaca AlQuran bukan perjalanan di atas jalan tol yang dipacu dengan kecepatan tinggi. Juga bukan kegiatan tarik suara yang melatihkan keindahan bacaan.

AlQuran juga harus dipahami dan dimengerti. Dan untuk memahaminya tidak bisa hanya dengan mengandalkan terjemahan, bahkan tidak cukup hanya dg kemampuan berbahasa Arab.

Memahami AlQuran bisa jadi merupakan perjalanan panjang, dengan jalan-jalan gerenjul dan berbatu, naik turun, dan berliku. Juga menelusuri belantara hutan yang mungkin menegangkan…

Selamat menikmati AlQuran dengan suasana dan pemahaman yang mengasyikkan…*

29 Syaban 1437
5 Juni 2016

Ashoff Murtadha

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.