Al-Kautsar, Inhar dan al-Abtar

Ketika putera-putera lelaki Nabi Saw semuanya meninggal, dan ketika yang lahir kemudian adalah seorang puteri (Fathimah), orang-orang kafir mengolok-olok beliau, dengan menyebut beliau sebagai ABTAR, orang yang keturunannya terputus. Mereka mengira bahwa silsilah beliau akan terhenti, bahwa sulbi suci beliau takkan berlanjut lagi.

Namun Allah Swt menegaskan dalam surat al-Kautsar, bahwa justru pengolok itulah yang abtar. Melalui rahim suci puterinya, Fathimah al-Zahra, hanya dari al-Zahra semata, justru silsilah Nabi terus berkembang dan lestari, dan nama beliau terus menerus disebut-sebut oleh milyaran manusia setiap detik hingga hari akhir nanti.

Kelahiran dan keberadaan al-Zahra di sisi Nabi disebut Allah sebagai nikmat yang banyak, anugerah yang luar biasa, al-kautsar, sebagaimana disebut dalam surat al-Kautsar. Karenanya Fathimah dijuluki juga sebagai al-Kautsar, karunia besar, anugerah banyak, yang membungkam kecongkakan para pengolok ayahandanya dan menjadikan mereka sebagai abtar. Korelasi al-Zahra sebagai al-Kautsar jelas terlihat dalam ayat berikutnya yang menyebut penghina ayahandanya sebagai al-Abtar, orang yang terputus keturunannya…

Karena kenikmatan besar itu, Allah perintahkan beliau untuk shalat karena-Nya dan berqurban, fashalli li rabbika wanhar.

Tafsir lain tentang al-Kautsar, seperti dalam Tafsir Ibnu Katsir, disebutkan bahwa al-Kautsar adalah sebuah telaga atau sungai di surga, yang kelak didatangi oleh umat Nabi Saw. Namun ada sebagian orang yang ditolak memasuki kawasan telaga. Ini seperti dijelaskan dalam hadits riwayat Ahmad bin Hanbal dalam al-Musnad.

Kendati surat al-Kautsar diturunkan berkenaan dengan Nabi Saw, tapi perintah meneladani beliau berlaku untuk setiap Mukmin. Jadi, siapa pun yang mendapat karunia, ia diperintahkan untuk mengingat Allah dengan shalat, dan berqurban. Shalli dan Inhar… Shalat untuk mengingat-Nya, dan berqurban untuk berbagi. Shalat bukan untuk kepentingan duniawi, dan berqurban bukan untuk memenuhi keinginan pribadi atau mengangkat citra diri…

Ketika seseorang berqurban, pertama kali ia harus meniatkannya karena Allah, mengingat-Nya, mencari ridha-Nya, meneladani sunnah Nabi-Nya. Kedua, ia berqurban dengan tujuan untuk berbagi kepada sesama. Seorang mudhahhi (yang berqurban) berhak menikmati sebagian dari daging hewan yang ia qurbankan, sambil bertabarruk dengan amal salih yang ia lakukan.

Namun, tujuan utama berqurban adalah untuk berbagi: berbagi rasa bahagia dan nikmat dengan sesama. Semakin banyak orang yang turut menikmati hewan qurbannya, semakin bernilai pula qurbannya. Jadi, motivasi apalagi tujuan berqurban bukan seberapa besar mendapatkan daging sebagai mudhahhi…

Agar daging qurban bisa dinikmati oleh sebanyak-banyaknya orang secara terkelola itulah, kepanitiaan qurban dibutuhkan dan dibentuk di banyak institusi sosial, terutama masjid melalui DKM. Panitia DKM membantu para mudhahhi agar qurban mereka lebih bernilai dan lebih bermakna secara sosial, seluas-luasnya. Agar berqurban bukan semata-mata menyembelih hewan, namun juga menjadi wujud ketakwaan.

Sabda Nabi Saw, “Takwakanlah (peliharalah) wajah kalian dari api neraka, walaupun dengan sebutir kurma”.

Maka, berqurban adalah ekspresi mengingat Allah, dengan niat berbagi. Semoga Allah mengaruniakan kenikmatan yang jauh lebih besar lagi bagi para mudhahhi dan orang-orang sekitarnya.

Kisah al-Kautsar akan terus abadi dan menginspirasi hati nurani…

Aktivitas Inhar (al-nahr) adalah tuntutan peradaban… Karena peradaban hanya bisa dibangun di atas pengorbanan…

Sedangkan si Abtar sudah tertelan bumi, dan tak seorang pun mengingatnya lagi…

Siapa saja mengolok Nabi, akan merugi. Siapa pun merendahkan beliau, akan direndahkan Tuhan selamanya.

Bandung, 2 Dzulhijjah 1437
3 September 2016

Ashoff Murtadha

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.