Ah, Kata-kata Indah Itu…

Sekarang ini mulai dirasakan, bahwa kata-kata indah dari orang-orang yang dianggap terhormat atau mulia itu sekarang seperti tidak bermakna apa-apa lagi. Tidak ada ruh, tidak ada getaran. Tidak menggerakkan, apalagi mengubah. Dulu sempat pernah dirasakan, kata-kata mereka seperti bermakna dan berkekuatan. Namun kini sepertinya tidak lagi. Hilang…

 Ah, itu mah karena pendengar atau pembacanya saja yang sedang “error”, pikirannya sedang penyakitan, atau hatinya sedang karatan. Istilah lainnya, sedang futur. Futur adalah sebuah kondisi di mana seseorang sedang menjauh dari Tuhan, jauh dari kebaikan, karena banyak berbuat maksiat.

Ya mungkin saja dugaan itu benar, atau memang benar adanya bagi sebagian orang. Tetapi mengapa mereka jadi error, penyakitan, karatan atau futur, tentunya tidak tiba-tiba, tidak sekonyong-konyong begitu saja. Pasti ada sebab-musababnya. Dan jangan-jangan kondisi itu terjadi karena sebagiannya disahami oleh orang-orang yang dianggap mulia itu..

Memangnya ada apa dengan orang-orang mulia itu? Mereka telah banyak memproduksi kata-kata indah, kalimat-kalimat menyentuh, dan semacamnya. Baik dalam ucapan maupun tulisan. Kata-kata yang sebenarnya hebat, mengagumkan dan menggetarkan. Namun itu pada awalnya. Bagaimana dengan sekarang? Itu dia… Sepertinya sudah tidak terasa lagi getaran atau aura yang dulu pernah dirasakan…

Makin sering mendengar mereka berbicara kalimat-kalimat mulia, tetap saja tidak terasa apa-apa. Sama saja. Kadang berharap sebaiknya mereka diam. Mengapa? Karena kata-katanya bukan saja tidak bermakna, malah akan membuka aib mereka sendiri. Kata-katanya bukan lagi menerangi, malah menelanjangi.

Apakah karena kata-kata indah mereka sekarang telah busuk atau basi? Ah, tidak juga. Tidak ada kebaikan atau kebenaran yang basi. Ia hanya perlu tempat dan kondisi yang tepat untuk disampaikan kembali. Dan, ini yang lebih penting, siapa yang menyampaikannya. Siapa di balik kata-kata hebat itu jauh lebih penting…

Tidak salah juga jika disebut bahwa kata-kata hebat itu tidak bermakna karena ia datang kepada orang yang salah. Dan kesalahan itu terjadi bisa karena faktor daya serap, atau karena sengaja menutup diri, atau karena kekotoran hati. Ini bisa terjadi pada banyak kasus.

Akan tetapi, ada juga kasus di mana seseorang yang keras kepala, kering jiwa dan tebal rasa, mendadak luluh hanya karena mendengar atau merasakan sebuah kebaikan sederhana yang masuk ke dalam hatinya. Sebuah kebaikan yang masuk dengan tulus, sebuah kebenaran yang menyapa dengan halus.

Kekuatan hebat bisa saja muncul dari kata-kata sederhana yang keluar dari mulut orang-orang yang dianggap biasa-biasa saja, bahkan tidak dianggap oleh publisitas… Bahkan diamnya pun sudah memberi makna yang membekas….

Dulu, nama besar seperti menjadi jaminan bahwa kata-katanya akan bermakna hebat dan mengesankan. Nama-nama besar mereka dipasang untuk menarik orang-orang datang atau mendekat.

Namun sepertinya sekarang tidak begitu lagi. Mungkin mereka masih menakjubkan sebagian besar orang. Akan tetapi yang merasakan kehampaan kata-kata mereka juga terus bertambah. Bagi kalangan yang terakhir ini, kekuatan kata tidak lagi terletak pada nama-nama yang dianggap besar oleh orang-orang. Karena nama besar bisa terus mengecil ketika mereka makin banyak bicara.

 Kekuatan kata, ditemukan justru dari nama-nama sunyi yang tidak pernah terdengar bernyanyi, namun orang-orang malah mampu mendengar mereka menyapa…

Ketika kata-kata indah banyak bertebaran namun tidak menyentuh..

Ketika kata-kata indah hanya dipentaskan dalam panggung atau mimbar bagus yang tak lagi memikat hati…

Ketika hati justru enggan, bahkan menolak mendengarkan orang-orang mulia itu berkata mulia….

Ketika hati lebih memilih mendengar suara parau dari mulut orang biasa yang tak mampu bernyanyi merdu….

Ah, ada apa dengan kata-kata itu…?

Jangan-jangan ini seperti ditengarai oleh Ali bin Abi Thalib saat mengomentari golongan khawarij yang menyampaikan kepadanya kalimat-kalimat hebat “Itu adalah kata kebenaran yang dimaksudkan untuk kebatilan.”

Mungkin saja…!

Dan… Agaknya tidak usah mengarahkan telunjuk ke arah depan, atau ke samping kiri dan kanan, atau ke arah belakang… Karena, jangan-jangan itu mungkin kita juga…!

Peace..!

23 Nopember 2016

Ashoff Murtadha

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.