“…. Sekiranya kekayaan adalah bangunan, maka pondasinya adalah:
1. Mindset, alias pola pikir yang benar
2. Passion, alias gairah yang kuat
3. Value, alias manfaat yang besar
4. Model, alias teladan yang dekat

Dan tiang-tiangnya adalah:
1. Bisnis
2. Investasi
3. Properti
4. Emas
………………………” dikutip dari Ipho Right Santosa

Saya akan mencoba mengulas tentang tiang-tiang kekayaan di atas:

1. BISNIS. Setiap orang kayaknya memang harus punya bisnis sendiri, mengelola, mengurus dan mengembangkan sendiri:

Keuntungannya: semuanya under control, keuntungannya bisa jadi sangat besar dan semuanya menjadi milik owner (setelah dikurangi semua pengeluaran), bahkan ada kepuasan yang lahir dari bisnis sendiri…

Kerugiannya: waktu terkuras habis, tidak bisa leluasa meninggalkan bisnis (kecuali jika memiliki orang-orang terpercaya yang bisa ditinggalkan bekerja luar biasa untuk owner), bisnis harus terus ditunguin; kalau sakit misalnya, omset bisa terganggu, berkurang, atau bahkan hilang; kalau harus ada keperluan untuk pergi ke sana atau ke sini, selalu yang jadi pertimbangan adalah bagaimana dengan bisnis, siapa yang mengurus, siapa yang pegang, siapa yang bisa diberikan kepercayaan, dan sebagainya… selain sebagai pintu rezeki yang besar, bisnis mandiri juga bisa menjadi tali penjerat kebebasan seseorang untuk bergerak leluasa…

2. INVESTASI: semua kerugian (hal-hal minus) dari bisnis di atas, bisa ditutupi oleh tiang yang kedua, yakni investasi… karenanya, selain memiliki bisnis sendiri, seseorang juga agaknya sudah “berkewajiban untuk berinvestasi…

Dulu ada gerakan menabung di negeri ini, dengan slogan “Ayo Menabung” (maksudnya, menabung versi bank adalah menyimpankan uang di bank-bank mereka)… Menabung itu positif, karena seseorang bisa memiliki simpanan uang kas, sehingga tidak langsung habis dalam beberapa saat… jika suatu saat membutuhkan dana cash, ia bisa mengambilnya dari tabungan itu..

Tetapi dari segi pemanfaatan dan pengembangan aset, menabung itu merugikan penabungnya, dan hanya menguntungkan pihak pengelola tabungan… setidaknya karena dua alasan: pertama, nilai mata uang terus tergerus inflasi, rata-rata sekitar 11 % per tahun (sedangkan bunga atau bagi hasil dari bank hanya kisaran 7 – 9 % saja per tahun, belum termasuk biaya-biaya bulanan)… kedua, uang tabungan kita justru dinikmati pelipatgandaan manfaat bisnisnya oleh pihak pengelola tabungan, sedangkan penabungnya tidak..

Singkat cerita, menabung –termasuk di bank– bukan portofolio yang direkomendasikan, kecuali hanya untuk arus kas, atau kemudahan melakukan transaksi keuangan…

Yang jauh lebih menarik adalah INVESTASI… sehingga, saat ini, slogan “Ayo Menabung”, mungkin sudah saatnya dinaikkan kelasnya menjadi, “Ayo Investasi”, agar bangsa ini menjadi bangsa investor… Seperti Chairil Tanjung, yang membeli banyak perusahaan…

Mengapa Indosat akhirnya dibeli oleh Temasek Singapura..? Karena saat ditawarkan ke publik Indonesia, tidak ada yang berani membeli saham Indosat, dan hanya bisa dibeli oleh Temasek itu… sekiranya waktu itu bangsa Indonesia (ada yang) bisa membeli saham Indosat, mungkin perusahaan Tbk itu menjadi milik bangsa Indonesia hingga sekarang… Seandainya (ada) bangsa Indonesia yang mampu membeli saham Aqua, maka mungkin bukan Danone yang kini memiliki saham perusahaan yang menguntungkan besar pada shareholdernya itu… Seandainya bangsa Indonesia telah menjadi bangsa investor, maka pada saatnya nanti, perusahaan-perusahaan domestik bagus yang sedang kesulitan dana tidak diprivatisasi sebagai milik perusahaan asing lagi..

Hal-Hal Negatif investasi: yang menjalankan usaha adalah pihak lain (pengusaha, pebisnis), pemilik dana tidak terlibat dalam pengelolaan dana, keuntungan bergantung kepada pihak pengusaha, dan bisnis yang dijalankan oleh pengusaha itu tidak under control pemilik dana..

Hal-hal positif (keuntungan) investasi: mendapatkan keuntungan secara periodik (bisa bulanan, triwulan, atau tahunan, tergantung akadnya), tidak cape mengurus bisnis, bisa leluasa mengatur waktu dan aktivitas (apalagi jika keuntungan bulanan sudah sangat cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan bulanannya), bisa kesana kemari dengan leluasa, tanpa terikat kewajiiban harus menunggui dan mengurus usaha…

Maka… investasi adalah portofolio bisnis yang layak diambil setiap orang..

3. PROPERTI. properti adalah aset yang terus naik nilai dan harganya –kecuali properti di daerah bencana semacam di Porong Sidoarjo (kasus lumpur Lapindo)… Makanya, properti juga bisa dilirik untuk peningkatan aset…

Hal-hal negatif properti: karena nilainya cukup mahal, maka tentu saja tidak mudah untuk menjualnya dengan segera… sebuah tanah atau rumah dengan nilai 100 juta, misalnya, ketika hendak ditawarkan untuk dijual, tidak mudah mendapatkan pembeli dalam waktu cepat (kecualli jika ada anugerah Allah yang mempercepat pembelian itu)..

Hal-hal positif properti: harganya terus naik, anti inflasi, menguntungkan…

4. EMAS. Emas adalah komoditi yang relatif stabil… nilai hedging (perlindungan)-nya bagus, tidak seperti mata uang yang nilainya terus dirampok oleh inflasi… sekalipun dalam gerakan antar detik dan menit, bahkan antar jam dan hari, harga emas bisa naik dan turun, tetapi dalam kurun setahun, emas selalu mengalami peningkatan…

Sebagai contoh, pada awal tahun 2011, harga emas dunia adalah 1400 dolar per troyonse, tetapi sekarang –setahun kemudian– pada bulan Mei 2012 ini, harganya minimal 1630 dolar per troyonse.. Ada kenaikan sekitar 230 dolar dalam setahun… bahkan sebenarnya, harga emas itu pernah menyentuh angka 1740 dolar per troyonse pada Nopember 2011 yang lalu… dan diprediksi akan naik lagi pada akhir tahun 2012 ini, menjadi sekitar 1800 an, 1900 an hingga 2000 dolar per troy onse…

Emas bebas inflasi… karenanya banyak orang yang bergerak membeli emas, baik berupa perhiasan maupun apalagi logam mulia (LM) bersertifikat perusahaan Antam (PT Aneka Tambang) termasuk juga emas koin Dinar…

Jadi, sebagai sebuah aset, EMAS bisa menjadi pilihan yang direkomendasikan… keempat tiang tersebut biasanya berjalan sendiri-sendiri… artinya, sejumlah orang menggeluti keempatnya (atau sebagiannya) secara terpisah-pisah… misalnya, bisnis tersendiri, investasi tersendiri, properti tersendiri, dan emas tersendiri… ada yang bisa mengambil keempatnya sekaligus, tetapi ada juga mengambil sebagiannya saja (mungkin satu, dua atau tiga)…

yang lebih menarik adalah menggeluti keempat tiang itu dalam satu waktu secara bersamaan.. Maksudnya, sebuah aktivitas yang di dalamnya ada (1) bisnisnya, (2) investasinya, (3) nilai propertinya, dan (4) emasnya… Dengan satu aktivitas, tetapi mendapatkan keuntungan dari keempatnya sekaligus… itu pilihan yang tentu saja sangat menarik…!!!

Dan … untuk mengeliminasi trauma kegagalan itu, ada yang merekomendasian agar lebih memaksimalkan potensi Otak Kanan, ketimbang Otak Kiri…

Dan… marilah kita renungkan kalimat di bawah ini:

Dalam perspektif Entrepreneurial Mindset, aset rumah seharga misalnya 200 juta, di mana aset itu mengendap hanya dalam bentuk bangunan, tidak memberikan nilai produktif yang mengembangkan, lalu seseorang dan keluarganya tinggal dan tidur di dalamnya, lalu ada cerita bahwa dia sulit mengembangkan usaha dan sedang hidup sulit, maka berarti orang itu TIDUR DENGAN SUPER AMAT MEWAH… UNTUK SEMALAM, IA TIDUR DI DALAM RUMAH SENILAI 200 JUTA RUPIAH, dan itu ia lakukan setiap malam bersama keluarganya… bahkan hotel termewah di dunia sekalipun tidak ada yang tarifnya 200 juta semalam…

Bagaimana dengan Anda…?!!!

Selamat mengambil peluang terbaik…!

Salam ekselen…

Dari budaya menabung, kita biasakan budaya investasi…
Ayo berinvestasi….

Bandung, 7 Mei 2012

Ashoff Murtadha

 

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.