Cara Kampanye Kita

Seperti Anda, saya juga termasuk yang mengamati spanduk dan banner Pilgub Jabar. Banyak spanduk berterbaran, terpasang dan terpampang. Kita akan temukan di jalanan, di tiang-tiang listrik, di pepohonan, di rumah, dan lain sebagainya. Di kota, juga di desa dan perkampungan.

Bagi para pendukung paslon, terpasangnya spanduk atau banner paslon akan membanggakan, sambil berharap bahwa area wilayah di mana spanduk terpasang akan otomatis menjadi basis suara bagi paslonnya.

Karenanya mereka berlomba-lomba memperbanyak banner agar terpasang. Tidak jarang, di satu titik bahkan ada yang terpasang beberapa banner dalam jarak yang hanya sekian sentimeter saja.

Sejujurnya, kalau diamati, dari keempat paslon Pilgub Jabar, yang paling sedikit memasang spanduk dan banner di area publik adalah paslon Deddy-Dedi. Sebagai contoh, dalam perjalanan mudik dari Bandung ke Garut saja, sepanjang jalan, kita akan temukan banyak spanduk nomor 1 di jalanan. Banyak, berjejer dan variatif. Terbanyak kedua adalah spanduk-banner paslon nomor 3, lalu nomor 2.

Sedangkan spanduk paslon nomor 4 ? Hanya satu dua. Jika perlombaaan adalah siapa yang paling banyak spanduk dan bannernya yang terpasang, maka pasangan Deddy-Dedi adalah yang paling sedikit.

Di kalangan relawan dan simpatisan, banyak yang bertanya-tanya mengapa pasangan nomor 4 tidak banyak memasang spanduk di berbagai titik. Seperti Anda, saya juga bertanya demikian. Dan, kita tahu jawabannya: Karena finansial pasangan ini paling kecil. Ketika paslon-paslon lain bergelimang dana kampanye, pasangan Deddy-Dedi justru sebaliknya.

Apakah banner-spanduk tidak penting? Tentu saja penting. Masalahnya adalah karena minimnya dana yang dimiliki pasangan ini. Apalagi, sudah paling sedikit, yang sudah terpasang pun banyak yang hilang dalam hitungan jam. Malam hari dipasang, malam berikutnya ada yang mencopot. Entah siapa pelakunya. Padahal, spanduk dan banner paslon lain tetap aman terpasang di tempatnya.

Tentu saja perlu langkah kreatif menyiasati minimnya pendanaan ini. Di antaranya adalah, pasangan ini lebih banyak mengunjungi masyarakat, bertamu dan menghadiri acara-acara mereka. Misalnya Kang Dedi seringkali menerima undangan dari banyak warga dan masyarakat untuk hadir dalam acara mereka. Seperti acara pengajian, buka bersama, malam nuzulul Quran dan lain sebagainya.

Bahkan, tak jarang, usai mengisi acara, Kang Dedi dibekali berkat berupa makanan.

Ada yang lebih penting ketimbang spanduk dan banner atau APK lainnya. Yakni, bersilaturahim dan memanusiakan masyarakat. Kampanye humanis lebih berharga daripada kampanye melalui gambar dan alat peraga. Kampanye natural yang alami, tidak dibuat-buat, lebih mengena dan efektif.

Memanusiakan manusia jauh lebih penting. Inilah yang lebih diandalkan oleh pasangan Deddy-Dedi pada masa-masa kampanye ini.

Karenanya, ketika pasangan lain panik hingga membuat kampanye hitam, dalam rangka memfitnah pasangan Deddy-Dedi, maka Deddy-Dedi cukup bersilaturahim dan membahagiakan warga saja.

Para relawan, tim dan simpatisan juga cukup dengan menyapa, hadir menemui masyarakat, membantu mereka dan membesarkan hati mereka.

Memanusiakan sesama jauh lebih efektif ketimbang sekadar memasang APK.

Maka teruslah bersilaturahim, menyemai cinta sebanyak-banyaknya, seluas-luasnya, sesering-seringnya.

Karena modal kita adalah cinta dan ketulusan, kerja dan pelayanan.

Bagi para relawan, teruslah lakukan BOPAI… Buka Obrolan, Presentasi, Ajak, dan Ikat dengan closing statement yang simpatik…

#KitaMena4ng

Mamprang luuurrr…!!!

#yakinmen4ng
#deddydedi
#coblosnomor4
#coblospalingkanan

Bandung, 19 Juni 2018

Bagea

Mahya Lengka

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

close