Tradisi dan Harlah NU 91

Lahir dari keluarga NU. Dididik dan diajari ritual ibadah cara NU. Sejak kecil ikut mentradisikan kebiasaan-kebiasaan NU. Membaca Yasinan malam jumat (juga surat al-Kahfi). Membaca al-Barzanji bareng-bareng teman seumur di tajug atau surau.

Waktu kecil biasa sarungan. Salat sarungan. Tidur sarungan. Ke dapur sarungan. Mandi sarungan. Main bola juga sarungan.

Orang tua, kakek, uwa dan mang mengajari kitab-kitab kuning yang biasa orang-orang NU pelajari. Shalawatan ala NU sampai sekarang masih diamalkan setiap malam jumatan.

Shalawat badriyah, ya nabi salam, ya Rasulallah salaamun alayka. Lii khamsatun, dan lainnya.

Selain di Gontor, juga sempat mesantren di salah satu pesantren NU di Babakan Ciwaringin Cirebon.

Saat mahasiwa tingkat, di Cipasung Tasikmalaya ada Muktamar NU. Muktamar yang cukup “keras”. Mumpung dekat dari Bandung, ah naik bis ke Singaparna hanya ingin melihat dan menjadi penggembira di arena. Sambil lihat-lihat bagaimana suasana muktamar.

Tidak disangka, ketemu Gus Dur yang saat itu dicalonkan, dan menjadi magnet terbesar dalam muktamar. Sempat memotretnya.

Juga ketemu dengan Martin Van Bruinessen, orientalis pengagum Gus Dur dan NU yang sebelumnya hanya mengenalnya dari tulisannya. Biasa, namanya mahasiswa, kesempatan seperti ini dipakai foto-foto juga. Lumayan, bisa foto dengan orientalis yang senang Islam ini. Jadi kenangan.

Bahkan sempat merasakan duduk di kursi pimpinan sidang saat muktamirin sedang istirahat makan malam. Saking apanya? Hanya karena ada kedekatan tradisional dengan ormas ini…

Saya cukup mengenal tradisi dan cara berpikir NU dan tokoh-tokohnya yang bagi kalangan umum dianggap nyleneh. Sesuatu yang sebenarnya terjadi hanya karena perbedaan metodologi dan strategi, yang sebagian hanya bisa dimengerti dengan cara-cara berpikir Nahdhiyyin saja.

Namun bagi yang berusaha masuk dengan cara berpikir mereka, sebenarnya sesuatu yang dianggap nyleneh itu biasa saja, dan seharusnya demikian. Tentang kontroversinya, itu karena perbedaan sudut pandang dan kapasitas yang berbeda.

Tidak terasa, hampir seabad usiamu, NU. Sembilan puluh satu tahun. Selamat, dan tetaplah berdiri terdepan menjaga tradisi yang baik, sambil terus menginovasi, menjaga NKRI.

Tugas pendidikan, ekonomi dan kebudayaan adalah pekerjaan panjang yang terus menantang…

Selamat Harlah NU 91….

31 Januari 1926
31 Januari 2017

Ashoff Murtadha

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

close