Pergerakan Hati, dari Doa ke Munajat
Doa 

Ada tiga kalimat yang mudah diingat dalam sebuah hadits Nabi Saw, tentang tips menghadapi harta, orang sakit, dan bencana.

Hadits ini diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud, terdapat di antaranya dalam kitab Al-Mu’jam Al-Kabir, 10:128, dan Hilyat al-Awliya, 2:104.

“Lindungilah harta kalian dengan zakat. Obatilah orang-orang sakit kalian dengan sedekah. Dan persiapkan doa untuk menghadapi bencana.”

Saya tidak ingin mengulas dua kalimat yang pertama, dan hanya mengomentari kalimat yang ketiga. Yakni, untuk menghadapi kesulitan, masalah, bala, bencana atau sejenisnya, persiapkanlah doa.

Dulu waktu saya kecil, ke rumah ayah (almarhum, rahimahullah) ada beberapa tetangga yang datang sekadar minta diajari doa untuk ini dan itu. Khususnya di kalangan Nahdhiyyin (NU), memang sudah menjadi common sense bahwa setiap sesuatu ada doanya, setiap kegiatan ada doanya. Untuk belajar, mencari rizki, menghadapi masalah, perjalanan, berumah tangga, keberhasilan, dan lain sebagainya.

Karenanya, ada banyak doa yang bisa disiapkan untuk menghadapi kegiatan apa pun, dan masalah apa pun. Dan sesuai perintah Nabi di atas, setiap Muslim mesti menyiapkan sejumlah doa untuk menjalani peristiwa-peristiwa hidupnya.

Dulu, ada seorang tabi’in yang datang kepada Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib, untuk minta diajari sebuah doa. Dan karena kedekatan, persahabatan, dan kesetiaan orang tersebut, Ali mengajarinya sebuah doa yang luar biasa. Bukan hanya indah, bukan hanya menggetarkan, tetapi juga kalimat-kalimatnya mendekatkan hati kepada Zat yang Maha Mendengar. Kelak doa ini dilazimkan oleh banyak umat Islam setiap malam Jumat atau malam Nishfu Sya’ban. Doa yang oleh sebagian kalangan disebut dengan Doa Hadhrat Khidhir.

Doa bukan semata-mata sebuah rangkaian kata atau kalimat yang terucap. Ia adalah kekuatan. Itulah sebabnya dalam hadits lain Nabi bersabda, “Doa adalah senjata orang beriman.” Al-du’a silaah al-mukmin.

Menarik dipahami, karena beliau tidak menyebutkan bahwa doa adalah senjata bagi Muslim, tetapi senjata bagi seorang Mukmin, orang beriman. Doa akan menjadi kekuatan juga senjata ketika ia disampaikan oleh hati orang yang beriman, mengimani, mempercayai dan meyakini.

Karenanya, ketika sebuah doa yang diucapkan seperti tidak berkekuatan, itu karena pengucapnya mungkin tidak mengimaninya. Mungkin hatinya ragu. Mungkin hatinya berburuk sangka, atau lainnya.

Pentingnya sebuah doa, bukan saja karena mengharapkan keberkahan (keampuhan) dari doa itu saja. Lebih dari itu, doa adalah media komunikasi seorang hamba dengan Tuhannya. Seperti kata Muhammad Iqbal (filosof Muslim eksistensialis abad 20 an asal Pakistan), “Kalau kamu ingin Tuhanmu berbicara kepadamu, bacalah Al-Quran. Jika kamu ingin berbicara kepada-Nya, berdoalah.”

Seorang Muslim biasanya memiliki banyak redaksi doa. Sebagian redaksi doa itu sudah umum dihafal dan diwirid usai salat atau lainnya. Namun, sebagian orang ada yang memiliki doa-doa khusus untuk hal-hal khusus, dan dipanjatkan saat-saat khusus pula.

Dan doa-doa khusus itu biasanya disampaikan dalam bentuk munajat, bukan doa. Jika doa bisa dilakukan sendirian atau berbarengan, maka munajat adalah doa yang disampaikan secara privat, sendiri, sunyi dan berduaan saja dengan Allah. Hanya antara seorang hamba dengan Tuhannya. Antara seorang pecinta (habib) dan Yang Dicintai (mahbub). Di sinilah pula saat-saat tadharru’, khufyah, dan taqarrub itu diwujudkan dan bisa dirasakan.

Pembeda lainnya adalah bahwa jika berdoa biasanya untuk meminta, maka munajat lebih banyak untuk memuji, menghamba, mendekat, dan berasyik-ma’syuq dengan-Nya. Karenanya, kelezatan dan kekuatannya juga bisa berbeda…

Munajat bisa diredaksikan dengan bahasa sendiri. Namun karena keterbatasan dan keawaman, seorang Muslim merasa perlu dipandu dengan redaksi munajat-munajat hebat yang pernah diajarkan oleh orang-orang hebat yang sangat dekat.

Dan ia bisa mendapatkannya, mendawamkan dan menikmatinya…

Salam

31 Januari 2017

Ashoff Murtadha

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

close