Nabi Sulaiman Membuat Banyak Patung, Akankah Kausebut Beliau Musyrik?

“Tidak semua patung adalah berhala, dan tidak semua berhala berbentuk patung.”

Belajar Islam tentang suatu tema itu harus tuntas. Jika suatu bahasan dalam pelajaran Islam belum tuntas diulas dan dipahami dengan utuh, maka yang terjadi bukan saja kesalahan paham bagi pelakunya, tetapi bahkan akan menyalahkan orang yang sudah paham. Misalnya tentang membangun patung.

Ada sebagian orang yang menuduh orang yang membuat patung sebagai tindakan syirik, dan pelakunya sebagai musyrik. Ia mengira bahwa setiap patung adalah berhala yang disembah. Padahal kenyataannya sepanjang sejarah kemanusiaan, tidak demikian.

Dulu Nabi Ibrahim as menghancurkan patung-patung. Mengapa? Jawabnya adalah karena kaumnya menjadikan patung-patung itu sebagai sesembahan. Mereka menjadikan patung sebagai berhala. Lihat kisahnya dalam QS al-Anbiya, 21:52-53. “Ingatlah ketika ia (Ibrahim) berkata kepada kaumnya, ‘Patung-patung apakah yang kalian tekun sembah itu?’ Mereka menjawab, ‘Kami mendapati nenek moyang kami menyembahnya‘”

Jadi, mengapa Nabi Ibrahim menghancurkan patung-patung itu? Karena patung-patung tersebut dijadikan berhala, atau sesembahan.

Saat Fathu Makkah (Pembebasan Kota Makkah), dalam sirah Nabawiyah disebutkan bahwa di sekeliling Ka’bah ada sekitar 360 patung berhala. Dan hal pertama yang Nabi Muhammad Saw lakukan adalah menghancurkan mereka, dibantu oleh Ali bin Abi Thalib dan para sahabat lainnya. Mengapa Nabi Saw menghancurkan berhala-berhala itu? Karena kaum Quraisy saat itu menjadikan patung-patung itu sebagai sesembahan, sebagai berhala.

Apakah semua patung yang dibuat dijadikan berhala atau sesembahan? Tentu saja tidak. Al-Quran mengisahkan Nabi Sulaiman yang telah membangun banyak gedung tinggi dan patung-patung. “Mereka (para jin) bekerja untuk Sulaiman sesuai dengan apa yang dikehendakinya, di antaranya (membangun) gedung-gedung tinggi, patung-patung, piring-piring yang besarnya seperti kolam, dan periuk-periuk yang tetap (berada di atas tungku).” (QS Saba, 34:13)

Sulaiman yang seorang nabi dan rasul agung itu membangun banyak patung pada masa hidupnya. Jika membangun patung dilarang oleh Allah, tentu saja sebagai nabi dan rasul beliau tidak melakukannya. Lalu mengapa beliau membangunnya? Jawabnya adalah karena beliau membangun patung bukan sebagai sesembahan, bukan sebagai berhala. Melainkan sebagai hiasan, atau fungsi lain yang tidak bertentangan secara syariat. Beliau membangun patung sama dengan beliau membangun gedung tinggi, membuat piring-piring besar dan periuk besar dan tegak.

Nabi Sulaiman putera Nabi Dawud adalah seorang nabi dan rasul yang mendapatkan anugerah besar dari Allah. Beliau dikarunia ilmu, harta, dan tahta, yang kerajaannya menguasai semua jenis makhluk, baik manusia, hewan maupun jin. Sebagai seorang nabi, beliau terjaga dari hal-hal yang dilarang oleh Allah. Dan beliau pasti mengetahui mana yang halal dan haram. Beliau lebih paham tentang itu daripada kita-kita pada zaman ini.

Sehingga, yang diharamkan itu bukan membangun patungnya, melainkan menjadikan patung sebagai sesembahan, atau sebagai berhala. Jika patung dibangun sebagai hiasan, atau sebagai sebuah ciri (ikon) sebuah tempat atau bangunan, atau fungsi lainnya yang tidak bertentangan dengan syariat, maka itu tidak dilarang. Sama saja dengan seseorang membangun gedung tinggi, atau menara, atau lainnya.

Umat Islam harus memahami secara benar apa itu syirik dan siapakah yang disebut dengan musyrik. Syirik adalah tindakan menyekutukan atau menduakan Allah dengan selain-Nya. Orang yang melakukannya disebut musyrik. Ekspresi tindakan syirik bisa apa saja. Jika seseorang lebih mengutamakan sesuatu ketimbang Allah, itu juga bagian dari ekspresi syirik.

Dalam kehidupan manusia sepanjang sejarah, berhala (sesembahan) itu banyak macamnya. Kalau pada zaman dulu berhala itu berbentuk patung. Tetapi pada zaman ini, berhala itu bisa berbentuk apa saja yang dijadikan kejaran hidup seseorang selain Allah. Berhala pada zaman ini bisa berbentuk jabatan, kekuasaan, aset, uang, kekayaan, atau apa saja yang dijadikan tujuan hidup selain Allah.

Karenanya, berkaitan dengan patung itu begini ringkasnya: Tidak semua patung adalah berhala, dan tidak semua berhala berbentuk patung.

Nah, berkaitan dengan pembangunan patung pada zaman ini bagaimana? Ya lihat dan perhatikan saja, apakah patung-patung yang ada di negeri kita ini dijadikan berhala-sesembahan atau tidak? Apakah patung-patung para pahlawan, patung hewan, patung tokoh wayang, dan lain sebagainya yang ada di berbagai daerah di Indonesia itu  dijadikan sesembahan atau tidak?

Pada zaman ini, sebodoh-bodohnya manusia yang hidup pada masa kini takkan ada yang terlalu bodoh hingga menyembah patung. Saat ini patung berfungsi sebagai hiasan artistik, ciri (ikon) sebuah tempat, daerah, perkantoran, atau fungsi lainnya yang relevan. Apa yang mereka lakukan paling banter sekadar berfoto dengan sebuah patung, untuk mengingatkan bahwa mereka pernah datang ke tempat tersebut. Karena itu, jauh untuk disebut sebagai syirik.

Jadi, berhati-hatilah menuduh seorang Muslim sebagai musyrik, hanya karena ketidaktahuan dalam memahami syariat Islam. Nabi Saw pernah bersabda, “Barangsiapa mengkafirkan seorang Muslim, maka ia sendiri yang kafir.” Bila diperluas secara makna, sabda beliau bisa ditarik pula kepada tema syirik, sehingga barangsiapa menuduh seorang Muslim sebagai musyrik, maka ia sendiri yang musyrik. Jadi, jagalah keimanan dan tauhid kita agar terhindar dari menjadi musyrik hanya karena kita menuduh musyrik Muslim lainnya tanpa ilmu yang benar.

Oleh sebab itu, memahami ajaran Islam itu memang harus utuh dan benar, jangan sepotong-sepotong. Jika ajaran Islam dipahami secara sepenggal-sepenggal, tidak komprehensif, maka yang terjadi bukan saja kebodohan, tetapi juga pembodohan dan tersebarnya fitnah. Dan itu dilarang oleh Islam sendiri.

Katakanlah yang benar itu benar, dan yang salah itu salah. Jangan sampai ketidaksukaan kepada seseorang membuat kita menyalahkan yang benar darinya. Dan jangan sampai pula kecintaan kepada seseorang membuat kita membenarkan yang salah darinya. Lihat dan nilailah sesuatu secara benar, adil dan proporsional.

Alhasil, ketika Nabi Sulaiman saja membangun banyak patung, berarti sekadar membangun patung itu bukan sebuah kemusyrikan. Karena, Nabi Sulaiman adalah seorang nabi yang terjaga dari hal-hal yang dilarang oleh Allah. Yang dilarang itu adalah menyekutukan Allah, menjadikan berhala atau sesembahan selain-Nya. Karenanya, tidak semua patung adalah berhala, dan tidak semua berhala berbentuk patung.

Wallahu a`lam bi al-shawab

Bandung, 8 Januari 2018

Mahya Lengka

 

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

close