Memahami Sikap Legawa Kang Dedi

Masih ingat tagline Pacar Ketinggalan Kereta ketika Kang Dedi Mulyadi diabaikan oleh Golkar era Setya Novanto? Ya, saat itu melakukan konferensi pers di kantor DPD Golkar Jabar dan dikunjungi oleh Deddy Mizwar (Bang Deddy). Sejak pertemuan itulah muncul tagline itu. Publik cukup dikejutkan dengan kedekatan kedua DM ini. Dari selorohan keduanya, dua DM tetap sumringah dan tampil kepada publik dengan humor yang menyimpan makna mendalam. Katanya mereka berdua mau membuat film berjudul Pacar Ketinggalan Kereta.

Sebagai sosok yang saat itu paling disorot publik, Kang Dedi tidak menunjukkan sikap kecewa oleh sikap Golkar. Ia tetap bersikap dengan ajeg, memberikan pernyataan dengan lugas, bernas dan cerdas. Ia juga masih tetap bisa menghibur masyarakat dan berbagi kepada mereka di Bandung. Ingat, saat itu KDM menghadiri acara Wayang Golek di kantor DPD Jabar dan sebelumnya di lapangan Antapani Bandung. Tentang sikap Golkar era Novanto kepadanya, ia hanya bilang, “saya memahami keputusan DPP”. Kang Dedi tetap legawa dan berbesar hati.

Filosofi air mengalir yang dipegang oleh Kang Dedi terus bergerak dan membanjir bagai bah. Hingga karena kepeloporannya, akhirnya Munaslub Golkar mengganti ketum. Airlangga, yang menjadi manifestasi air mengalir Kang Dedi di Golkar, menjadi ketum Golkar. Di tangannya, Kang Dedi ditetapkan sebagai cagub Golkar sebagaimana hak yang seharusnya ia dapatkan, dan ia paling pantas menerimanya.

Namun perkembangan politik memang dinamis. Pasti ada tarik ulur dari berbagai pihak yang tidak semuanya bisa dibaca oleh publik. Singkat cerita, Jumat kemarin, 5 Januari 2018, Golkar menetapkan Kang Dedi sebagai cawagub bagi Bang Deddy. DM Muda menjadi wakil bagi DM Tua.

Bagi publik yang sangat hafal dengan kiprah dan prestasi KDM, tentu saja keputusan Golkar (dan Demokrat) ini sangat mengecewakan. KDM terlalu unggul untuk menjadi nomor dua. Kapasitas KDM itu menjagi gubernur, bukan wakilnya. Sangat disayangkan jika ia menjadi yang kedua, padahal potensi dan prestasinya paling pantas menjadi yang pertama. Apalagi jika ia menjadi wakil bagi sosok yang dikenal publik tidak memiliki prestasi yang menonjol.

Ada sejumlah kekecawaan yang muncul dari masyarakat, terutama di kalangan pendukung dan pecinta KDM. Saya termasuk yang kecewa dengan konfigurasi ini. Bagi saya dan mereka semua, Kang Dedi adalah harapan paling riil untuk membangun Jabar saat ini. Namun, dengan keluarnya SK Golkar (dan Demokrat) seperti yang kita saksikan saat ini, tentu saja konfigurasi ini takkan mungkin lagi berubah. Kang Dedi tetap akan menempati posisi kedua, bukan yang pertama.

Sebagai orang yang terus mengikuti gerak langkah KDM sejak akhir 2015, baik dari segi mindset, visi-misi selama ini, prestasi kepemimpinan, filosofi dan lain sebagainya, meskipun hanya dari jarak jauh, saya mencoba menemukan penjelasan independen atas konfigurasi ini, berdasarkan pengamatan saya pribadi, dikaitkan dengan upaya strategis KDM sendiri dalam membangun Jawa Barat.

Satu hal yang sangat saya yakini dari Kang Dedi adalah bahwa ia orang yang tulus dalam bekerja dan membangun. Perjuangan, peluh keringat, tenaga dan waktu yang telah ia curahkan untuk masyarakat selama ini bukan ditujukan untuk memperbesar dirinya atau kebanggan dirinya, tetapi semata-mata untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat seluas-luasnya.

Karena itulah, ia menyatakan bahwa “percuma posisi tinggi kalau tidak bisa berbuat apa-apa, yang penting bisa berbuat sesuatu sekalipun bukan di posisi tertinggi.” Kalimat ini tidak persis, namun maknanya seperti itu. Kalimat ini kita dengar sekarang-sekarang, yang agaknya ditujukan sebagai penjelasan mengapa ia legawa dengan posisi kedua. Ia tetap mensyukurinya sebagai takdir Allah dan kesempatan yang Dia berikan kepadanya untuk membangun kemanusiaan.

Saya menggarisbawahi kalimat ini sebagai “orientasi kerja” Kang Dedi. Baginya, yang penting bisa bekerja, bisa menuangkan gagasan dan mewujudkannya, bisa membangun masyarakat sesuai visi-misi yang selama ini ia wujudkan dan capai di Purwakarta, itulah yang lebih penting. Dan dalam penglihatannya, bersama Bang Deddy ia bisa melakukannya.

Semua orang tahu kapasitas Kang Dedi. Dalam kemampuan berbicara, bergagasan, berorganisasi, bekerja dan lain sebagainya, KDM sangat unggul. Di antara para calon yang ada, keunggulan dan prestasi KDM ini sangat menonjol bahkan di atas mereka semua. Di sisi lain, ada sosok lain yang merasa dirinya memiliki prestasi yang dipandang masyarakat. Publik sudah tahu bahwa sosok ini (RK) tidak mau bersanding dengan KDM. Mengapa ia tidak mau bersanding dengan KDM? Dalam pandangan publik, itu karena KDM bisa menjadi matahari kembar baginya.

Jika ada matahari kembar, dampaknya bisa kurang efektif. Mengapa? Karena, di satu sisi, KDM akan dianggap sebagai “pesaing” yang menghalangi. Mengingat daya jelajah dan popularitas KDM di daerah-daerah di Jabar, mungkin publik akan lebih melihat KDM ketimbang sosok ini. Makanya, kita tahu dulu RK tidak mau berduet dengan KDM.

Dan di sisi lain, jika KDM berduet dengan RK, apalagi dalam posisi kedua, KDM sendiri tidak bisa berbuat banyak mewujudkan visi dan misinya. Mengapa? Karena kedua sosok ini sama-sama memiliki visi misi sendiri yang terlihat berbeda. Jika RK bervisi kota, maka KDM bervisi desa. Meskipun kata sebagian orang duet keduanya dianggap akan saling melengkapi, tetapi secara strategis dan teknis barangkali akan bertabrakan.

Memahami hal demikian, bagi Kang Dedi, yang paling strategis dan realistis adalah berduet dengan Demiz. Apalagi sejak awal duet Dua DM ini sudah mengangkat tagline Koalisi Sajajar, yang artinya posisi bukan yang utama, karena keduanya sama-sama sejajar, maka Jabar 1 dan 2 hanyalah ketentuan administratif, bukan substantif.

Sebagai sosok yang lebih senior, Demiz lebih mengetahui bagaimana kelincahan dan daya jelajah Kang Dedi. Sehingga, Kang Dedi bisa memiliki keleluasaan untuk mewujudkan gagasan visi-misinya selama ini. Sekalipun visi-misi tersebut merupakan kesepakatan antara Dua DM, namun chemistry keduanya akan membuat Kang Dedi memiliki kesempatan besar untuk mewujudkannya. Boleh dikatakan, otak dan tangan duet ini adalah Kang Dedi sendiri.

Lalu di mana peran dan tugas Demiz? Ia berperan di “sisi lain”. Bagi kalangan yang mengamati sosiologi masyarakat Jabar belakangan, maksud dari kata “sisi lain” itu bisa dipahami. Apalagi kedua-duanya memiliki latar belakang budaya, maka duet Dua DM lebih efektif ketimbang duet lainnya. Karenanya, tidak akan terjadi tabrakan idealisme antara Duo DM ini. DM Tua memahami apa yang dipikirkan oleh yang muda, dan DM Muda bisa berbuat dan bekerja dengan dukungan yang tua.

Jadi, sikap KDM ini merupakan sebuah langkah strategis dan taktis, agar visi misinya bisa diwujudkan untuk membangun Jabar Sajati. Koalisi Sajajar tidak menempatkan siapa di atas siapa di bawah. Karena Koalisi Sajajar dibentuk untuk membangun masyarakat dalam kesetaraan. Sejajar, Sajajar. Karena Jawa Barat adalah tempat kesejajaran. Pajajaran…!

Bandung, 6 Januari 2018

Bagea

Mahya Lengka

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

close