Kang Dedi Sudah Berada pada Fase Dicintai

gonusa.com //– Masih ingat Yudi Hamdani (37 tahun) warga Cianjur yang berjalan kaki dari Cianjur ke Purwakarta Oktober 2017 lalu tanpa alas kaki? Warga Desa Muka RT 01/09 Kecamatan Cianjur, Kabupaten Cianjur, ini melakukannya hanya untuk menemui Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi di kediamannya Jalan Gandanegara No. 25 Purwakarta.

Mengenakan pakaian pangsi lengkap dengan ikat kepala khas Sunda, Yudi juga membawa bendera Merah Putih pemberian anaknya dan kertas bergambar Dedi Mulyadi bertuliskan ‘Aksi Dukungan Untuk Kang Dedi Mulyadi Menuju Jabar 1’.

Berjalan kaki tanpa alas kaki, dalam guyuran hujan berhari-hari, menempuh waktu 4 hari 3 malam, dari Cianjur ke Purwakarta, berbekal uang 1000 rupiah dan sebotol air mineral yang didoakan ibunya, tentu saja perbuatan nekat, sehingga ada yang menyebutnya gila di kampungnya. Namun ia melakukannya atas dasar kesadaran pribadi dan tidak ada paksaan dari siapapun.

“Saya dianggap orang gila dan cari sensasi. Tetapi saya tulus untuk Kang Dedi, perjalanan ini saya lakukan untuk beliau yang sudah saya anggap seperti guru. Semua pidato beliau selalu saya ikuti. Saya ingin sekali bertemu. Makanya, Hari Rabu kemarin saya berangkat, jalan kaki,” ungkap Yudi sambil beristirahat.

Sekalipun banyak pengguna jalan yang menawarkan tumpangan kepadanya, namun, karena tekadnya ingin berjalan kaki, Yudi pun secara halus menolak tawaran tersebut. Ia juga menolak tawaran dari Staff Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi yang diutus untuk menjemputnya pada Jumat (13/10) siang.

“Selama perjalanan, saya pasrah saja ingin terus berjalan. Ingat selalu petuah Kang Dedi, lamun keyeng tangtu pareng (kalau bersungguh-sungguh, pasti sampai pada tujuan-red),” ujarnya.

Keharuan pun pecah saat Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi menyambut Yudi di pintu rumah dinasnya tanggal 14/10/2017. Yudi mengaku tidak menyangka ia akan sampai dengan selamat.

“Ini berkah doa Ibu saya. Alhamdulillah perjuangan saya tidak sia-sia,” katanya sambil menangis.

Sambil terisak, Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi meminta anaknya, Maula Akbar Ahmad Habibie Bungsu untuk mengambilkan handuk dan pakaian kering sebagai pengganti pakaian Yudi yang sudah basah kuyup. Yudi juga mendapat pemeriksaan kesehatan dari Dokter Dinas Kesehatan Purwakarta.

Mengapa Yudi melakukan tindakan nekat itu? Jawabnya adalah cinta. Cinta seorang rakyat pada pemimpinnya, yang kebaikannya kepada sesama telah menyentuh hatinya dengan dalam.

Saat peringatan Hari Santri 22 Oktober lalu, Purwakarta hujan cukup deras. Kang Dedi berdiri di atas panggung terbuka tanpa payung. Di hadapannya, ribuan orang setia tidak beranjak meninggalkan acara, padahal tubuh mereka sudah kuyup oleh hujan. Padahal itu terjadi pada malam hari. Tentunya sangat dingin. Mereka semua hujan-hujanan.

Jika berpikir rasional-pragmatis, untuk apa mereka melakukan ini? Jawabanya tentu saja karena cinta.

Semalam, 13 Januari 2018, saat acara Safari Budaya di desa Gunung Leutik kabupaten Bandung, acara Kang Dedi diguyur hujan malam itu. Namun ribuan hadirin tetap setia mengikuti acara hingga selesai. Dan usai acara mereka berebut bersalaman dengan Kang Dedi.

Jika berpikir rasional-pragmatis, untuk apa mereka melakukan ini? Jawabannya tentu saja karena cinta. Cinta rakyat kepada pemimpin yang mereka harapkan.

Di Indonesia, sejak zaman kemerdekaan hingga sekarang, masih sangat sedikit pemimpin yang diperlakukan oleh (sebagian) rakyatnya dengan cinta. Dan dari yang sedikit itu, salah satunya adalah Kang Dedi Mulyadi. Adapun yang lainnya, seperti sudah kita ketahui bersama, adalah Soekarno, Gus Dur, Megawati dan Jokowi, yang memiliki banyak pecinta.

Para figur tadi memiliki para pendukung yang memperlakukan mereka dengan cinta. Dan cinta akan membuat hal mustahil jadi mungkin dilakukan. Tentu saja banyak pendukung mereka yang rasional, yang mendukung secara proporsional. Namun, sebagian dari para pendukung mereka itu sudah memasuki tahap mencintai. Karenanya mereka bisa berbuat hal-hal yang mustahil bagi kebanyakan orang.

Karena mereka sudah memasuki tahap cinta, maka apa pun tuduhan, fitnah, atau “serangan”, takkan menggoyahkan kecintaan mereka. Justru itu semua malah akan membuat para pecinta makin kuat membela dan bersama. Itu pula yang saat ini terjadi pada Dedi Mulyadi.

Yang menjadi pertanyaan, mengapa Kang Dedi dicintai oleh mereka? Karena mereka melihat dan merasakan kecintaan Kang Dedi pada mereka. Akhlak nulung kanu butuh nalang kanu susah yang Kang Dedi sering praktekkan selama ini tersaksikan dan terasakan oleh mereka. Bahkan masuk ke bagian paling inti dari mereka, HATI…

Yang jelas, mendapatkan hati rakyat itu tidak mudah. Ia harus dilakukan dengan ketulusan, konsistensi berbakti, harus alami, tetap istiqomah, dan selalu berada bersama mereka, terutama bersama dalam menyelesaikan derita dan kesulitan mereka… ***

Bandung, 14 Januari 2018

Bagea

Mahya Lengka

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

close