Kami Tetap Bersama Kang Dedi

Saat heboh DPP Golkar mengeluarkan surat rekomendasi kepada non kadernya bulan September 2017 lalu, medsos diramaikan oleh tagar #ktpkamiuntukkangdedi. Publik, terutama pendukung dan pecinta KDM tidak akan membiarkan Kang Dedi tak tercalonkan dalam Pilgub Jabar 2018 ini.

Dorongan untuk mengumpulkan KTP sangat besar di berbagai daerah. Bahkan di Cianjur saja dikabarkan sudah terkumpul ratusan ribu KTP. Bekasi juga bergerak mengumpulkannya. Beberapa daerah lain juga tinggal menunggu komando untuk dimobilisasi dan dikordinasi.

Namun gerakan pengumpulan KTP memang tidak diperlukan. Karena Kang Dedi melakukan gerakan politik yang berujung pada digantinya ketum lama, Setya Novanto, oleh sosok baru, Airlangga. Yang jelas, antusiasme masyarakat itu menunjukkan betapa mereka mencintai dan siap berjuang untuk mengantarkan Kang Dedi memimpin Jawa Barat. Mereka berkehendak Kang Dedi menjadi gubernur Jawa Barat.

Namun realitas politik terutama karena para elit partai memiliki logika sendiri yang seringkali tidak konektif dengan kehendak publik. Dan akhirnya memang Kang Dedi diusung oleh Golkar dan Demokrat sebagai salah satu kandidat dalam Pilgub. Akan tetapi, posisinya bukan yang pertama, melainkan sebagai yang kedua.

Sebenarnya kemungkinan posisi ini sudah disinyalkan oleh KDM sendiri. Misalnya saat ia menyatakan bahwa Koalisi Sajajar dengan Deddy Mizwar tidak mempersoalkan posisi. Yang ditekankan adalah pada visi kerja dan membangun jawa Barat.

Artinya, secara psikologis Kang Dedi sudah menyiapkan diri bahwa di posisi mana pun tidak masalah, asal bisa berkontribusi besar bagi masyarakat.

Tetapi ada pertanyaan, mengapa ia berduet dengan Demiz, tidak dengan sosok lainnya?

Ia menjawab karena keduanya sudah memiliki chemistry. Keduanya bisa bekerjasama satu visi membangun Jabar. Tentu saja di balik itu ada tarik menarik di kalangan elit partai di Jakarta yang tidsk terkomunikasikan kepada publik.

Namun khusus bagi Kang Dedi, koalisi Dua DM merupakan duet terbaik yang bisa menciptakan chemistry yang kontributif bagi masyarakat. Dalam duet, KDM memerlukan tandem yang satu visi dan memahami keunggulan masing-masing. Dan itu ada pada sosok Demiz.

Penjelasan ini sebenarnya sudah cukup menjadi pijakan keyakinan bagi para pendukung KDM. Akan tetapi, sangat wajar jika sebagian dari mereka ada yang kecewa karena semula berharap agar Kang Dedi menjadi gubernur, tetapi kini hanya wakil.

Namun, kembali kepada karakteristik, visi dan keunggulan Kang Dedi, para pendukung sepenuhnya yakin bahwa bagi KDM, posisi hanyalah persoalan administratif, bukan lagi substantif. Sebab, dulu pun KDM pernah jadi wakil bupati tetapi kiprahnya tetap lincah, lebih lincah dari kebanyakan wabup bahkan bupati pada umumnya.

Oleh sebab itu, apa pun konfigurasi politik KDM, para pendukung dan pencintanya akan tetap berjuang bersamanya. Mereka akan tetap menemaninya mendaki bukit, tidak hanya menunggunya saat di puncak.

Maka, kini ramai tagar #kamitetapbersamakangdedi di medsos. Dan salam jedeeerrr tetap bergema menandakan semangat perjuangan bersama.. Membuat sejarah baru di Jawa Barat…

Sampurasun

 

Bandung,  6 Januari 2018

Bagea

Mahya Lengka

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

close