Jangan Tunggu Aku di Puncak. Temani Aku Saat Mendaki

gonusa.com //– Jalan keberhasilan yang dilalui oleh seseorang belum tentu relevan bagi orang lain. Jalan hidup setiap orang bisa berbeda. Kondisi jalan bisa berbeda. Rintangan yang dilaluinya juga bisa beragam. Setiap orang memiliki takdirnya masing-masing. Dan takdir adalah misteri Ilahi.

Saat meninggalkan negerinya di Persia untuk menuju Madinah menemui Nabi Saw, jalan Salman al-Farisi berliku dan menjauh. Dari Persia ia harus melewati India dulu, kemudian ke Eropa (Romawi) hingga Afrika (Mesir). Barulah ia kemudian sampai ke Madinah dan bertemu Rasul Saw.

Mungkin ada pertanyaan: Kalau mau ke Madinah, mengapa Salman dari Persia (Iran) tidak langsung menyusuri jalan-jalan menuju Madinah? Bukankah itu akan lebih cepat?

Ya itulah takdir dan jalan hidup yang harus ia jalani. Dan justru itulah manfaat yang ia terima dan persembahkan bagi Nabi dan Islam. Justru kedatangannya ke Madinah yang mungkin diangap telat itu, justru merupakan saat yang tepat baginya, bahkan bagi Nabi dan Islam.

Kelak, berkat ide Salman, Nabi mendapatkan gagasan menggali parit untuk melindungi diri dari musuh-musuh sekitar Madinah. Dan Salman datang saat dibutuhkan. Jika ia datang ke Madinah lebih awal, mungkin akan berbeda cerita dan perannya. Tetapi itulah takdir.

Apa yang sekarang dijalani Kang Dedi juga takdir Tuhan. Ia selalu berpegang pada prinsip air mengalir. Dan kini aliran air itu mengantarkannya pada posisinya saat ini. Sekalipun kapasitasnya luar biasa dan pantas menjadi gubernur, tetapi nyatanya ia ditetapkan partainya sebagai cawagub.

Setiap orang memiliki peran sejarahnya sendiri-sendiri. Dan bagi seorang yang visioner, di mana pun posisinya ia bisa berbuat besar dan melipatgandakan manfaat kepada sesamanya…

Kini proses mewujudkan visi itu baru saja dimulai. Bukit baru saja mulai didaki. Bagi semua orang yang memiliki visi dan harapan yang sama membangun Jawa Barat dan kemanusiaan yang berperadaban, kini saatnya sama-sama mengayunkan langkah. Langkah sudah mulai diayunkan, dan takkan surut mencapai puncak tujuan…

Jadi teringat kata-katanya di bawah ini:

“Jangan tunggu aku di puncak. Temani aku saat mendaki.”

Karena ini adalah sejarah kita semua…

Salam jedeeerrr…

Sampurasun…

Bandung, 6 Januari 2018

Bagea

Mahya Lengka

News Reporter
Penulis

Leave a Reply

close