Urang Lembur Jadi Gubernur

dedi bawa padi daun

Jawa Barat berpenduduk paling besar di Indonesia. Penduduk Indonesia banyak tumplek di provinsi ini, melebihi semua provinsi lainnya di Nusantara. Terdiri dari 27 kabupaten/kota, Jabar didominasi oleh daerah-daerah berkategori pilemburan atau perkampungan. Jabar bukanlah sebuah provinsi berbasis kota, melainkan provinsi berbasis desa.

Berbeda dengan Jakarta, yang provinsi kota, Jabar adalah provinsi yang terdiri dari ribuan desa, dengan budaya desa, potensi desa, dan karakter desa. Lebih dari 5600 an desa ada di provinsi tetangga DKI ini.

Seperti biasa, sekian puluh tahun Indonesia merdeka, pembangunan desa masih sangat tertinggal. Desa lebih sering dieksploitasi ketimbang dibangun. Sekian puluh tahun pembangunan lebih difokuskan pada kota, dan mengabaikan desa. Padahal desalah yang menyangga semua kota. Kebutuhan warga kota disuplai oleh desa. Persoalan kota bisa diatasi hanya dengan melibatkan desa.

Sayangnya, desa tidak dipedulikan secara proporsional dan seharusnya dalam pembangunan, termasuk di Jawa Barat hingga hari ini.

Namun publik kini mulai terbelalak dengan apa yang dilakukan oleh Kang Dedi Mulyadi di Purwakarta. Dengan dua narasi besarnya, budaya dan desa, Kang Dedi berhasil mengubah pola dan konsep pembangunan dari orientasi kota ke desa, dan ia sukses mencengangkan.

Di tangan KDM, desa disulap menjadi keunggulan dalam pembangunan dan membentuk peradaban. Desa bukan lagi dilihat sebagai objek pembangunan, melainkan subjek yang memberi warna dan mempengaruhi.

Pesona desa kini bisa menjadi daya tarik yang kongkrit, bukan hanya tersaji dalam teks-teks buku yang berisi teori rumit. Cukup lihatlah pembangunan di Purwakarta, maka desa-desa nampak memiliki dangiang dan keajaiban yang memikat dan membanggakan. Untuk melihat bukti bahwa desa adalah kekuatan bangsa, lihatlah bagaimana desa-desa dibangun dan dikembangkan di Purwakarta.

Setelah infrastruktur desa selesai dibangun, berikutnya desa harus mandiri. Karenanya desa harus memiliki kekuatan ekonomi yang sekaligus menjadi subjeknya. Maka program Dana Investasi Desa (DID) adalah jalan yang disiapkan. Setiap desa dibekali 1-5 milyar pertahun, untuk menjadi pemilik saham perusahaan nasional yang profitabel yang ada di daerah. Sehingga jargon “dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat” bisa terwujud dengan nyata.

Selain di Purwakarta, belum ada pemda/pemkot (khususnya di Jabar) yang memiliki program hingga menyiapkan dan mewujudkan konsep desa mandiri (dengan Dana Investasi Desa) dan berbudaya. Hanya di Purwakarta, program tersebut bukan hanya disiapkan tetapi juga diwujudkan.

Kita belum menyebut budaya khas desa yang bernama Beras Perelek yang di Purwakarta sudah digalakan lama dan mengganti raskin dengan beras premium. Sehingga masyarakat tak mampu pun tidak lagi mengkonsumsi raskin, tetapi beras berkualitas bagus yang sama dimakan oleh pemimpinnya. Program yang berikutnya melahirkan program ATM Beras yang disediakan bagi warga miskin dengan jatah 15-30 kg per keluarga.

Inilah sebagian kecil dari potensi dan keunggulan desa yang sudah dikembangkan dan diwujudkan oleh Ki Sunda di Purwakarta. Sehingga publik menyaksikan bagaimana sosok Siliwangi Jaman Kiwari ini mampu membuat desa sebagai subjek pembangunan, dan mengagumkan. Dan saat ini, baru Ki Sunda yang terlihat dan terbukti menjadikan desa sebagai kekuatan dan keunggulan dalam membangun sebuah negeri.

Karena Jabar terdiri dari desa-desa, maka Jabar akan memiliki dangiang dan kembali pada pesona dan kehebatannya jika ditangani oleh sosok yang mengerti dan mengenali desa-desa di Jabar. Sejauh ini, baru KDM yang terbukti sangat peduli pada desa dan mampu menariknya ke pusat pembangunan. Dari 5600 an desa di Jabar, sudah lebih dari 1000 an desa KDM kunjungi dan kenali.

Agaknya, belum ada sosok (calon) pemimpin Jabar saat ini yang sudah nyucruk lembur menjelajah hingga lebih dari 1000 desa saat memimpin. Bahkan sosok yang sekarang menjadi gubernur 10 tahun pun –jangan-jangan– belum tentu mencapai setengahnya. Baru Kang Dedi yang telah melakukannya, dan ini banyak diakui oleh sejumlah kepala daerah di Jabar sendiri. Sehingga Kang Dedi merupakan sosok yang sangat paham dan dinantikan untuk membangun pilemburan di Jawa Barat ini. Agar Jabar kembali menjadi surga dan bumi parahyangan yang diharapkan.

Itulah sebabnya slogan “Urang Lembur Jadi Gubernur” itu terasa pas untuk menggambarkan sosok KDM dan sekaligus mengekspresikan harapan masyarakat Jabar jaman kiwari.

Apalagi dengan gayanya yang seperti orang lembur, teu bauan, tidak pencitraan, spontan, apa adanya, teu pundungan, teu sensian, biasa tidak beralas kaki, berbicara dengan bahasa urang lembur, dan lain-lainnya, KDM telah menjadi personifikasi Urang Lembur itu sendiri.

Jadi, bagi urang lembur seperti saya, melihat Kang Dedi itu ibarat melihat diri sendiri. Sama-sama urang lembur yang ingin melihat Jabar nanjeur dan nanjung… Harapan orang kampung yang ingin melihat keindahan Jabar (fisik dan non fisik) menjadi nyata. Bukan hanya retorika, tetapi terlihat mata, terasa dan mewujud luar biasa. Jabar Sajati nu saenyana…

Inilah harapan urang lembur…
Urang Lembur Jadi Gubernur…

Bandung, 24 Oktober 2017

Bagea

Mahya Lengka

Leave a Reply

close