Tontonan Politik Kepalsuan Jelang Pilgub Jabar

IMG-20171109-WA0023

Kini sudah jelas, DPP Golkar pimpinan Novanto mendukung RK sebagai cagub. Kita semua tentu tahu siapa Novanto. Tentang Novanto, kaitannya dengan RK, ada kalangan yang berpendapat, bahwa mengapa DPP mendukung RK, bukan kader terbaiknya yang berjasa besar, ya karena ketumnya adalah Setya Novanto yang sangat terkenal itu.

Entah apa maksud pernyataan ini. Yang jelas pernyataan tersebut cukup membuat dahi saya berkerut, mencoba menangkap maknanya.

Lalu tentang omongan manis Idrus kemarin-kemarin, saat ia menyebut SK September sebagai surat bodong itu, ya begitulah wajah sebagian orang. Memang ada sebagian orang yang ringan saja menampilkan wajah senyum kepada orang yang hendak ia pukul. Manis manis manis dulu. Saatnya waktu memukul tiba, ya tinggal pukul saja. Bagi banyak orang, tidak mudah berakting seperti ini. Tapi bagi sebagian, ah ini ringan-ringan saja. Mungkin sudah biasa.

Nurul Arifin mengaku kaget saat mendengar DPP tidak mendukung Dedi Mulyadi. Ia mengatakan ini saat ia nebeng sosialisasi dirinya, ikut acara KDM di Antapani Bandung. Beberapa hari kemudian, ia menemani Idrus mengantarkan SK ke rumah dinas RK di Bandung.

Di foto, terlihat sumringah Nurul meminta RK agar mendukungnya dalam pilwakot Bandung. Barter politik bagi dirinya. Inilah hebatnya, yang dikorbankan siapa, tetapi siapa juga yang meminta barter. Ketika di Jakarta hari ini 9 November 2017, Novanto menyerahkan SK kepada RK di atas panggung, Nurul turut berada di atas panggung dengan senyum terkembang.

Lho minggu lalu itu kaget atau pura-pura kaget ya. Sebagai pengurus DPP dan orang dekat Papa, masak ia tidak tahu dan mendengar kisah perjalanan SK itu. Di dekat Dedi ia pura-pura kaget. Saat sudah berhasil memanfaatkan sosok Dedi di Antapani, berikutnya ia memiliki agenda sendiri.

Publik sebenarnya juga mempertanyakan tentang Nurul ini. Katanya ia maju sebagai cawakot Bandung karena direkomendasikan oleh DPP. Pertanyaannya, apakah ia sudah melalui mekanisme survei dengan hasil terbaik? Untuk KDM, DPP mensyaratkan hasil survei terbaik mengalahkan calon lain. Tetapi bagaimana dengan Nurul? Sejauh ini, publik tidak mendengar adanya perlakuan yang sama untuk Nurul, seperti untuk Kang Dedi. Untuk Nurul, tidak ada penjaringan nama di tingkat grassroot. Sedangkan KDM melakukannya. Untuk KDM, harus berbasis survei. Untuk Nurul tidak terdengar.

Ya begitulah. Terlihat jelas di mata publik bahwa ada standar ganda dari DPP. Atau, mungkinkah karena partai hanya milik orang-orang DPP? Karenanya, pelajaran penting bagi siapa saja yang mau mencalonkan diri via partai, lobilah elit DPP. Mekanisme partai di bawah itu tidak penting. Itu hanya pura-pura saja, kamuflase. Toh keputusan ada di pusat.

Figur berkualitas yang tidak klik dengan pengurus pusat, akan ditinggalkan, sekalipun ia seorang kader yang terbaik. Sebaliknya, orang biasa-biasa yang dekat atau mengerti keinginan pusat, bisa mendapatkan tempat.

Alhasil, begitulah tontonan politik saat ini yang diperankan oleh beberapa elit sebuah partai yang sedang kehilangan kepercayaan dirinya ini. Tidak percaya diri terhadap potensi terbaik kader sendiri.

Kelihatannya, drama politik Jabar masih belum akan berakhir dalam waktu dekat. Sementara, publik masih menanti kejutan apa lagi yang akan terjadi.

Kang Dedi, tetap maju…! Teriakan jederrr makin menggema…

#uranglemburjadigubernur

Bandung 9 Nopember 2017

Bagea

Leave a Reply

close