Takkan Lagi Percaya Partai yang Tidak Menghargai Perjuangan

dedi hujan-hujanan

Sewaktu para kader grassroot Golkar mendatangi kantor DPP di Jakarta, pengurus DPP meminta agar KDM mencari partai koalisi, agar diusung bersama. Padahal tanpa diminta pun Kang Dedi sudah lama dan intensif menjalin komunikasi dan strategi koalisi antar partai.

Rupanya DPP pura-pura tidak tahu bahwa sebelum SK bodong-bodongan itu pun KDM sudah menjalin koalisi bukan hanya untuk pilgub Jabar tetapi juga pilkada bupati/walikota dengan PDIP.

Tetapi terlepas dari ketidaktahuan DPP, KDM tetap berkomunikasi lebih intensif dengan PDIP. Sinyal dukungan dari PDIP sangat kuat mengusung Dedi Mulyadi. Belum lagi dukungam dari Hanura. Terakhir Kang Dedi diundang oleh PDIP dâlam acara silatutahim dan curah gagasan, yang makin menguatkan isyarat dukungan PDIP.

Namun, justru saat sedang dekatnya KDM dengan PDIP dan Hanura itulah berita-berita online menyebut pernyataan Nurdin Halid yang mendukung RK. Katanya surat sudah dibuat. Makin terkuak bahwa yang kemarin itu bukan SK bodong, melainkan SK bodong-bodongan, alias faktual. Disebut bodong hanya karena mendapat reaksi keras dari para kader di Jabar.

Ketika partai tidak menghargai perjuangan, tetesan keringat dan kerja keras, ya begitulah penampakannya. Tergiur oleh penampilan sosok luar yang tebar pesona, yang cukup bermain mata. Kerja keras tidak penting. Perjuangan diabaikan. Yang penting adalah penampilan luar. Ilusi kemenangan berbasis survei, mengalahkan perjuangan dan kerja keras para stakeholder.

Nampaknya bukan karena faktor survei yang membuat DPP tidak mau mendukung Kang Dedi. Sepertinya ada hal lain yang tersembunyi. Sebab, Nurul Arifin (pengurus DPP) mencalonkan sebagai walikota Bandung. Nurdin Halid (ketua harian DPP) juga mencalonkan sebagai gubernur Sulsel. Apakah hasil survei keduanya bagus dan teratas? Yang jelas, keduanya tidak terdengar dipersoalkan (karena keduanya pengurus DPP?)

Wajar jika ada dugaan bahwa Golkar seolah menjadi milik DPP dan terserah bagaimana maunya para elit DPP. Usaha dan perjuangan kader di bawah tidak ada artinya apa-apa jika tidak ada klik dengan DPP. Itulah sebabnya dengan mudah orang luar bermanuver dengan pihak DPP. Dengan mengandalkan klil dengan DPP, sosok luar itu bisa mendepak kader terbaik partai yang akan menjadi pesaing beratnya.

Seharusnya partai besar dan berkualitas akan mengutamakan integritas para kader, apalagi kader ini sangat diakui prestasi kerjanya di mata publik. Tetapi alih-alih bangga dan mengapresiasi kader sendiri, DPP justru berkali-kali melakukan demoralisasi dan depresiasi kepada para kader graasrot yang sedang solid dan bersemangat tinggi. Bukannya menguatkan, malah melemahkan. Bukannya mengangkat, malah merendahkan.

Mungkin DPP beralasan bahwa mereka pun tetap mengajukan kadernya dalam paket dukungan, yang kebetulan menjadi angoota DPR pusat. Masalahnya, siapa dia dan apa perjuangannya bagi partai saat ini, dan apa prestasinya di mata publik dibandingkan Kang Dedi? Wajar jika diduga bahwa ada sentimen tertentu dari pihak DPP kepada Kang Dedi. Sepertinya dari awal DPP tidak menghendaki Ki Sunda, dan dinamika saat ini mengindikasikan itu.

Dulu, ketika Setya Novanto terpilih sebagai ketum, saya melihat Golkar sangat tidak menarik dan tidak berpengharapan. Satu-satunya sisi baik dari partai ini adalah sosok Dedi Mulyadi yang menjadi ketua DPD Golkar Jabar. Kang Dedilah yang menjadi satu-satunya keunggulan Golkar di mata saya, baik secara lokal maupun nasional. Ada harapan agar ia kelak bisa memperbaiki Golkar ke depannya, dan menjadikan Golkar sebagai partai yang bener, berfatsun, berintegritas, apresiatif, dan berpihak pada rakyat.

Maka, ketika kemudian saat ini DPP Golkar memperlakukan Kang Dedi secara tidak adil, habis sudah harapan untuk partai ini. Simpati hilang. Sedikit kepercayaan yang tersisa pun lenyap. Tidak lagi percaya apalagi bersimpati kepada partai ini. Sebab ketika partai tidak bisa menghargai mutiara yang ada di dalamnya, berarti ia tidak bisa dipercaya berbicara amanat. Partai ini akan dicoret dari daftar pilihan, dan dilupakan. Termasuk sosok eksternal yang telah tebar pesona dan bermanuver sekian lama untuk menjegal Kang Dedi Ki Sunda.

DPP harus segera paham bahwa daya tarik Golkar di Jabar saat ini adalah sosok Haji Dedi Mulyadi, bukan figur-figur lainnya (sekalipun nasional), apalagi figur yang memiliki masalah dengan hukum. Juga bukan faktor partai itu sendiri. Jadi, menzalimi Kang Dedi itu kerugian sangat besar.

Kini para maung Siliwangi menunggu tindakan politik Kang Haji Dedi, menanti arahan dan menunggu komando dari Siliwangi. Kemana pun Siliwangi berlabuh, para maung siap ikut dan berjuang bersama. Karena hidup itu harus ada yang diperjuangkan.

Cadu mundur pantrang mulang.
Moal mundur sasiku
Moal ngejat sutunjar beas.
Moal unggut kalinduan
Moal gedag kaanginan.

Ki Sunda, kami menunggumu makalangan, untuk membangun Jabar Sajati.

#kamibersamadedimulyadi

Sampurasun

Bandung, 27 Oktober 2017

bagea

Mahya Lengka

Leave a Reply

close