Saat Emil Memperhitungkan Dedi Mulyadi

dedi jalan sehat

Sebenarnya dalam survei nama Ridwan Kamil masih menempati posisi teratas dibandingkan nama-nama lain yang potensial menjadi calon gubernur Jabar 2018 nanti. Termasuk dibandingkan dengan Dedi Mulyadi, lembaga survei masih menjagokan Ridwan Kamil. Semua orang sudah tahu ini, dan sudah cukup bosan membicarakannya.

Namun, ada yang aneh terlihat dalam media atau sikap sebagian publik terhadap kondisi ini. Di satu sisi, memang nama Kang Dedi Mulyadi (KDM) masih kalah elektabel dalam survei. Namun di sisi lain justru dia yang terlihat paling sering mendapatkan serangan dibandingkan figur-figur lainnya. Bahkan upaya penjegalan kepadanya secara kasat mata dilakukan.

Publik masih ingat ketika pada awal Agustus 2017 lalu Ridwan mulai mewacanakan duet Ridwan-Daniel, kemudian muncul surat bodong DPP Golkar, dan disusul dengan gelombang besar dari para maung Jabar yang membela KDM hingga mendatangi kantor DPP di Jakarta. Saat itu upaya penjegalan terhadap KDM sangat terasa dan terbaca, setidaknya oleh para relawan dan wargi KDM.

Akan tetapi, agaknya arah angin sekarang sudah berbalik normal, seperti bagaimana seharusnya. Yakni, sebagai ketua DPD Golkar Jabar dan kepala daerah yang paling berprestasi dan inspiratif di Jabar, Kang Dedi sepertinya sulit dibendung apalagi dijegal oleh siapa pun.

Langkahnya yang sudah menjalin komunikasi yang sangat intensif dengan PDIP dan Hanura –baik dulu maupun belakangan– sudah hampir memastikan bahwa kakinya takkan bisa ditackle lagi. Jika pun ada yang berusaha untuk men-tackle-nya, pelakunyalah yang akan merasa kesakitan atau cedera.

Pengusungan resmi atas KDM oleh trio partai Golkar-PDIP-Hanura tinggal menunggu waktu yang tepat. Sementara nasib RK yang sempat melakukan manuver terhadap KDM justru masih belum menentu. Sekalipun ia masih menyimpan optimisme, namun komentarnya sudah mulai terasa melemah. Beberapa waktu lalu masih terlihat sangat percaya diri, namun belakangan sepertinya sudah mulai terlihat pasrah. “Jika didukung ya alhamdulillah, jika tidak ya tidak apa-apa,” begitu kurang lebih.

Rupanya sekarang RK sudah tidak terlalu berharap mendapatkan dukungan dari Golkar lagi. Satu-satunya yang ia harapkan hanya dari PPP saja. Setelah kepastian dukungan dari Nasdem dan PKB, yang RK tunggu saat ini adalah dukungan dari PPP. Masalahnya, PPP juga masih menunda-nunda dukungan. Dan di media online kita bisa membaca bahwa dukungan PPP diberikan dengan syarat cawagub RK harus dari PPP. Padahal PKB pun menghendaki posisi itu, sekalipun jumlah kursi DPRD-nya kalah sedikit dari PPP.

Dengan komunikasi yang dibangun oleh PPP dengan koalisi Demokrat-PAN-Gerindra, peluang RK mendapatkan dukungan dari PPP masih sangat rawan. Dan rawan bagi RK jika ternyata akhirnya PPP batal mendukungnya. Jika ini yang terjadi, maka pupus sudah harapannya menjadi cawagub Jabar 2018.

Masih adakah peluang baginya? Tentu masih ada. Yang pertama, ia harus bisa meyakinkan PKS yang sekarang ditinggal oleh Gerindra. Tetapi ini juga tidak mudah. Karena PKS cenderung tidak mau bergabung dengan Nasdem yang dianggap (oleh grassroot PKS) sebagai partai pendukung penista agama. Namun bisa saja PKS mengabaikan hal ini (memangnya dalam politik ada yang tidak mungkin?)

Akan tetapi, bisa saja PKS mengajukan kompensasi, misalnya posisi cawagub harus darinya, dan ini bisa jadi akan ditentang oleh PKB yang mendukung RK juga karena menginginkan posisi ini. Jangan lupa, sejauh yang bisa diamati, sebenarnya secara kultural PKB lebih dekat dan condong kepada KDM. Ini karena KDM adalah seorang warga NU bahkan pengurus NU di Purwakarta. Gaya dan tradisi keisalaman KDM juga ngen-NU yang tradisional, berbeda dengan RK yang terlihat sebagai Islam gaya kota.

Namun karena saat itu rupanya KDM kelihatannya terbaca tidak akan mengambil cawagubnya dari PKB, maka PKB balik arah mendukung RK, dengan harapan cawagubnya dari partai bintang sembilan ini. Jadi, posisi cawagub sangat penting bagi PKB. Karenanya jika misalnya PKS bergabung dengan koalisi ini sambil mengincar posisi cawagub, maka PKB yang telah lebih dulu mendukung RK, akan keberatan dan menolak.

Jadi, cukup sulit juga PKS bergabung mendukung RK. Malah, jangan-jangan PKS akhirnya bergabung bersama koalisi Demokrat yang ada Gerindranya itu.

Lalu bagaimana jika PKS pun ternyata enggan bergabung untuk mendukung RK? Satu-satunya jalan agar RK bisa nyagub adalah melalui jalur perseorangan, dan ini sangat berat. Selain karena waktunya sudah mendesak, juga teknis untuk memenuhi syarat pengumpulan KTP juga sulit.

Kesimpulannya, posisi RK sekarang sedang rawan. Sekalipun ia berkali-kali bilang bahwa selagi belum ada janur kuning melambai, maka semuanya masih serba mungkin, namun publik membaca bahwa sebenarnya RK sendiri telah mulai merasakan kondisi yang tidak mengenakkan dirinya itu. Ia sudah mulai pasrah menerima takdir politik yang harus dijalani.

Bagi sebagian kalangan, kondisi yang dialami oleh RK saat ini dianggap sebagai karma dari apa yang telah ia lakukan terhadap KDM beberapa bulan lalu. Mereka mengganggap bahwa sebaiknya dulu RK fokus mencari dukungan dari PPP (setelah Nasdem dan PKB), kalau ia ingin menjadi cagub.

Jadi, kemarin-kemarin itu RK tidak perlu bermanuver dengan menggoyang soliditas Golkar yang saat itu sudah bulat dan aklamatif mengusung KDM. Cukuplah RK didukung oleh koalisi lain, sedangkan KDM juga didukung oleh koalisi yang berbeda. Jadi, masing-masing bisa maju dan bersaing secara sehat.

Nah, manuver RK tersebut terlihat tidak simpatik. Karenanya bagi relawan KDM, manuver RK itu dianggap sebagai upaya penjegalan terhadap KDM. Oleh sebab itu, ketika sekarang RK merasakan kondisi rawan seperti ini, mungkin ini dianggap sebagai karma bagi RK.

Akan tetapi, tentu saja kondisi politik masih sangat dinamis. Dan peluang masih tetap terbuka, bagaimanapun kondisinya saat ini. Itulah sebabnya RK juga masih bisa melakukan berbagai rencana dan strategi politik menjelang pilgub yang segera tiba ini.

Nah, yang terbaru, dari media online kita membaca bahwa dalam sebuah acara di Cipaku Bandung RK membandingkan IPM (Indeks Pembangunan Manusia) Bandung yang dipimpinnya dengan Purwakarta (yang dipimpin oleh KDM). Tentu saja ia membanggakan IPM kota Bandung. Dan itu sah-sah saja, dan mungkin seharusnya demikian.

Namun yang menarik adalah saat ia membandingkannya dengan Purwakarta. Mengapa Purwakarta, dan tidak kota atau kabupaten lain? Dengan menyebut nama Purwakarta, dalam alam bawah sadarnya sebenarnya RK mengakui keunggulan Purwakarta yang inovasi dan kreativitasnya sering mendominasi pemberitaan media, di mana ikon wisata Jabar kini telah berpindah ke Purwakarta (bukan lagi Bandung). Ikon Sunda juga sudah berpindah ke kabupaten terkecil kedua di Jabar ini.

Oleh sebab itulah RK perlu mengkomparasikan keunggulan Bandung dengan Purwakarta, sekalipun itu ia sampaikan di hadapan warga Bandung sendiri. Secara psikologis, pembandingan ini bisa dibaca sebagai sebuah pengakuan dari RK atas prestasi Purwakarta, atas prestasi pemimpinnya, Dedi Mulyadi.

Karenanya pula, dalam alam bawah sadarnya, RK sebenarnya mengakui bahwa KDM merupakan sosok yang sangat diperhitungkan dalam pilgub Jabar ini. Sekalipun survei masih menempatkannya dalam posisi ketiga, namun nama KDM sangat diperhitungkan oleh siapa pun yang menjadi bakal lawannya, termasuk RK.

Kita tunggu bagaimana kabar selanjutnya…

Sampurasun Ki Sunda….

http://gonusa.com/2017/10/ketika-ridwan-kamil-mulai-gentar/

Bandung, 17 Oktober2017

bagea

Mahya Lengka

Leave a Reply

close