Penjegal Kang Dedi Itu Bernama…

dedi bawa padi daun

Dedi Mulyadi makin ramai dibicarakan orang. Dan kali ini bukan tentang prestasinya yang seabreg dan mendunia, mengalahkan pemimpin lainnya. Melainkan tentang upaya penjegalan kepadanya yang dilakukan oleh orang lain.

Seperti umum diketahui, Kang Dedi adalah Ketua Golkar Jabar, sudah secara aklamasi diusung semua DPD-DPK Golkar se-Jabar di Rapimda Karawang untuk menjadi cagub dari partai yang dibesarkannya.

Namun, ada sosok lain yang sangat ingin jadi cagub, tapi tidak memiliki partai. Ia luntang-lantung mendatangi petinggi pusat beberapa partai. Sudah tiga partai yang intensif berkomunikasi dan kelak akan mengusungnya, dan itu sudah cukup sebagai syarat pencalonan.

Tapi rupanya dia tidak merasa cukup. Tiket pencalonan memang bisa diraih dengan tiga partai tadi. Namun sepertinya ada misi lain. Selain menambah dukungan partai, ia juga merasa perlu melakukan tindakan dengan misi berbeda. Yakni, menjegal Dedi Mulyadi agar kelak tidak menjadi pesaing terberatnya. Sebab, publik mengakui prestasi KDM sangat menonjol, mengalahkannya. Yang kurang dari Dedi adalah pencitraan di mata media, sementara sosok ini serius menggarap media dan bermain pencitraan. Karenanya saat ini ia cukup menikmati hasilnya.

Bagaimana cara menjegal Dedi agar tidak maju sebagai cagub? Caranya adalah dengan menggunakan orang Golkar sendiri. Di satu sisi, ia berkomunikasi da melobi elit-elit DPP agar mendukungnya. Di sisi lain, ia angkat sosok lain dari partainya Dedi untuk diangkat ke permukaan. Tujuannya adalah agar sosok ketiga ini bekerja secara internal melobi DPP. Apalagi sosok ketiga ini anak mantan ketua Golkar Jabar sebelum Kang Dedi. Pastinya memiliki link khusus ke DPP, sekalipun ayahnya tersangkut kasus hukum. Sehingga, secara eksternal dan internal sosok yang ngebet jadi cagub ini bisa memanfaatkan orang dan kekuatan lain untuk mendukung dirinya.

Jika alasannya adalah untuk menambah dukungan partai, seharusnya sosok ini bisa berkolaborasi dengan KDM yang ketua partai Golkar saat ini, yang kuat didukung graasroot. Tetapi rupanya ia tidak menghendaki duet ini. Dan publik sudah umum mengetahui keengganannya berduet. Di satu sisi, berduet dengan KDM ia tidak mau. Tetapi membiarkan KDM tampil jadi pesaing juga akan riskan bagi ambisinya.

Karenanya, ia melakukan sebuah upaya. Yakni, satu strategi dengan menghasilkan dua tujuan. Pertama, menambah dukungan legalitas partai. Kedua, menjegal calon pesaing terberat sebelum memasuki gelanggang pertarungan.

Dan rupanya upayanya ini berhasil. SK DPP Golkar yang telah diperlihatkan kepadanya adalah buktinya. Sekarang ia senyum-senyum. “Aku berhasil,” begitu mungkin pikirnya. Dalam sebuah kesempatan ia berujar bahwa ia melakukan operasi senyap. Ia juga pernah berkata bahwa ia pemain pilkada, jadi tahu trik-triknya. Hebat. Hebat sekali sosok ini. Ia sanggup melakukan sesuatu yang tidak terpikirkan oleh seorang Dedi Mulyadi. Bahkan KDM takkan melakukan tindakan seperti ini. Bagi seorang ksatria, pantang melakukan hal yang tidak terhormat atau tidak terpuji.

Bahkan, bagi seorang Dedi Mulyadi, sekalipun ia telah dizalimi dan ditinggalkan oleh DPP partai yang dibesarkannya, ia tetap legawa, dan memahami keinginan DPP. Ia berjanji akan menyerahkan SK kepada orang yang telah berupaya menjegalnya dari awal itu, dan sepertinya telah berhasil melalui partainya.

Publik sekarang makin bersimpati dan memuji kualitas pribadi dan moral Ki Sunda Dedi Mulyadi. Dukungan terus mengalir. Bahkan dalam survei terbaru namanya makin meroket menyalip pesaing lainnya. Justru ia makin populer, sering dibicarakan, menuai simpati massal, dan kian elektabel.

Coba kita tempatkan kondisi yang dialami Kang Dedi ini pada kita. Jika hal ini terjadi pada kita, akankah kita bersikap seperti KDM? Kita memiliki kendaraan yang sudah kita rawat sebegitu rupa untuk tujuan sebuah keberangkatan. Saat hendak dipakai, kendaraan itu diambil begitu saja oleh orang lain untuk tujuan yang sama. Ia tidak izin kepada kita, juga tidak mengajak. Kemudian, kita dipaksa harus ikhlas menerima status kendaraan itu sebagai milik orang yang telah mengambilnya dari belakang. Akankah sikap kita sedewasa dan seterukur Kang Dedi?

Dan publik juga makin mengetahui bagaimana moral politik seseorang itu. Dulu saya sempat mengaguminya. Bahkan saya sempat membuat tulisan untuk mengapresiasi. Tetapi perilaku politiknya saat ini telah memperlihatkan kualitas moralnya dalam berpolitik. Mungkin sah-sah saja secara politik. Namun moralitas tidak bisa dibohongi bahwa tindakan itu cacat moral yang memalukan. Apalagi ini terlihat dengan begitu telanjang. Karenanya kekaguman yang sempat ada dulu itu terkikis begitu saja. Habis sudah.

Apakah dia tidak bisa merasakan bagaimana jika kondisi ini terjadi pada dirinya? Setahu saya, ia cukup baper dan mudah curhat ke media. Saya masih ingat beberapa bulan lalu ia pernah mempolisikan pihak yang telah menuduhnya dengan sebuah tuduhan. Padahal sebagai pemimpin tidak perlulah hal seperti itu dipolisikan.

Ohya, ngomong-ngomong, siapa nama sosok penjegal ini? Yang jelas, tanpa disebutkan pun publik sudah tahu nama orang yang senang pencitraan dan baperan tersebut.

Dan, mengenai tindakan penjegalan yang telah ia lakulan pada Kang Dedi, kemarin saya membaca artikel di media online yang mengutip kata-kata dari ketua sebuah ormas. Kata-katanya simpel dan mudah diingat. Saya kutip maknanya, “Ksatria itu bertarung di medan pertempuran. Bukan mencuri kuda lawan agar lawan tidak bisa menuju arena pertempuran.” Kalimat yang mengena bagi sosok penjegal ini …!

Saya tercenung sejenak dan bertanya dalam hati, “Lalu, kalau bukan ksatria, apa namanya?**

Bandung, 7 Nopember 2017

Bagea

Mahya Lengka

Leave a Reply

close