Meski Dizalimi, Kang Dedi Tetap Berbagi

dedi orang tua di maskumambang

Setelah ada “kepastian” yang diucapkan oleh Nurdin Halid dan Idrus Marham 26 Oktober, yang tidak mendukung Dedi Mulyadi, yang ditunggu-tunggu publik adalah sikap Kang Dedi. Termasuk saya juga menunggu. Yang ditunggu bukan hanya pernyataan sikap, tetapi juga ekspresi mental dan pembawaan personalnya.

Ternyata apa yang kita lihat dari sosok Kang Dedi pasca pernyataan DPP itu? Untuk pernyataan sikap, seperti kata Kang Dedi, akan disampaikan Selasa 31 Oktober (ini akan sangat dinantikan masyarakat, terutama para maung Jabar dan pecinta KDM).

Lalu bagaimana dengan ekspresi mental dan pembawaan personalnya? Tidak perlu lama publik bisa langsung menyaksikannya.

Pertama, Kang Dedi bilang bahwa ia tetap santai menghadapi kesewenangan DPP kepadanya. Ekspresi wajahnya tetap terlihat sumringah dan tersenyum, seperti biasanya.

Kedua, ketika para wartawan yang menunggunya meminta komentarnya, ia tidak terpancing dengan ritme dan pertanyaan yang dibuat oleh wartawan. Ia tetap memegang kendali atas apa yang sudah ia siapkan nanti. Kepada mereka Kang Dedi cukup bilang bahwa malam Sabtu bukan malam politik. Ia sampaikan bahwa hal-hal politis akan ia sampaikan mulai hari Senin dan seterusnya. Ini ia katakan saat berada dalam acara puncak peringatan HUT Golkar di Antapani dan Maskumambang Bandung 27 Oktober kemarin.

Ketiga, dalam dua acara sekaligus yang ia datangi, baik di Antapani maupun Maskumambang, ia tetap tampil sebagai sentral acara dan pusat perhatian yang ditunggu orang-orang.

Penampilannya tetap sama, tidak nampak sedang memiliki masalah. Ia tetap bisa menghibur, kata-katanya tetap menginspirasi, celotehnya tetap lepas. Sepertinya ia sama sekali tidak terganggu oleh pengkhianatan dan manuver politik yang dilakukan berbagai pihak kepadanya.

Terlalu besar jiwa Kang Dedi menghadapi masalah seperti ini. Pada saat para maung dan pendukungnya kecewa oleh DPP sambil memperlihatkan pembelaan dan dukungan, ia terlihat tetap ceria dan seperti biasa. Jiwanya sangat matang, tidak baper, tidak sensian, dan tetap memegang kendali atas diri dan jiwa-jiwa yang sedang menunggu komandonya. Ia adalah tipologi pemimpin yang sudah selesai dengan dirinya.

Keempat, di tengah kezaliman DPP yang menimpanya, ia tetap berbagi dengan senang hati kepada orang-orang yang harus ia bantu. Seorang janda tengah baya dan lelaki tua dipanggilnya ke atas panggung yang berbeda (satu di Antapani dan satu lagi di Maskumambang), setelah membesarkan hati keduanya, Kang Dedi memberi bekal kepada keduanya, dan orang-orang pun mengikuti jejaknya.

Ini adalah pemandangan yang sudah biasa kita saksikan setiap ada acara Kang Dedi di atas panggung. Dari apa yang kita saksikan, tidak ada yang berbeda antara dulu dan sekarang, Kang Dedi tetap memberi dan berbagi, seperti akhlaknya selama ini. Ajaran nulung kanu butuh nalang kanu susah sepertinya sudah mendarah daging dalam dirinya, dalam kondisi apa pun.

Dan itulah keunggulan yang langka dimiliki banyak orang, termasuk banyak pemimpin. Karenanya kepribadian KDM memang telah mememuhi kualitas dan kapasitas tingkat satu dari sosok pemimpin.

Publik sekarang benar-benar sedang menantikan apa yang akan dilakukan oleh Kang Haji Dedi. Sikap santainya jelas menimbulkan rasa penasaran, sehingga mereka menduga kuat Kang Dedi sudah merencanakan sesuatu yang penting yang tidak terganggu sedikit pun oleh kesewenangan DPP Golkar.

Kita nantikan tidak lama lagi, bagaimana sikap dan langkah Siliwangi untuk bersiap membangun Jabar Sajati. Sedangkan para maung dan pendukung sudah menunggu komando untuk tekad yang satu… Urang Lembur Jadi Gubernur. Lembur kaurus, kota katata, rahayat mulya.

Wilujeng Makalangan, Ki Sunda.
Moal mundur sasiku moal ngejat satunjar beas. Moal unggut kalinduan moal gedag kaanginan.

“Berhati-hatilah terhadap doa orang yang dizalimi. Karena tidak ada pembatas antara dia dan Tuhannya, ” sabda Nabi Saw.

Bandung, 29 Oktober 2017

Bagea

Mahya Lengka

Leave a Reply

close