Ketika Kang Dedi Menjadi Barometer Pemimpin Jabar

IPM Purwakarta

Pernyataan Ridwan Kamil yang membandingkan IPM kota Bandung dengan kabupaten Purwakarta, menjelaskan berbagai hal.

Pertama, sekalipun tujuan RK adalah ia sedang membanggakan capaiannya, namun justru ucapannya menjadi blunder. Walaupun secara angka memang IPM kota Bandung lebih tinggi daripada Purwakarta, namun akhirnya publik tahu bahwa angka tersebut bukan capaian yang membanggakan. Karena di tangan RK, IPM Bandung hanya naik 0,5, sedangkan Purwakarta naik dua kali lipat daripada kota Bandung, yakni 1.

Kalaulah RK tidak mengungkit IPM dengan membandingkan Bandung dengan Purwakarta, publik mungkin takkan tahu prestasi RK dalam menaikkan IPM Bandung yang ternyata kalah oleh capaian Dedi Mulyadi di Purwakarta. Sehingga, niat yang semula ingin membanggakan capaian, justru malah jadi blunder yang membuka aib kelemahan.

Kedua, netizen menyarankan agar RK kalau mau membandingkan IPM Bandung, seharusnya menyebut kota yang selevel dengam Bandung, agar apple to apple.

Sebagai ibukota provinsi Jabar yang memiliki sejarah panjang, dan dituju banyak orang sejak puluhan tahun silam, tentu saja Bandung tidak pas jika dibandingkan dengan Purwakarta yang merupakan kabupaten terkecil kedua di Jabar. Sepuluh tahun lalu, Purwakarta itu bukan apa-apa, tidak dikenal, dan tidak menarik.

Jadi jika mau membandingkan, kompetitor Bandung itu tepatnya adalah Jakarta atau Surabaya. Kalau RK membandingkannya dengan Purwakarta, itu sama dengan menurunkan peringkat Bandung sekaligus menaikkan peringkat Purwakarta. Atau, dengan kata lain, ucapan RK tadi sama dengan mengakui Purwakata sebagai acuan bagi prestasi Bandung. RK menganggap Purwakarta sebagai sparring partner yang diperhitungkan untuk Bandung.

Sehingga alih-alih mau membanggakan prestasi diri, secara tidak langsung justru Kang Emil malah mengakui keunggulan Kang Dedi Mulyadi (KDM).

Ketiga, dengan membandingkan Bandung dengan Purwakarta, RK mengakui Purwakarta sebagai barometer. Dan itu berarti RK mengakui KDM (yang notabene bupati Purwakarta) sebagai barometer pemimpin di Jabar saat ini.

Publik jadi makin tahu sekarang bahwa apa pun capaian prestasi yang telah dicapai KDM akan selalu dipantau banyak pihak, termasuk oleh RK yang sedang berupaya keras menjadi cagub. Sehingga KDM akan terus di-benchmarking, dilihat, dipantau, ditelisik, dipelajari, bahkan diulik. Ternyata RK menaruh perhatian yang sangat serius untuk memantau capaian KDM.

Itu berarti bahwa KDM menjadi barometer bagi siapa pun sosok yang ingin menjadi cagub Jabar nanti. Dengan capaian fenomenal KDM saat ini, setiap sosok tidak bisa tidak harus bisa menempatkan posisi dirinya di depan KDM, agar bisa dianggap kompetitif menghadapi KDM

Jadi, makin terang pula bahwa barometer pemimpin Jabar itu bukanlah sosok incumbent yang sekarang jadi wagub, sekalipun ia populer sebagai artis dan bintang iklan. Juga bukan sosok yang dalam survei bulan lalu disebut masih paling elektabel. Apalagi sosok-sosok lain yang tidak dikenal banyak orang.

Lalu siapa barometer pemimpin Jabar saat ini?Ucapan dan tindakan RK kemarin dan sebelum ini, memperlihatkan bahwa barometer itu adalah Dedi Mulyadi. Dan menariknya, KDM terlihat santai-santai saja merespon ucapan RK tadi. Hal terjauh yang ia lakukan adalah memposting tulisan di akun Facebooknya tentang bagaimana seharusnya masyarakat memahami IPM, termasuk prestasi IPM yang sudah dicapai oleh Purwakarta.

Di tengah sorotan dan serangan berbagai kalangan, justru KDM malah fokus pada berbagai terobosan yang tidak terpikirkan oleh sosok-sosok yang lainnya. Yang terbaru, KDM meluncurkan aplikasi Ogan Lopian, Sampurasun Bursa Kerja, yang menerobos banyak hal dalam sistem ketenagakerjaan dan perusahaan, sehingga lebih efektif, efisien, mendekatkan perusahaan dengan pencari kerja, menghilangkan percaloan dan lain sebagainya. Ini adalah jawaban sangat penting bagi berbagai keluhan dan masalah seputar ketenagakerjaan.

Sosok-sosok lain tidak sempat memikirkan hal-hal inovatif seperti ini. Namun Ki Sunda bukan hanya memikirkan, tetapi bahkan sudah mewujudkannya secara konkret..

Harus diakui, Kang Dedi memang barometer pemimpin Jabar kiwari.

Sampurasun….

Bandung, 20 Oktober 2017

Bagea

Mahya Lengka

Leave a Reply

close