Ketika Elektabilitas Golkar Meluncur, Kang Dedi Melesat

FB_IMG_1510297407767

Fakta survei terbaru ini harus memukul telak para petinggi DPP Golkar di Jakarta, dan membuka mata hati mereka. Pada bulan Oktober 2017, dalam survei, elektabilitas Golkar di Jawa Barat meraih peringkat tertinggi di antara seluruh partai, bahkan mengalahkan PDI-P, yakni bertengger di angka 18 %.

Namun, akibat kesalahan DPP yang mengeluarkan rekomendasi dukungan cagub kepada seorang “pencuri kuda”, masyarakat Jabar marah dan kecewa. Dan kekecewaan itu diperlihatkan dengan ditinggalkannya partai beringin ini. Sehingga, hingga pertengahan Nopember 2017 ini, elektalibitas Golkar di Jabar meluncur ke angka 12 %.

Dan berbanding terbalik, justru nama Dedi Mulyadi –kader Golkar yang sudah didaulat secara aklamasi oleh para kader Golkar se-Jabar sebagai cagub partai– elektabilitasnya malah kian melesat dan melejit. Jika pada bulan lalu baru menempati 14 % an, justru pada pertengahan Nopember ini sudah melejit ke angka hampir 20 %, makin jauh mengalahkan Dedi Mizwar, dan mendekati Ridwan Kamil. Bahkan Ridwan terus mengalami penurunan. Semula RK mencapai 41 % (menurut Indobarometer), sekarang menjadi 34 % an (menurut Indocon).

Ini apa artinya? Jelas ini merupakan pertanda di mana publik Jabar berpihak. Mereka tidak mempedulikan Golkar sekalipun hingga saat ini masih dipimpin oleh idola mereka, yakni Dedi Mulyadi. Yang mereka inginkan adalah Kang Dedi, bukan Golkar. Slogan “Dedi Yes Golkar No” itu benar-benar terjadi. Jika para petinggi DPP masih belum mengerti pelajaran politik di Jawa Barat ini, bersiap-siap saja Golkar makin terpuruk. Apalagi saat ini sedang musim hujan, pohon tua yang semula rindang itu bisa saja segera tumbang.

Dengan posisi ketumnya yang selalu bermasalah secara hukum saja, posisi elektabilitas Golkar nasional makin jeblok. Dan hanya di Jabar Golkar mengalami peningkatan dan berpenampilan terbaik. Dan penampilan terbaik Golkar di Jabar itu semua pihak mengakui karena faktor KDM. Lalu, sejak Agustus hingga Oktober lalu, DPP mempermainkan KDM, dan berujung pada keluarnya SK rekomendasi kepada seseorang yang dianggap oleh para pecinta KDM sebagai penjegal bahkan pencuri kuda.

Maka, kemarahan dan kekecewaan para maung Jabar dan kader grassroot, bahkan masyarakat Jabar secara umum, makin tertuju kepada partai ini. Mereka tidak peduli dengan nasib Golkar, sekalipun Kang Dedi masih berada di partai ini. Sebab, yang mereka dukung bukan partai, tetapi Kang Dedi. Bagi mereka, tidak penting apa pun partai atau kendaraan bagi Kang Dedi. Yang penting adalah Kang Dedi. Jika DPP Golkar bertindak macam-macam, mempermainkan dan menzalimi Kang Dedi, maka mereka akan meninggalkan partai ini. Dan mereka akan mengikuti Kang Dedi, apa pun kendaraaan yang ia naiki untuk menuju Gubernur Jabar.

Kematangan dan kesabaran Kang Dedi, juga keyakinan akan langkah yang ia ayunkan menyikapi kezaliman DPP selama ini, di satu sisi menunjukkan kualitas kepribadiannya yang masagi. Dan di sisi lain, kematangan itu menimbulkan rasa penasaran di mata publik, terutama pecintanya. Saat konferensi pers pertama pasca SK DPP, Kang Dedi memunculkan diksi “memahami”, bukan “menerima” terhadap keinginan DPP. Diksi memahami menjadi kata kunci penting untuk memahami arah politik KDM dalam waktu dekat.

Selanjutnya, pada tanggal 10 Nopember kemarin, ia memposting tulisan di akun Facebooknya tentang makna KSATRIA, yang tidak menyerah untuk melakukan perubahan. Berikutnya, saat menghadiri acara Pra Musyawrah Nasional dan Konferensi Besar Alim Ulama NU di Purwakarta tanggal 12 Nopember 2017 kemarin, ia juga menegaskan bahwa “tidak penting rekomendasi, yang penting jadi”. Artinya, ungkapan ini makin meyakinkan publik bahwa Kang Dedi akan tetap mamprang, maju dalam Pilgub, sekalipun tidak berbekal rekomendasi DPP. Ini melegakan publik.

Terakhir, pada tanggal 14 Nopember 2017 kemarin, bertempat di gedung DPD Golkar Jabar Jl Maskumambang Bandung, ia membakar semangat para kader. Dan pembakaran semangat yang digemakan oleh Kang Dedi ini makin dimengerti oleh mereka tentang apa yang akan diambil oleh Kang Dedi dalam waktu dekat. Selama ini para kader dan pecinta sangat khawatir dan cemas jika Kang Dedi tidak jadi makalangan dalam Pilgub Jabar kali ini. Namun orasi terakhir KDM ini makin menguatkan keyakinan mereka bahwa Kang Dedi akan tetap maju, untuk menjadi Gubernur Jabar 2018-2023.

Para elit DPP seharusnya mulai sadar terhadap realitas politik di Jabar saat ini. Tanpa Kang Dedi, Golkar Jabar akan ditinggalkan. Beringin akan tumbang, apalagi saat musim hujan. Apalagi di kota Bandung yang walikotanya direkomendasikan DPP itu sering terjadi banjir hingga disindir menjadi “kawasan wisata bahari terbaru”. Jika para elit itu tidak juga membuka mata hatinya, tidak relistis, tidak ideologis, tidak mau berjuang membesarkan partai, bersiaplah mereka ditinggalkan. Apalagi, kasus hukum ketumnya yang sekarang ditangani oleh KPK sedang panas-panasnya membakar.

Sementara itu, dengan atau tanpa Golkar, Kang Dedi tetap makin kuat dan dicintai rakyat Jabar. Para kader masih menunggu kepastian langkah yang harus mereka lakukan. Dan sinyal itu kian kuat dan besar. Maka, gerakan Satu Juta Relawan untuk Kang Dedi bisa segera diwujudkan … Urang lembur jadi gubernur, untuk mewujudkan Jabar Sajati…

#kangdedigubernuraing

#uranglemburjadigubernur

 

Bandung, 15 Nopember 2017

Bagea

Mahya Lengka

Leave a Reply

close