Kematangan Kang Dedi Menghadapi Para Pencaci

FB_IMG_1504913218367

Dari segi waktu, saya belum lama mengenal sosok Dedi Mulyadi secara intensif. Baru sejak akhir 2015 mulai tertarik mengikuti berita, perkembangan dan kiprah kepemimpinannya. Hingga akhirnya pernah bertemu dengannya di Bandung pada Januari 2017 dan Juni 2017 saat safari Ramadhan yang lalu.

Sejak mulai tertarik mengamatinya, ada banyak hal yang membuatnya menarik untuk disorot bahkan dipelajari. Di antara sekian hal yang menjadi keunggulannya yang menonjol di antara para pemimpin lainnya, hal menonjol lain yang sangat terlihat dari sosoknya adalah mentalitas kepribadiannya. Mentalnya kuat, tidak sensitif, tidak baper, dan santai menghadapi berbagai kalangan yang mencaci, memaki, membenci, memfitnah bahkan mengancamnya.

Saya pikir publik saat ini semakin familiar dengan wajah dan sosok Kang Dedi ini. Baik dari kalangan yang mencintai dan mengaguminya, maupun dari kalangan yang membenci dan menganggapnya ancaman. Dari kalangan yang kedua, publik juga sudah disodori berbagai isu, fitnah, hoaks, caci maki dan sebagainya, yang bersumber dan diproduksi dari kalangan tersebut.

Yang sering kita dengar misalnya tuduhan mereka bahwa Kang Dedi musyrik. Pemicu awalnya adalah karena Kang Dedi banyak mendirikan patung di Purwakarta yang ia pimpin selama 10 tahun ini. Padahal, kalau mereka membaca pelajaran Islam dari awal secara benar dan utuh, mereka akan tahu bahwa Nabi Sulaiman yang nabi saja mendirikan banyak patung. Dan tentu saja Nabi Sulaiman bukan seorang musyrik. Masak gara-gara mendirikan patung disebut musyrik.

Jangan-jangan mereka ini tidak paham definisi syirik atau musyrik. Dalam ilmu tauhid atau ushuludin, atau ilmu aqidah, definisi syirik itu adalah menyekutukan Allah dengan selain-Nya. Yang dimaksud “selain-Nya” itu ya bisa apa saja. Jadi, jika seseorang menyekutukan Allah (misalnya dengan memuja atau menyembah atau sejenisnya) dengan selain-Nya, berarti ia musyrik. Kalau sesuatu itu tidak disembah, tidak dipuja, tidak dijadikan Tuhan selain-Nya, ya tentu saja bukan syirik.

Nabi Sulaiman membuat banyak patung untuk hiasan, bukan untuk disembah. Begitu pun Dedi Mulyadi membangun banyak patung, hanya untuk hiasan, bukan untuk disembah. Yang dilarang itu adalah membuat patung untuk disembah. Dan patung yang disembah itu namanya bukan patung, tetapi tepekong atau berhala. Kalau sekadar patung yang tidak disembah, namanya ya patung. Jadi, harap dicatat, berbeda antara patung dan berhala.

Dan yang namaya berhala tidak saja berbentuk patung. Apa saja yang dijadikan sembahan atau kejaran hidup seseorang selain Allah, itu namanya berhala. Jadi, sebelum seseorang menyebut orang lain musyrik, perhatikan diri sendiri, jangan-jangan selama ini justru dia yang musyrik karena menjadikan selain Allah sebagai kejaran dan tujuan hidupnya.

Nah, yang hebat dari Kang Dedi itu adalah sikapnya menghadapi orang-orang ganjil yang menuduhnya musyrik itu. Ia tidak marah, apalagi sampai menuntutnya ke pengadilan. Ia cukup mengedukasi mereka dengan bertanya kepada ibu-ibu yang sedang berfoto ria di depan patung, “Ibu-ibu, coba jawab, ibu-ibu ke sini mau apa, mau menyembah patung atau sekadar berfoto?” Apa jawab ibu-ibu? “Berfoto…” jawab mereka riang.

Namun, dasar cara berpikir mereka yang mungkin belum terbuka atau tidak mengerti kajian Islam secara mendalam, mereka tetap saja tidak berhenti dari memproduksi fitnah kepada Kang Dedi. Sehingga sejak itu, tuduhan musyrik itu terus mereka kemukakan dan suarakan, baik dengan alasan patung itu maupun yang lainnya. Misalnya kereta Jagaraksa di Purwakarta, mereka juga jadikan itu sebagai tuduhan musyrik. Mereka juga menuduh Kang Dedi menikah dengan Nyi Roro Kidul.

Apa tanggapan Kang Dedi? Jawabannya santai sambil memberikan edukasi dengan harapan akal mereka bisa terbuka, “Bagi yang menuduh saya menikah dengan Nyi Roro Kidul, coba tunjukkan di mana saya menikah, mana buku nikahnya?” Rupanya mereka tidak mengerti bahasa siloka. Mereka kira Nyi Roro Kidul itu sebuah sosok makhluk, sebagian mereka malah menyebutnya jurig. Padahal Nyi Roro Kidul itu adalah ungkapan untuk menyimbolkan laut (samudera). Sama dengan masyarakat kita menyebut Dewi Sri atau Dewi Pohaci sebagai dewi padi dan simbol kesuburan atau simbol kesejahteraan.

Jadi, ketika kita mengatakan “kita harus menjaga Nyi Roro Kidul” itu artinya kita harus menjaga lautan, agar tidak tercemar, agar tidak terpolusi, agar tidak dirusak, agar tidak dihancurkan dan lain sebagainya. Sama saja ketika kita mengatakan “kita harus menghormati Dewi Sri atau Dewi Pohaci” itu maksudnya adalah bahwa kita harus menjaga dan meningkatkan lahan pertanian dan memperhatikan kesuburan dan kesejahteraan.

Entahlah, apakah mereka bisa mengerti dengan bahasa siloka dan metafora seperti ini? Yang jelas, belakangan mereka malah loncat dengan kesimpulan aneh dan memalukan, yang menunjukkan hilangnya akal sehat. Belum lama ini kita melihat ada spanduk yang menghiasi orasi mereka yang menyebutkan bahwa “Dedi Musuh Islam.”

Kalimat ini jelas sangat tidak masuk akal. Ini hoaks yang sangat tidak cerdas. Bagaimana mungkin orang-orang akan percaya dengan tuduhan mereka seperti itu, sementara masyarakat melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Kang Dedi dekat dengan kalangan para ulama, menghadiri acara mereka, atau mengundang mereka, duduk bersama, mendengar dan berbicara di depan mereka.

Sebut saja misalnya KH Ma`ruf Amin (Ketua MUI dan Ketua Dewan Syuro PBNU)yang terang-terangan mendukung kepemimpinan Kang Dedi. Juga KH Habib Luthfi bin Yahya (Rais Am Jamiyah Thariqah Mu`tabarah al-Nahdhiyah, JATMAN) yang sangat memuji cara dakwah Kang Dedi pada bulan Agustus kemarin di Taman Pasanggrahan Purwakarta.

Juga KH Abun Bunyamin, pimpinan Pondok Pesantren Cipasung Tasikmalaya yang merekomendasikan Kang Dedi sebagai calon gubernur Jabar. Beliau menyampaikannya saat Ramadhan kemarin, dalam acara safari Ramadhan ketika Kang Dedi mengunjungi pesantren tersebut. Juga KH Sofyan Yahya dari Cigondewah Bandung. Begitu juga KH Syafi`i Mufid dari Jakarta. Dan masih banyak lagi.

Pertanyaannya, bagaimana mungkin seorang musuh Islam begitu dekat dengan para ulama sepuh yang mumpuni dan saleh seperti beliau-beliau itu? Lagi pula, jika benar Kang Dedi musuh Islam, kok bisa para ulama itu sangat dekat dengannya bahkan mendukung dan merekomendasikannya sebagai seorang pemimpin? Memangnya siapa yang lebih paham Islam, para ulama tersebut ataukah orang-orang yang berteriak yang memfitnah itu?

Namun, yang luar biasa adalah tanggapan Kang Dedi menyikapi ulah dan fitnah mereka. Ia tidak marah. Ia malah mengajak mereka untuk mengikuti kegiatan pribadinya selama 24 jam, agar tahu apa yang ia lakukan setiap jam bahkan setiap menit. Sebab, tidak jarang orang itu menuduh negatif karena berdasarkan ketidaktahuan. Barangkali saja, ketika mereka sudah tahu dan melihatnya langsung dengan mata kepala sendiri, mereka bisa mengerti, memahami dan menyadari kesalahan mereka selama ini.

Banyaklah contoh yang bisa kita ungkap tentang kematangan jiwa dan mentalitas Kang Dedi menghadapi para pembenci dan tukang fitnah itu. Sekalipun fitnah mereka merugikan, namun Kang Dedi tetap menunjukkan mentalitas yang ajeg. Kata bahasa Sundanya mah,“teu unggut kalinduan, teu gedag kaanginan.” Kang Dedi tetap menunjukkan akhlakul karimah, yang berpatokan pada sikap silih asah, silih asih, silih asuh.

Banyak orang yang jadi pemimpin di negeri ini. Tetapi sangat sedikit saja pemimpin yang memiliki jiwa yang matang dan pribadi yang ajeg. Di antara yang jarang itu salah satunya adalah Dedi Mulyadi. Ini yang membuatnya picontoeun jadi pamingpin…

Sampurasun…

Bandung, 20 September 2017

Mahya Lengka

Leave a Reply

close