Kami Maung Siliwangi, Ikut Dedi Mulyadi

dedi dan tukang karung

Masa pendaftaran Pilkada Jabar makin dekat. Dua bulanan lagi. Dan para partai sudah makin intensif bermanuver. Hingga 26 Oktober 2017 ini, sebagian sudah memastikan dukungan pada bakal calon gubernur, sebagian besar belum. Di antara yang belum itu adalah Golkar.

Mata kita sekarang mengarah dan menyorot kepada Golkar. Terutama bagi para grassroot dan relawan di Jabar, apa yang dilakukan oleh DPP Golkar terasa ganjil. Mengapa? Pada saat sejumlah partai percaya diri menyodorkan kadernya untuk maju (walaupun sebagai calon wakil gubernur), nah justru DPP Golkar malah terlihat seperti hendak mencampakkan kader terbaiknya, dan memilih sosok lain yang bukan siapa-siapa bagi Golkar.

Lihatlah Gerindra. Beberapa bulan lalu sempat dikabarkan hendak mendukung Deddy Mizwar yang cukup populer. Namun karena kadernya tidak masuk dalam paket, Gerindra kemudian mementahkannya, dan mewacanakan ketua DPD Gerindra Jabar (Mulyadi) sebagai cagub atau cawagub. Upayanya berkomunikasi dengan Demokrat adalah dalam rangka ini. PKS mendukung Demiz juga karena kadernya ditempatkan sebagai cawagub.

PKB bersedia mendukung Ridwan Kamil dengan mengajukan kadernya sebagai cawagub. PPP juga mendeklarasikan dukungan kepada RK sambil mengajukan kader terbaiknya sebagai cawagub. PAN luntang lantung menemui berbagai sosok dan partai juga karena ingin kadernya menjadi cawagub. Padahal PAN hanya memiliki modal 4 kursi, kedua terkecil setelah Hanura.

Lalu Golkar? Modal ada 17 kursi. Kader terbaiknya mendapatkan survei ketiga terbaik, dan diminati partai-partai lain, sangat populer di kalangan masyarakat kecil, berjasa besar membesarkan Golkar di Jabar, didukung secara aklamasi oleh seluruh DPD seJabar hingga tingkat desa, sosoknya berbeda dan unik, visi bagus, terbukti sangat sukses memimpin 10 tahun sebagai bupati, pekerja keras luar biasa, dan lain-lain, tetapi apa yang DPP Golkar lakukan kepadanya, Dedi Mulyadi?

DPP justru menggantung nasibnya. Bahkan di mata grassroot dan relawan, DPP nampak hendak mencampakkannya. Dengan mengandalkan kewenangan sebagai pengurus pusat, DPP nampak gagal menyerap aspirasi rakyat Jabar. Terpengaruh oleh pesona survei, DPP sepertinya hendak mengabaikan pentingnya regenerasi, kaderisasi, apresiasi dan perjuangan meraih prestasi. Alih-alih mengajak dan memotivasi grassroot untuk berjuang memenangkan kader, justru malah melakukan demoralisasi sejak awal. Survei dijadikan acuan paling utama, padahal banyak contoh, calon yang surveinya bagus di awal justru kalah dalam pertarungan sesungguhnya.

Rupanya DPP kurang peka terhadap aspirasi yang menggerakkan para maung Jabar bulan September lalu, yang mendatangi kantor DPP di Jakarta. Atau jangan-jangan mereka tidak mempedulikan para maung Jabar. Pidato sekjen dan pelaksana tugas waktu itu hanya untuk menenangkan saja, agar para maung segera pulang ke kandang. Sementara tuntutan para maung agar DPP segera mengeluarkan SK rekomendasi untuk Kang Dedi tetap digantung.

Kemarin, 25 Oktober, malah tersiar kabar bahwa kata ketua fraksi Golkar DPR RI yang juga bendahara umum DPP Golkar, Golkar kemungkinan akan mendukung RK, dan katanya SK akan segera keluar akhir Oktober ini. Entah benar atau tidak berita ini, tetapi adanya kabar ini mengisyaratkan bahwa DPP masih gagal memahami aspirasi grassroot, terlihat galau dan nampak sangat tidak percaya diri. Padahal tidak jelas apa yang akan didapatkan Golkar dengan dukungan itu, karena partai yang sudah lebih dahulu mendukung juga ingin menempatkan kadernya sebagai pendamping.

Rupanya DPP masih berorientasi pada dramaturgi survei, bukan pada kerja keras dan perjuangan. Dengan mengilusikan kemenangan berbasis survei, DPP seperti mengorbankan regenerasi, kaderisasi, dan semangat perjuangan kader dan para maung.

Dalam hari-hari ini para maung akan terus melihat apa yang akan diputuskan DPP. Dan sepertinya tidak lama lagi. Jangan-jangan suratnya sudah dibuat dan ditandatangani, tinggal konferensi pers atau deklarasi. Seandainya saja benar bahwa DPP tidak merekomendasikan Kang Dedi, tentunya para maung akan bersikap segera, sesuai kapasitas dan langkah yang bisa dilakukan. Baik secara struktural maupun sosial. Berarti pula, yang dulu itu bukan surat bodong, tetapi bodong-bodongn, alias faktual. Disebut bodong hanya karena mendapat reaksi keras dari para maung Jabar, agar tidak malu dan lepas tanggung jawab.

Yang jelas, para maung itu bergerak untuk mengawal Siliwangi. Ke mana dan di mana saja Siliwangi berlabuh, para maung akan ikut. Para maung bukan ikut partai. Mereka membela dan berjuang bukan untuk partai, tetapi untuk Siliwangi. Terserah partai seperti apa dan mau bagaimana, para maung tetap berada bersama Ki Sunda, Siliwangi.

Kami maung Siliwangi, ikut Dedi Mulyadi.

Moal galider…
Moal gedag kaanginan
Moal unggut kalinduan…

Ki Sunda makalangan, Jabar Sajati…

Sampurasun

#kamibersamadedimulyadi

Maung Siliwangi siap mengambil posisi…

Bandung, 26 Oktober 2017

bagea
Mahya Lengka

Leave a Reply

close