Hari Nahas dalam Al-Quran

FB_IMG_1506776873688

Setiap tahun pada bulan Shafar (bulan kedua dalam kalender Hijriyah/Qamariyah), masyarakat tradisional Muslim Indonesia memiliki tradisi khas, berkenaan dengan bulan Shafar ini.

Yang dimaksud dengan kalangan tradisional Muslim di Indonesia adalah kalangan Nahdhiyyin yang sangat kental dengan kearifan lokal. Meskipun sebagian dari kalangan tradisional itu mungkin tidak hanya mereka, namun secara sosiologis-institusional, kalangan tradisional itu biasanya merujuk kepada kalangan mereka.

Dalam tradisi NU, ada pegangan dalam menjalankan kehidupan, termasuk dalam keberagamaan. Yakni, ungkapan “al-muhafazhah ala al-qadiim al-shaalih, wa al-akhdzu bi al-jadiid al-ashlah”. Melestarikan hal lama yang baik, dan mengambil hal baru yang lebih baik.

Kalangan Nahdhiyyin sangat menghargai tradisi yang baik, bahkan melestarikannya. Di antara tradisi kebaikan sebagian mereka itu berkenaan dengan bulan Shafar.

Kalangan tradisional biasa menjadikan bulan ini sebagai bulan sedekah. Mengapa bersedekah? Karena sabda Nabi Saw dalam sebuah hadits, “Sedekah itu menolak bencana (bala).” Al-Shadaqatu tadfa’u al-balaa’. Sedekah itu bisa menolak bala, menolak bencana.

Karenanya sebagian masyarakat Muslim Nahdhiyyin memiliki tradisi bersedekah pada bulan ini. Di sebagian daerah, seperti daerah Majalengka-Cirebon, ada tradisi membuat sejenis makanan, yang biasa disebut dengan apem. Apem dibuat dari tepung beras, lalu dibentuk bulat seperti serabi mini, kemudian direbus. Apem dikonsumsi dengan dicelupkan ke adonan gula merah plus parutan kelapa. Apem yang tawar menjadi manis setelah dicelupkan ke adonan gula merah tadi.

Waktu saya kecil dulu, di antara yang kami nikmati pada bulan shafar adalah apem ini. Sampai sekarang, di kampung saya masih ada tradisi membuat apem ini. Dan setiap bulan Shafar, saya merindukan apem, karena di Bandung ia tidak saya temukan. Haha..

Siapa yang membuat apem? Siapa saja yang hendak bersedekah. Penyedekah membagikan apem-apem kepada para tetangga, keluarga dan kerabat sekitar.

Di sebagian daerah di Garut, pada bulan ini masyarakat membuat dupi (makanan dari beras yang dibungkus daun dan dibentuk segitiga) atau leupeut, atau lainnya. Mereka membagikannya kepada para tetangga, keluarga dan kerabat sekitar.

Di daerah-daerah lain jenis makanan yang dibuat bisa berbeda-beda, sesuai kultur kuliner yang hidup di kalangan mereka. Namun, sekalipun ada keragaman jenis makanan yang disedekahkan, tetapi intinya sama: bersedekah pada bulan Shafar. Untuk apa? Di antaranya adalah untuk menolak bala pada bulan ini.

Mamangnya ada apa dengan bulan Shafar? Apakah bulan Shafar identik dengan bulan bencana, atau dalam kata lain bulan nahas?

Sebagian orang menyatakan bahwa semua hari dan bulan adalah baik. Sehingga kata mereka, tidak ada bulan nahas, atau hari nahas (atau naas). Oleh kelompok ini, tradisi orang NU seperti ini disebut bid’ah. Karena bagi kelompok pembid’ah ini, tidak ada hari nahas atau hari sial.

Masih di kalangan tradisionalis, terutama di daerah Sunda Jawa Barat, juga dikenal apa yang disebut dengan Rebo Kasan, yakni Rabu Wekasan. Yang artinya adalah, Rabu Terakhir di bulan Shafar. Selain bersedekah, khusus pada hari Rabu Wekasan, mereka melakukan salat, berzikir dan berdoa meminta perlindungan dan keselamatan kepada-Nya.

Sama halnya dengan tradisi bersedekah tadi, Rebo Wekasan juga sudah menjadi tradisi yang baik di kalangan masyarakat Muslim tradisionalis. Dan lagi-lagi, oleh para pembid’ah, Rebo Wekasan pun dianggap sebagai bid’ah. Di berbagai grup WA, para pembid’ah ramai menshare tulisan yang memandang negatif hal ini.

Padahal, ini adalah doa, zikir, dan sedekah untuk memohon perlindungan kepada-Nya dari berbagai macam bala, bencana dan petaka di bulan atau hari ini, pada bulan atau hari nahas ini.

Masalahnya kemudian, apakah ada Hari Nahas dalam Islam? Tentu saja ada. Mengapa kaum Muslim tradisionalis menjalani tradisi tolak bala dengan zikir, doa dan sedekah pada hari atau bulan ini, itu karena Hari Nahas itu disebutkan dalam Al-Quran.

Ada dua ayat dalam dua surat berbeda yang menceritakan Hari Nahas. Saya kutipkan terjemahannya di sini.

“Sesungguhnya Kami mengirimkan (menghembuskan) angin yang sangat kencang kepada mereka pada Hari Nahas yang terus menerus.” (QS al-Qamar, 54:19)

Ayat di atas menyebut Satu Hari Nahas yang terus menerus, yang dalam bahasa Arabnya, Fi Yawmi Nahsin Mustamirr. Ini merujuk pada satu hari nahas.

“Maka Kami kirimkan kepada mereka angin kencang pada HARI-HARI NAHAS, agar Kami menjadikan mereka merasakan siksaan yang menghinakan dalam kehidupan dunia. Sedangkan siksaan akhirat lebih menghinakan dan mereka tidak diberi pertolongan.” (QS Fushshilat, 41:16)

Pada ayat kedua, disebutkan HARI-HARI NAHAS, dalam bentuk jamak. Sehingga, hari nahas tidak satu, melainkan beberapa hari. Fii Ayyaam Nahisaat. Beberapa hari itu bisa seminggu, bisa juga sebulan, bisa juga lebih.

Kedua ayat di atas berkisah tentang kau Ad, kaumnya Nabi Hud. Mereka mendustakan dan menentang Nabi Hud. Dan mereka diazab oleh Allah pada hari nahas atau hari-hari nahas (hari sial).

Apakah hari nahas terjadi pada suatu kaum terdahulu saja? Karena sejarah berulang, kemaksiatan juga berulang, maka apa yang disebut hari-hari nahas itu bukan hanya milik suatu generasi masa lalu. Melainkan bisa terjadi pada semua waktu dan generasi. Hingga akhir zaman nanti.

Intinya, berdasarkan kedua ayat itu, hari nahas itu ada. Bahkan hari-hari nahas, bukan hanya satu hari saja. Jadi, kalangan yang menyebut bahwa semua hari adalah baik, mungkin karena lupa atau belum memahami kedua ayat di atas. Sebagaimana Allah telah mengutamakan suatu hari, suatu malam, atau suatu bulan, Dia juga telah menentukan hari-hari nahas.

Masalahnya kemudian, kapan hari-hari nahas itu ada dan terjadi? Nah, orang-orang di berbagai generasi dan budaya bisa saja berbeda dalam menentukan adanya hari-hari nahas. Sebagaimana perbedaan agama bisa membuat adanya perbedaan pula dalam penentuan hari nahas. Maka, begitu pula perbedaan literatur dalam sebuah agama (Islam) bisa menyebabkan perbedaan itu.

Di kalangan Muslim tradisonalis NU, terutama di tanah Sunda, hari nahas itu adalah hari Rabu terakhir pada bulan Shafar, yakni Rebo Wekasan itu. Dan di kalangan tradisionalis Muslim lainnya, hari-hari nahas itu ya sepanjang bulan Shafar. Karena itulah mereka melakukan ritual bersedekah pada bulan ini, sebagai permohonan tolak bala kepada Penguasa hidup dan mati.

Selain itu, tidak selalu berkaitan dengan bulan Shafar, sebagian masyarakat di Nusantara meyakini adanya hari nahas dan hari baik. Mereka memiliki hitungan kapan sebaiknya melakukan atau meninggalkan suatu pekerjaan. Ada hari-hari tertentu di mana mereka tidak mau memulai suatu pekerjaan karena dianggap tidak baik. Dan sebaliknya ada hari-hari tertentu di mana mereka harus atau sebaiknya melakukan suatu pekerjaan.

Setahu saya, banyak (atau mungkin semua) suku (etnis) di Indonesia yang memiliki pemahaman seperti ini. Termasuk suku Jawa dan Sunda.

Misalnya, di kalangan masyarakat Sunda di sebagian daerah –yang masih taat memegang pemahaman ini– mereka tidak mau menanam padi pada bulan tertentu, atau pada saat di langit ada ciri tertentu. Mereka hanya mau mulai menanam padi jika bintang tertentu sudah muncul di langit. Harap hati-hati, jangan buru-buru menyalahkan mereka sebagai klenik, apalagi bid’ah. Apa yang mereka lakukan adalah berdasarkan ilmu pengetahuan empiris berbasis kearifan lokal, yang tidak dimengerti oleh orang-orang modern yang kapitalistik.

Bagi mereka, apa yang terjadi di langit itu memberitahu sesuatu yang ada di bumi. Begitu pun sebaliknya. Ketika bintang itu sudah muncul di langit, maka itu pertanda dimulainya bulan-bulan musim kawin bagi para binatang dan biota sawah. Karena sedang sibuk dalam pesta kawin, maka binatang-binatang sawah itu takkan mengganggu tanaman sawah. Karenanya, jika mereka menanam pada masa ini, maka padi tidak diserang hama, wereng dan sejenisnya. Sehingga padi bisa dipanen dengan hasil yang baik tanpa pestisida yang merusak tanah dan membunuh biota dan binatang sawah.

Ketika para petani memahami sosiologi binatang sawah, maka tanaman mereka takkan diganggu binatang. Sebaliknya, jika mereka tidak memahaminya, sehingga salah memilih waktu tanam, maka tanaman akan rusak dan dirusak.

Mengapa dimunculkan pestisida? Karena untuk membunuh binatang dan biota sawah pengganggu tanaman. Mereka menganggu tanaman karena mereka sedang mencari makanan. Lalu karena mereka dibunuh dengan pestisida, maka akibatnya, ekosistem terganggu, tanah sawah rusak dan tak lagi subur. Untuk membuat tanah kembali subur, berapa biaya yang harus dikeluarkan, dan tanah tetap rusak karena pestisida itu.

Sedangkan mereka yang memahami kesatuan harmonis antara langit dan bumi, mereka bisa menentukan kapan sebaiknya mereka menanam dan kapan tidak. Dan ini tidak hanya tentang pertanian, tetapi juga sektor kehidupan lainnya. Mengapa Allah bersumpah dengan benda-benda langit di banyak ayat-Nya, itu agar orang-orang di bumi bisa mengambil pelajaran darinya.

Karena itulah, apa yang tidak diketahui itu bukan berarti tidak ada. Sesuatu yang tidak dikenali itu bukan berarti sesuatu itu salah atau bid’ah. Seringkali seseorang menyebut amalan seseorang lainnya sebagai bid’ah karena kekurangan dalam membaca literatur, atau kesempitan berpikir, kurang bergaul dengan pengalaman dan ilmu orang-orang lain, dan perasaan diri paling benar.

Ketimbang menyalahkan orang yang belum dimengerti ilmunya, lebih baik belajar secara lebih arif, memperluas bacaan dan cakrawala, belajar serta mengkaji cara pandang orang lain tentang sesuatu. Mungkin banyak yang kita tidak tahu, padahal mereka mengetahuinya, tetapi mereka tidak bisa menjelaskan kepada orang yang merasa diri paling benar dan selalu benar.

Ilmu hanya akan masuk ke dalam hati yang bersiap menerimanya, serta rendah hati dalam memahami dan mengakuinya. Jika seseorang ingin mendapatkan ilmu dan kearifan, ia harus rendah hati dan tidak menghakimi.

Dan rendah hati adalah ciri seorang mukmin..

Bandung, 15 Nopember 2017

Rebo Wekasan, 26 Shafar 1438 H.

Ashoff Murtadha

Leave a Reply

close